Hadiri Muskernas Lazis, NM Tekankan Pentingnya Kualitas Pelayanan
“Penanganan masalah harus dilakukan secara keorganisasian.”

MALANG, PERSYADHA – Jalan yang basah dan tetesan air dari dedaunan masih terlihat pasca hujan di sepanjang jalan dari Kandangan, Kediri menuju Kecamatan Ngantang, Malang pada Senin malam (25/11/2024). Dari Surabaya, mobil rombongan Yayasan Persyada Al Haromain datang ke Pesantren Al-Urwatul Wutsqo di Desa Sumberagung, Ngantang, Malang dengan Ketua Yayasan/Naqib Markazi (NM) Dr. H. Soehardjoepri, M.Si. di dalamnya. Kunjungan tersebut menghadiri undangan Musyawarah Kerja Nasional (Muskernas) Lazis Al-Haromain di lingkungan Pondok.
Meski sudah jam sembilan malam, peserta Muskernas belum juga reda semangatnya untuk berdiskusi sembari menunggu kedatangan NM. Susu sapi hangat dan polo pendem setia menemani hangatnya diskusi yang diikuti seluruh pegawai Lazis Al-Haromain. Jarak tidak menjadi penghalang mereka untuk hadir. Para ketua cabang dari berbagai kota di Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, hingga Jakarta terlihat berada di tengah-tengah peserta diskusi.
Peningkatan Pelayanan
NM sendiri memberikan motivasi kepada para pegawai Lazis pasca selesai diskusi. Mengawali motivasinya, NM menekankan Lazis untuk meningkatkan pelayanan terhadap muzaki dan donatur. Pelayanan harus memberikan kesan yang baik kepada customer. “Kita pasti senang jika disambut dengan baik kan?”, tanya beliau ke peserta Muskernas.

Berikutnya, NM meminta agar Manajemen Lazis peka terhadap skil dan karakter pegawai sehingga tepat menentukan posisi. Selain itu, Lazis juga harus meningkatkan skil pegawai dan mengasahnya terus menerus. “Pisau harga sepuluh juta tapi tidak pernah diasah pasti akan kethul (tumpul), tapi meskipun pisau seharga seratus ribu kalau diasah terus, (ia pasti tajam)”.
Saling membantu satu sama lain
Pesan ketiga, NM mengingatkan agar para pegawai saling membantu satu sama lain. Tidak boleh ada yang menggembosi dan menggibah di belakang. “Gibah bukan (ciri sebuah) tim, ngrasani bukan (ciri sebuah) tim, tim itu (cirinya) musyawarah”, tegas beliau. Penanganan masalah harus dilakukan secara keorganisasian. “Gagal boleh, tapi harus evaluasi dan punya semangat menang”, tambah beliau.
Motivasi malam itu ditutup dengan gema takbir yang dipimpin NM sebagaimana ciri khasnya. Peserta pun membereskan lokasi acara dan bersiap menuju tempat istirahat.
Kontributor: TI Haryadi






