FITRAH SOLUSIONAL ALQURAN
oleh : Akhmad Muwafik Saleh
Alquran hadir kemuka bumi melalui dua cara, pertama diturunkan secara inzal (utuh sekaligus) dan kedua, diturunkan secara tanzil (bertahap). Penurunan alquran secara inzal berarti alquran diturunkan oleh Allah secara sekaligus dari Lohk mahfudz menuju langit bumi. Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, mengatakan, “Alquran diturunkan pada malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia sekaligus, lalu Dia menurunkan secara berangsur-angsur.” (HR at-Thabrani)
Turunnya alquran secara inzal ini terjadi pada malam lailatul qadar. Hal ini sebagaimana terungkap dalam Firman Allah swt Surat Al Qadar.
Cara penurunan kedua dari alquran adalah secara tanzil yaitu diturunkan secara bertahap, berangsur–angsur sesuai dengan kebutuhan, dari langit bumi kepada Rasulullah saw melalui perantara malaikat jibril selama lebih kurang 23 tahun. Maksud penurunan secara bertahap ini adalah untuk memberikan solusi atas setiap persoalan yang sedang dihadapi oleh Nabi saw sehingga dengannya Nabi saw serta para sahabat pada saat ini akan semakin mudah memahami dan meyakini atas kebenaran alquran ini. Sebagaimana firman Allah, “Berkatalah orang-orang kafir, ‘Mengapa Alquran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?’ Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (teratur dan benar).” (QS al-Furqan : 32).
Penurunan secara tanzil ini bermula dari wahyu pertama yang turun pada Nabi Muhammad saat beliau sedang beruzlah di gua hiro bertepatan pada tanggal 17 Ramadhan. Ayat pertama yang turun berisi tentang perintah membaca “iqra”. Sebuah perintah yang menggentarkan setiap sanubari serta menginspirasi untuk menghadirkan sebuah perabadan baru yang dilandasi oleh perpaduan nilai kecerdasan rasional dan spiritualitas. Allah swt adalah Dzat yang Maha Tahu bahwa Nabi Muhammad adalah seorang Nabi yang ummiy (tidak bisa baca tulis), namun diperintahkan untuk membaca. Maka hal ini seakan memberikan sebuah kesan bahwa ada tanggungjawab besar dipundak Nabi saw untuk membangun sebuah realitas masyarakat cerdas yang berperadaban melalui budaya baca sebagai landasan utama bangunan ilmu.
Alquran kemudian hadir membersamai Rasulullah saw sebagai sebuah jawaban (solusi) atas persoalan yang dihadapi selama berinteraksi membina ummat manusia pada saat itu, sebagai teks dialogis yang menjelaskan dengan sangat sempurna dan mengesankan dalam menjawab tantangan realitas. Berbagai persoalan yang dihadapi dijawab dengan tuntas oleh Rasulullah saw melalui bimbingan wahyu dari Allah saw.
Sebagaimana pada masa awal penyebaran Islam di Mekkah, kaum Quraisy yang menentang Rasulullah SAW tak henti-hentinya mencari cara untuk menghentikan ancaman Islam terhadap kepercayaan nenek moyang mereka. Pada salah satu upaya tersebut mereka yang terdiri dari Walid Ibnul Mughirah dan Al-‘Ash bin Wa’il, Al-Aswad Ibnul Muththalib dan Umayyah bin Khalaf bertemu dengan Rasulullah, berusaha mengajukan proposal kompromi kepada Rasulullah SAW di mana mereka menawarkan: jika Rasulullah mau memuja Tuhan mereka, maka merekapun akan memuja Tuhan sebagaimana konsep Islam. Kemudian untuk menjawab persoalan ini turunlah wahyu Allah swt sebagaimana dalam surat al Kafiruun 1-6.
Demikian pula, pada suatu ketika Jibril mendatangi Nabi saw.. Lalu Jibril meminta izin untuk masuk ke rumah beliau dan beliau mengizinkannya Namun Jibril tidak juga masuk. Maka, Rasulullah segera memakai jubah dan keluar rumah. Di luar rumah, beliau melihat Jibril sedang berdiri. Lalu beliau berkata kepadanya ‘Engkau telah saya izinkan untuk masuk rumah kami.’ Jibril menjawab ‘Benar, akan tetapi kami tidak masuk ke rumah yang di dalamnya ada gambar dan anjing.’ Lalu Rasulullah dan anggota keluarga beliau melihat di dalam rumah terdapat anak anjing. Maka beliau memerintahkan Abu Rafi’ agar membunuh setiap anjing yang ada di Madinah. Kemudian orang-Orang mendatangi beliau dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apa yang dihalalkan untuk kamu dari binatang yang engkau perintahkan untuk dibunuh?’ Lalu turunlah firman Allah surat al Maidah ayat 4.
Contoh diatas menggambarkan betapa alquran hadir sebagai sebuah jawaban dialogis antara Allah swt melalui Nabi Muhammad al amiin dalam menyelesaikan berbagai persoalan manusia. Patutlah dipahami bahwa persoalan manusia itu akan selalu berulang, sedemikian pula dengan sejarah yang akan terus berulang, sementara yang berubah hanyalah pada subjek pelaku dan lokusnya saja. Sedangkan konten peristiwa dan masalah akan terus berulang sepanjang masa. Sehingga disinilah alquran hadir semenjak awal turunnya telah membawa fitrah solusi bagi ummat manusia. Apapun persoalan yang sedang dihadapi oleh manusia sebenarnya telah terjawab dengan tuntas dalam alquran melalui keteladanan Rasulullah serta penjelasan mendalam dari para ulama.
Alquran adalah mukjizat terbesar dan teragung yang Allah swt berikan kepada Nabi Muhammad sebagai Nabi penutup dan akhir zaman. Sehingga alquran pun akan terus korelatif dengan perkembangan zaman dan akan selalu membersamai manusia setiap masa. Hikmah Alquran diturunkan secara bertahap membersamai setiap peristiwa interaksi manusia menjadikan alquran sangat aplikatif dan membumi (down earth) serta dekat dengan problematika kemanusiaan. Sehingga apapun persoalan yang dihadapi manusia sepanjang masa hingga hari kiamat baik dalam realitas hubungan individu, keluarga, sosial, budaya, ekonomi, politik, sains dan ilmu pengetahuan sebenarnya telah terjawab dengan sangat jelas dalam alquran baik secara implisit maupun eksplisit dalam teks teks alquran. Tentu menjadi tugas kita untuk terus dapat menemukan kemukjizatan alquran melalui proses pengkajian dan perenungan mendalam tentang bagaimana alquran menjawab setiap tantangan zamannya. Karena memang sejatinya alquran hadir sebagai solusi bagi kehidupan ummat manusia. Mari berselancar di tengah samudera alquran dengan berupaya menemukan kemilau mutiaranya untuk dapat menghiasi kehidupan agar tampak lebih indah dalam naungan rahmat Allah swt.
Wallahu a’lam
—————————-
*Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Tlogomas Malang ; Dosen FISIP UB, Sekretaris KDK MUI Propinsi Jawa Timur, Motivator Nasional Bidang Komunikasi Pelayanan Publik, Penulis 16 Buku Best Seller







