CAHAYA FAJAR | DIMENSI TANGIBLE DALAM PELAYANAN, SUATU PERSPEKTIF PROFETIK

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Perspektif profetik sangat menganjurkan pada setiap orang untuk memuliakan tamu sebagai bagian dari perwujudan iman. Artinya memuliakan tamu berhubungan dengan persoalan keimanan. Sebagaimana dijelaskan dalam hadist di bab sebelumnya. Bentuk tindakan memuliakan tamu tentu amatlah banyak, seperti menyediakan makanan dan minuman, memberikan tempat yang terbaik hingga berpenampilan yang baik sebagai bentuk pemuliaan.

Berpenampilan terbaik adalah bentuk kesediaan dan rasa bahagia atas kehadiran orang lain. Rasa bahagia adalah tanda syukur yang harus ditampilkan oleh orang yang mendapatkan nikmat. Sebagaimana sabda Nabi:

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” (QS. Adh Dhuha: 11).

Dalam perspektif profetik memahami bahwa tamu membawa nikmat karunia Allah swt sehingga sudah selayaknya seseorang itu bersyukur dan berbahagia. Tentu bentuk syukur atas nikmat ini adalah dengan memuliakannya. Dan termasuk tindakan memuliakan tamu adalah berpakaian yang baik. Sebagaimana hal demikian juga diperintahkan oleh Allah melalui keumuman perintah:

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf, Ayat 31)

Berpenampilan indah dimaksudkan sebagai upaya untuk bersyukur pada Allah swt atas segala karunia nikmat yang diberikanNya, sebab Allah senang manakala nikmat yang diberikanNya mampu membekas dalam diri seseorang. “Jejak nikmat” bisa dalam bentuk penampilan yang baik, rapih, bersih, enak dipandang, tidak lusuh dan kotor, sehingga enak dan nyaman disaat berinteraksi dengan orang lain. Sebagaimana dikatakan dalam sabda Nabi :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الزَّعْفَرَانِيُّ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ .قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad Az Za’farani telah menceritakan kepada kami ‘Affan bin Muslim telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari ‘Amru bin Syu’aib dari Ayahnya dari Kakeknya ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah senang bila melihat bekas nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-NYa.” (HR. Tirmidzi no. 2744)

Sebuah inspirasi dan pelajaran berharga dalam sebuah praktek komunikasi pelayanan publik bahwa haruslah memperhatikan segala hal yang bersifat tangible (tampak). Penampilan yang tampak dalam sebuah pelayanan dapat berupa pakaian dari para petugas layanan, desain gedung baik interior maupun eksterior, warna gedung, penataan ruang pelayanan. Namun jika pelayanan bersifat online tentu bentuknya adalah desain web, display menu, icon menarik yang dapat membuat publik penerima layanan merasa nyaman, at home dan terpuaskan rasa visualisasinya.

Desain visual atas tempat pelayanan akan memberikan pengaruh persepsi atas publik terhadap lembaga, setidaknya akan memberikan kesan profesional serta mampu meningkatkan moral dan rasa percaya diri publik disaat berinteraksi dengan lembaga layanan tersebut. Artinya penampilan fisik dapat membangun persepsi positif atas lembaga. Akumulasi persepsi inilah yang akan membentuk citra (image) atas lembaga. Dimensi tangible memberikan dampak bagi nilai suatu kualitas pelayanan.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 1.03.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com