Ribath Al Hadi meluluskan 22 santri sebagai hafidzoh Qur’an dengan 7 diantaranya telah menghafal 30 juz bilghoib (tanpa melihat mushaf).
MALANG, PERSYADHA – Dari dataran tinggi Desa Pandesari, Pujon, Malang, Ribath Tahfidz Al-Qur’an Al Hadi Nurul Haromain 66 atau Ribath Al Hadi selenggarakan Haflah Nurin Mubin yang ke-3 pada Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini merupakan uji publik dari para santri Ribath Al Hadi yang telah menyelesaikan hafalan Al-Qurannya. Santri-santri yang diasuh Ustadz Khoirul Huda ini mengikuti pendidikan tahfidz selama tiga tahun sebelum akhirnya mengikuti Haflah Nurin Mubin.
Di dalam kegiatan ini, orang tua para santri diundang hadir dan bahkan diberi kesempatan untuk menguji putri mereka sendiri. Ribath Al Huda memang diperuntukkan bagi santri putri. Khususnya, mereka yang telah lulus sekolah dasar.

Dihadiri Abi Ihya
Turut hadir pada penyelenggaraan ketiga ini, Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin, Al-Aminul Aam Yayasan Persyada Al Haromain. Selain Abi, K.H. Syihabbuddin Syifa dan jajaran pengurus Ma’had Nurul Haromain, serta Pengurus Yayasan Persyada Al Haromain yang diwakili Sekretaris Umum, M. Muflich juga hadir. Kegiatan ini disiarkan secara langsung di Channel YouTube Enha Tv.
Ribath Al Hadi meluluskan 22 santri sebagai hafidzoh Qur’an dengan 7 diantaranya telah menghafal 30 juz bilghoib (tanpa melihat mushaf). Santri-santri tersebut merupakan penghafal Al-Qur’an yang diharapkan menjadi generasi penjaga warisan Nabi. Selain menghafal Al-Qur’an, para santri juga mempelajari hukum-hukum tajwid. Tajwid merupakan alat untuk belajar membaca Al-Qur’an.

Menghafal Kitab
Meski difokuskan pada penghafalan Al-Qur’an, para santri juga mempelajari dan menghafal Kitab Jalau Al-Afkar, kitab hadits arbain karya Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin. Ada pula Buku Kaifa Tusholli, buku berisi panduan sholat menurut riwayat Nabi yang juga disusun oleh Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin dan harus dihafal para santri.
Di Ribath Al Hadi, para santri tahfidz didaftarkan sebagai siswa SMP Plus Fityani, Pujon, Malang. Hal ini untuk membekali para santri akan ilmu-ilmu umum. Sehingga, selain fokus pada Al-Qur’an, santri juga tetap mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan umum.
Kontributor: TI Haryadi






