ISLAM DAN MANAJEMEN SDM UNTUK KUALITAS KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

CAHAYA FAJAR | ISLAM DAN MANAJEMEN SDM UNTUK KUALITAS KEHIDUPAN YANG LEBIH BAIK

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Setiap individu oleh Allah subhanahu wa ta’ala telah dititipkan berbagai potensi. Bahkan tidak ada satupun manusia yang tidak memiliki potensi sebagai modal dalam menjalani kesuksesan serta mewujudkan berbagai kebutuhan dirinya. Keberhasilan seseorang dalam menjalani hidup bukanlah semata disebabkan adanya potensi tersebut melainkan pada kemampuannya dalam mengelola potensi dan merencanakan waktu untuk mengoptimalkan potensi itu. Kedua hal ini yaitu potensi diri dan manajemen waktu adalah dua hal yang menjadi syarat utama untuk mewujudkan Jalan kesuksesan. Apabila seseorang tidak mampu mengelola kedua hal tersebut maka jurang kegagalan terbuka lebar.

Kegagalan yang dialami oleh beberapa orang bukanlah disebabkan oleh karena dirinya tidak memiliki kemampuan. Sebab setiap orang Allah telah memberikan dan menitipkan potensi sebagai bekal mereka menjalani kehidupan. Ada yang Allah titipkan dengan kemampuan dalam aspek keterampilan fisik sehingga jadilah mereka olah ragawan atau kemampuan fisik lainnya. Ada pula yang Allah titipkan dengan kemampuan akal yang dengannya mereka menjadi terampil dalam berpikir sehingga jadilah mereka pemikir, guru, dosen, juru dakwah, pengusaha, pedagang dsb. Ada pula yang Allah titipkan kemampuan rasa sehingga mereka terampil dalam olah rasa maka jadilah mereka seniman, budayawan dsb.

Berbagai potensi terdebut menjadi modal bagi setiap manusia untuk bisa hidup layak dan sejahtera dan pada setiap kita juga diberi waktu yang sama untuk mengoptimalkan semua potensi diri itu yaitu 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, 12 bulan dalam setahun. Semua itu berlaku adil pada setiap manusia. Dalam batas waktu itulah setiap kita menyusun produktivitas. Sehingga ada yang dalan sehari mampu menyelesaikan 100 produktivitas, ada pula yang 10 produktivitas, ada yang 5 produktivitas, ada pula yang hanya 1 produktifitas bahkan ada yang tidak menghasilkan produktivitas apapun sama sekali.

Semua ini sebenarnya bukanlah sebab persoalan tidak adanya (baca: memiliki) kemampuan ataupun peluang. Sebab setiap kita memiliki peluang yang sama untuk mengembangkan potensi yang dimiliki menuju sukses. Namun perbedaan hasil produktivitas itu lebih disebabkan oleh ketidakmampuan diri seseorang dalam mengelola waktu yang ada. Kegagalan dalam mengelola waktu sering kali disebabkan oleh kekacauan yang ada diri seseorang khususnya dalam membagi waktu yang ada ataupun membagi skala prioritas dalam serangkaian aktivitas hidupnya termasuk pula dalam memanfaatkan setiap peluang kesempatan yang ada.

Sumber penyebab utama seringkali adalah suka menunda waktu dan hal ini termasuk dalam kategori menyepelekan dan mensia-siakan waktu yang ada. Sementara, waktu ibarat anak panah yang lepas dari busurnya dan dia tak akan pernah bisa kembali lagi untuk selamanya. Disinilah persoalannya, kita menganggap seakan waktu bersifat tanpa batas, kapanpun bisa dilakukan. Padahal kesempatan yang hadir dalam sebuah kurun waktu, dia hanya datang sekali pada waktu itu, dan tidak akan hadir lagi dalam waktu yang sama. Bagi kita yang suka menunda waktu mungkin kita terlalu percaya diri (untuk tidak dikatakan sombong) seakan kita merasa akan hidup selamanya. Seakan kita menjamin bahwa nanti, besok, lusa, minggu depan, dan seterusnya kita masih bisa hidup, padahal ajal selalu mengintai diri kita.

Untuk itu kemanpuan mengelola waktu menjadi kata kunci bagi keberhasilan dalam mengelola potensi yang ada. Disinilah makna sumpah Allah swt dibalik atas nama waktu dalam surat al Ashr yang disebutkan bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali orang yang mampu membangun visi kehidupan serta mengoptimalkan potensi yang dimilikinya dengan mewujudkan produktifitas diri (amal shalih).

Tiga syarat dalam menghasilkan produktifitas adalah kemampuannya dalam menetapkan skala prioritas dan mengoptimalkan waktu dengan perencanaan yang matang serta aktifitas yang sungguh-sungguh dan bernilai manfaat. Tingkat produktifitas yang dihasilkan oleh seseorang, menentukan nilai kualitas individu. Inilah agama yang memiliki kepedulian tinggi dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia sebagai modal utama dalam menghasilkan kualitas kehidupan yang terbaik.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 4.08.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com

Masukkan kata pencarian disini