Ikatan Maut

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

Dalam perang kemerdekaan, arek-arek Suroboyo yang tengah menghadapi tentara Sekutudibawah pimpinan Jenderal Mallaby dari Inggris tidak memilki senjata yang memadai. Mereka hanya berbekal senapan panjang rampasan dari tentara Dai Nippon yang benrhasil mereka lucuti. Meskipun demikian, dalam pertempuran 10 November 1945, dibawah komando Bung Tomo yang mengumandangkan pekik jihad Allahu Akbar, mereka maju ke medan laga tanpa mengenal rasa takut

Ternyata para pemuda yang gagah berani itu adalh santri-santri yang sebelum terjun ke dalam pertenpuran lebih dulu memohon restu guru-gurunya. Oleh para kiai, mereka diberi sepotong kain merahyang ditulisi lafal kalimah tauhid, dan diikatkan di kepala mereka. Lafal itulah antara lain yang membuat mereka makin gigih mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan negaranya yang tercinta, Indonesia, dari rongrongan penjajah.

Pengalaman seperti itu sebetulnya sudah pernah terjadi pada zaman Nabi. Ketika itu umat islam sedang terancam oleh tentara musyrikin yang akan meluruk ke Gunubg Uhud. Sebelum memberangkatkan pasukannya ke medan perang, Rasulullah tiba-tiba berseru, “Siapa diantara kalian yang siap menerima pedangku dengan tetap memelihara syarat dan hak-haknya?”

Semua prajurit bersorak gegap gempita. Beberapa orang dari mereka maju ke depan, menyatakan kesanggupannya. Tetapi Rasulullah belum mau menyerahkannya sampai akhirnya seorang anak muda berwajah bening maju ke muka dan berkata, “Saya mampu menerima amanat itu, dan berjanji akan menjaga hak serta syarat-syaratnya.”

Rasulullah sudah mendengar kegagahberanian pemuda yang bernama Abu Dujanah itu. Ia selalu memakai selempang kain merah di kepalanya yang berambut gondrong, sampai di medan pertempuran ia dijuluki Uqdatul Maut atau “si ikatan maut” . Kisah kepahlawanannya antara lain bisa dibaca dalam buku Islam: Pergolakan dan pembangunan, hasil karya Abdurrahman Arroisi.

Dengan lantang Abu Dujanah lantas bertanya, “Katakan wahai Rasulullah, apakah hak dan syarat pedang itu?”

Nabi segera menjawab, “Hak pedang itu adalah harus kamu gunakan untuk menghancurkan musuh, kalau perlu sampai bengkok-bengkok. Syaratnya, tidak boleh untuk membunuh perempuan, orang tua, atau anak-anak. Juga haram dipakai untuk menganiaya para pendeta dan rahib yang taat menjalani ibadah agamanya.”

“Saya sanggup, ya Rasulullah,” ujar Abu Dujanah seraya mengambil pedang itu.

Kemudian, setelah diikatkannya kain merah di kepalanya, ia pun menyandang pedang itu dengan bangga. Ia bejalan ke tempat pasukannya dengan langkah-langkah panjang dan satu-satu, seolah-olah sedang memamerkan hadiah yang sangat berharga itu. Terkesan di mata yang memandangnya, seakan-akan Abu Dujanah telah berubah menjadi pemuda yang sombong dan jumawa.

Melihat perubahan sikap itu, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya cara berjalan semacam itu sangat  di benci oleh Allah kecuali dalam keadaan suasana ketakutan seperti yang tengah mencekam saat ini.”

Pertempuran pun segera berkecamuk. Pasukan kaum kafir dibawah komando panglima tertingginya, Abu Sufyan, menyerbu dengan menggebu-gebu. Tentara berkuda dibawah pimpinan Ikrimah bin Abu Jahal dan Khalid bin Walid menyerang dari sayap kiri dan kanan. Terdengar berita, Hamzah telah gugur di medan laga. Ia dihabisi oleh tombak yang dilemparkan Wahsyi, budak Abu Sufyan.

Abu Dujanah mengamuk bagaikan banteng ketaton. Pedang pemberian Rasulullah berkelebat-kelebat membantai kaum musyrikin. Sampai barangkali malaikat maut berpesta pora dengan panen nyawa. Nmaun, kabar yang menyedihkan sempat di dengar Abu Dujanah. Konon Rasulullah terluka oleh sambaran anak panah lawan. Hal ini membuat dadanya kian bergolak. Makin banyak korban yang jatuh di tangannya.

Ia terus menyibak kerumunan tentara musuh, menyeruak di tengah mereka, untuk menunaikan janjinya, menghancurleburkan pasukan lawan sampai melengkung pedangnya, kalau perlu. Tidak ada seorang pun dari pendekar kaum kafir yang berani mendekat. Sebab apabila seseorang berhampiran dengan Abu Dujanah, berarti kematina segera menjemputnya.

Sekonyong-konyong ia melihat seorang prajurit musuh sedang mengamuk membabi-buta. Serdadu menyerang kian-kemari dengan garang dan telengas. Banyak tentara Islam yang tertabas lehernya, atau terkutung tangannya.

Abu Dujanah cepat-cepat menghambur ke tempat itu. Dilukarnya ikat kepalanya yang berwarna merah darah, dan diacung-acungkannya agar musuh itu ketakutan, sambil mulutnya memekikkan teriakan perang. Sesudah makin dekat, alangkah keder dan bingungnya Abu Dujanah. Ternyata yang mengamuk itu seorang wanita quraisy, Hindun binti Utbah.

Sesuai dengan janjinya, Abu Dujanah membatalkan niatnya. Ia berseru kepada Hindun, “Sebetulnya aku tidak sayang kepada nyawamu meskipun kau seorang perempuan. Tetapi aku mematuhi janjiku dan menghormati pedang Rasulullah yang kupegang ini. Sebab, salah satu syaratnya, pedang ini tidak bolehdigunakn untuk membunuh atau melukai seorang perempuan walaupun perempuan itu seorang hina dina bernama Hindun binti Utbah.”

Tetapi Hindun tidak peduli akan seruan Abu Dujanah. Apalagi mengucapkan terima kasih karena jiwanya diselamatkan. Perempuan ganas itu bahkan memburu seorang prajurit Muslim yang tergolek di tanah dalam keadaan luka parah. Berdasarkan hukum perang, siapapun yang tidak berdaya di medan laga, tidak boleh dibunuh. Namun, Hindun begitu geram dan dendamnya kepada Islamsehingga ia sudah mengacungkan lembingnya untuk menghabisi nyawa prajurit Muslim tadi.

Abu Dujanah bergerak lebih cepat. Bagaikan kilat menyambar ia melompat dan merampas lembing yang dipegang Hindun, lalu dipakainya untuk memukul tengkuk Hindun dengan gagangnya. Perempuan itu terkapar di tanah. Lukanya tidak terlalu parah, tetapi cukup untuk membuatnya tidak berdaya dalam melanjutkan pertempuran.

Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi

Masukkan kata pencarian disini