
Meninggalnya Abuya sebenarnya sudah terjadi ketika beliau masih di rumah bersama kitab-kitab beliau, santri, dan dalam keadan berpuasa karena beliau sudah niat puasa.
SURABAYA, PERSYADHA – Kegiatan Ngaji Poso Hari Sabtu ketiga di bulan Romadhon, sebagaimana tradisi yang sudah berjalan, selalu diisi dengan Haul Abuya. Di Romadhon kali ini, Sabtu ketiga jatuh pada tanggal 7 Maret 2026. Haul Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki Al-Hasani pun diselenggarakan di Surabaya, tepatnya bertempat di Gedung Serba Guna Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ketintang, Gayungan, Surabaya.
Momen Haul selalu menjadi momen spesial karena mengundang alumni-alumni Abuya yang berada di sekitar Surabaya. Pembicara kali ini juga merupakan santri Abuya yang berasal dari Gresik. Beliau K.H. Abdul Majid, santri yang menyaksikan langsung hari-hari terakhir sebelum Abuya wafat pada hari Jumat, 29 Oktober 2004.

Aktifitas Abuya
Beliau mengisahkan jika Abuya wafat dalam keadaan yang sehat meskipun sebelumnya sempat sakit. Hari-hari terakhir Abuya dijalankan seperti biasa, membersamai santri dan menerima tamu. Senin, 4 hari sebelum Abuya wafat, Abuya sempat menghadiri undangan sahur bersama salah seorang mantan menteri perminyakan Arab Saudi. Hari Selasa, beliau juga masih menemui tamu dari Iran. Ini bukti bahwa Abuya membuka pintu selebar-lebarnya bagi siapapun meski memiliki pandangan yang berbeda.
Rabu malam, Abuya juga beraktifitas seperti biasa, buka puasa, sholat maghrib, sholat isya dan tarawih bersama santri-santri beliau. Baru pada Kamis dinihari, Abuya tiba-tiba dibawa keluar dari kamar menggunakan kursi roda dan dibawa menuju rumah sakit. Paginya, Abuya masih tetap puasa dan menurut keterangan K.H. Abdul Majid yang turut menemani Abuya di rumah sakit, wajah Abuya masih terlihat segar. Tidak ada tanda-tanda rasa sakit dari tubuhnya. Pada Jumat dinihari, sekitar pukul satu, Abuya diizinkan pulang dari rumah sakit. Santri-santri pun menawarkan agar beliau menggunakan kursi roda, namun Abuya menolak dan memilih jalan kaki menuju lift dan tempar parkir mobil.

Saat-saat terakhir Abuya
Setelah sampai di rumah, Abuya menuju ke ghurfah dan dikelilingi keluarga beliau. K.H. Abdul Majid yang sudah seharian menemani Abuya memilih istirahat. Sementara itu, setelah beberapa lama, Abuya meminta untuk istirahat sebentar ditemani santri beliau yang bernama Bilal sambil menunggu pesanan sahur yang masih disiapkan santri beliau yang lain.
Menurut keterangan K.H. Abdul Majid yang didapatkan dari Bilal, setelah Abuya berbaring, Abuya mengalami naza’ sehingga membuat Bilal memanggil keluarga Abuya. Keluarga pun memutuskan membawa Abuya yang sudah tidak sadar ke rumah sakit. Setelah melalui pemeriksaan, Abuya dinyatakan telah meninggal oleh dokter yang menangani. Meninggalnya Abuya sebenarnya sudah terjadi ketika beliau masih di rumah bersama kitab-kitab beliau, santri, dan dalam keadan berpuasa karena beliau sudah niat puasa. Hal itu sesuai keinginan Abuya yang pernah disampaikan ke para santri.
Guru mulia itu pun wafat meninggalkan warisan lautan ilmu yang amat luas. Kesahajaannya tidak hanya diakui santri-santri beliau, namun juga oleh ulama-ulama dari berbagai penjuru dunia, bahkan dari yang bersebrangan pemikiran dengan beliau. Kini, tonggak dakwah diteruskan oleh putra beliau, Abuya Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Maliki dan warisan ilmu beliau diemban oleh seluruh santri yang pernah menimba ilmu darinya.
Setelah mendengarkan keterangan dari K.H. Abdul Majid, Haul pun dilanjutkan dengan buka bersama dan sholat jamak maghrib dan isya. Doa Abi menutup acara Haul setelah pembacaaan Yasin dan Tahlil untuk Abuya. Jamaah lalu berbondong-bondong bermushofahah dengan Abi dan pulang ke rumah masing-masing.
Kontributor: TI Haryadi






