Malam semakin larut dan lelang. Gadis remaja berpakaian compang-camping itu baru saja memerah susu kambingnya untuk dijual besok pagi. Di luar rumahnya yang rombeng angin malam bertiup kencang. Tidak seorangpun berani keluar ketika keadaan cuaca seperti itu. Sebab sewaktu-waktu angin gurun bisa mendatangkan beliung pasir.
Namun, dua orang lelaki sedang melangkah sembunyi-sembunyi dari satu rumah ke rumah lainya. Dan langkah mereka terhenti ketika berada di dekat rumah gadis penjual susu tadi lantaran mereka mendengar suara perempuan tua sedang berkata kepada putrinya:
“Sebelum tidur, jangan lupa kaulakukan perintahku, ya ?”
“Perintah apa, Ibu?” tanya si gadis.
“Hari ini perahan susu kambing kita tidak sebanyak biasanya. Jadi kau campur saja dengan air. Pembeli tidak akan bisa membedakannya.”
Laki-laki yang mengendap-enap di luar itu lalu berbisik, “Dengarkan, Aslam” bagaimana jawaban anaknya.”
“Saya akan mendengarkan, wahai Amirul Mukminin, ”jawab Aslam kepad orang itu, yang ternyata adalah Umar bun Khattab. Mereka brdua, Umar dan pembantu setianya, Aslam, sering keluar malam-malam untuk menyelidiki bagaimana kehidupan rakyat, apa jasa kebutuhan mereka, dan bagaimana kesan mereka para punggawa ataupun abdi negara yang membantu Khalifah menyelesaikan tugas mulianya. “Ah, jangan Ibu. Bukankah Khalifah telah menyampaikan titahnya?’.
“Tintah apa, anakku?”
“Khalifah melarang pada pedagang memalsukan barang-barang jualannya. Lebih baik harganya dinaikan daripada mutunya dicurangi.”
“Ah, sudahlah, turuti saja anjuranku Kan Khalifah tak kan mengetahui urusan ini,” bantah sang ibu. “Kaulihatlah. Tidak seorang pun prajurit Khalifah berada di sekitar tempat ini. Khalifah tak kan tahu.”
“Tetapi, Ibu, bukankah kita telah mengangkatnya sebagai amirul-mukminin, pemimpin orang-orang beriman? Berarti semua perintahnya yang sejalan dengan perintah agama harus kita patuhi, baik ia tahu ataupun tidak tahu. Tanggung jawab kita bukan kepada Khalifah, melainkan kepada Allah.”
Umar bin Khatthab sangat terharu mendengar ucapan putri perempuan tua itu. Seraya berabjak dari situ ia berbisik lagi, “Aslam, tandailah rumah ini. Besok siang engkau lacak kembali, siapa gerangan meraka yang saling berdebat itu.”
“Insya Allah, akan saya laksanakan,” sahut Aslam, tangan kanan Khlifah Umar bin Khattab sepanjang masa pemerintahannya.
Seperti yang telah disanggupi, esoknya Aslam segera berangkat menuju kampung yang tadi malam mereka kunjungi dan memperhatikan rumah perempuan tua serta anaknya tersebut.
Sejak dini hari Aslam sudah berada di kampung itu dan mengawasi rumah gubuk yang hampir roboh dikelilingi belukar meranggas. Penghuninya cuma dua orang, ibu tua dan gadisnya yang yang meningkat remaja. Tidak ada orang lelaki di rumah mereka, sebab Ayah si gadis itu sudah meninggal dunia. Maka setelah jelas keadaan mereka, Aslam lantas pulang dan menceritakan hal itu kepada Umar bin Khattab.
Khalifah makin kagum. Bagi kaum beriman rupanya kemiskinan tidak berhasil meruntuhkan kejujuran. Sementara kebalikanya, di tengah kekayaan justru ucap kali kejujuran merupakan benda aneh yang wajib dihindari.
“Aslam, hadiah apakah yang pantas untuk diberikan kepada gadis yang saleh itu?” tanya Umar.
“Barang kali pundi-pundi emas?” jawab Aslam.
“Ah, itu terlalu kecil. Kejujuran sebenarnya tidak dapat dihitung dengan uang, bahkan tidak seimbang dengan hadiah apa pun.”
“Jadi, apa yang akan kita lakukan?” tanya Aslam kebingungan.
“Begini. Aku sudah lama ingi mencari calon istri untuk anakku, Ashim. Bagaimana kalau gadis itu kulamar menjadi menantuku?” ucap Umar berbinar-binar.
“Wah , tepat sekali apabila seorang kepala negara mempunyai menantu gadis jelata yang jujur.”
Alhamdulilah, tatkala niat itu dikemukakan oleh Umar kepada anaknya, Ashim, pemuda itu tampa membantah sedikit pun langsung mengangguk, ia hanya menjawab, “Bagi saya, Ayah, perkawinan adalah ibadah, bukan bukan sekedar perpanduan antara lelaki dan perempuan menjadi sepasang suami-istri.”
“Ya, ya, memang begitulah ajaran agama kita, anakku,” ujar Umar bin Khattab mengarisbawahi. “Perkawinan adalah ibadah yang amat suci. Dari luar kelihatannya menyenangkan belaka, namun di dalamnya sarat dengan perjuangan mengalahkan hawa nafsu agar rumah tangga tetap tentram dan sejahtera. Karena itulah aku memilih gadis kampung itu untuk menjadi pasanganmu karena ia amat jujur dan selalu takut pada Allah di waktu terang dan di waktu gelap.”
Berungtunglah mereka semua, Umar, Ashim, dan penghuni rumah kusam yang rombeng itu. Sebab bagi mereka, terbukti dasar cinta kepada Allah senantiasa menjadi tonggak atas semua tingkah laku dan tindak-tanduk sepanjang hidup. Dengan mengawini gadis jelata, Ashim dapat menjalin rumah tangga yang tidak saja bersinar bagi keluarganya, tetapi juga menjadi teladan bagi segenap pasangan suami-istri yang mendambakan sakinah, kejejahteraan, lahir dan batin.
Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.







