“Amal sholeh yang dikerjakan seorang hamba tentu telah memiliki barokah tersendiri. Namun, tidak akan menjadi sholeh tanpa keterhubungan dengan tujuh cahaya.”
SURABAYA, PERSYADHA – Keberkahan adalah anugerah Alloh yang tidak bisa dukur dengan nilai materi. Ia diukur berdasarkan pengaruh dan dampak yang dihasilkan serta manfaat yang dirasakan secara berkesinambungan. Abi K.H. M. Ihya Ulumiddin dalam momen Taushiyah Syahriyah Bulan Juli 2026 yang diselenggarakan di Sentra Dakwah Al Haromain, Ketintang, Gayungan, Surabaya pada Ahad (19/7/2026) mengambil istilah Al-Mubarokat pada rangakaian doa tahiyat sholat.
اَلتَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ِللهِ
“Segala kehormatan, keberkahan, rahmat, dan kebaikan adalah milik Allah.”
Al-mubarokat adalah ibadah-ibadah yang bertabur keberkahan. Ciri keberkahan adalah didapatkannya manfaat tanpa sebab yang jelas secara lahiriyah. Barokah sendiri menurut penjelasan Abi, murni berasal dari tindakan Alloh Sang Pemilik Sebab. Ia merupakan buah dari iman, amal sholeh, dan ketakwaan yang dilakukan hamba-Nya. Kepercayaan terhadap ada tidaknya barokah juga menjadi pembeda kualitas iman seseorang. Ia yang mengimani barokah akan diberi kemampuan melakukan akselerasi tingkat keimanan karena kuatnya iman pada Sang Pemilik Sebab. Sedangkan, bagi orang yang menolak mengimani barokah, maka keimanannya sangat bergantung pada batas-batas sebab (sarana) dan batas-batas logika manusia.
Lihat juga: Taushiyah Syahriyah Bulan Juli 2026
Barokah tidak sekadar diraih secara pribadi. Ia juga hasil dari bagaimana seorang hamba dapat menghubungkan dirinya kepada Alloh melalui. Sebagaimana dalam doa tahiyyat,
السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِىُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
“Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya (tetap tercurahkan) atas mu, wahai Nabi (Muhammad). Semoga keselamatan (tetap terlimpahkan) atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh.”

Tujuh kelompok yang wajib dicintai
Ada peran pihak-pihak yang harus dakui dan diimani sebagai penghantar seorang hamba mengenal Alloh. Tidak sekadar pengakuan, tapi perlu cinta didalamnya. Cinta ini ditujukan pada tujuh golongan sebagai berikut.
Alloh subhabahu wataala
Alloh tentu adalah yagn pertama wajib dicintai. Cara untuk mencintai Alloh yakni dengan senantiasa berdzikir (Selalu mengingat) kepada-Nya. Dengan begitu, seorang hamba akan mendapatkan barokah berupa anugerah dan rohmat dari-Nya sebagaiman yang dijanjikan dalam Q.S. Yusuf ayat 58.
Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam
Nabi Muhammad adalah sebab manusia mendapatkan barokah hidayah. Tanpa Nabi tidak akan manusia mengenal Alloh. Maka mencintai Nabi juga menjadi wajib. Setelah Alloh, barokah yang terbesar tentunya didapat dari mencintai Nabi Muhammad shollallohu alaihi wasallam.
Sahabat Nabi rodhiyallohu ‘anhum
Siapa yang menerima wahyu pertama kali setelah disampaikan Nabi Muhammad? Para sahabatlah jawabannya. Mereka menerima dan menyebarkan hingga wahyu tersiar ke seluruh dunia. Dengan mencintai mereka, seorang hamba akan mendapat barokah al-wahyu. Wahyu adalah setinggi-tinggi pengetahuan dan kebijaksanaan. Kedudukannya di atas puncak ilmu.
Ahlulbait
Ahlul bait adalah sedekat-dekatnya manusia kepada Nabi dari sisi nasab dzahir. Dimulai dari Ahlulkisa (أَهْلُ الْكِسَاء) yakni lima orang yang diselimuti Nabi saat berdoa memohon penyucian yakni Nabi Muhammad sendiri, Ali bin Abi Tholib, Fathimah Azzahro, Hasan, dan Husein. Selanjutnya ada barisan istri-istri Nabi dengan Sayyidah Khodijah yang paling utama. Beliaulah yang menyelimuti Nabi ketika pertama mendapatkan wahyu dan beliaulah yang mengorbankan seluruh hartanya untuk dakwah Nabi. Nabi menghargai jasanya bahkan meski Sayyidah Khodijah telah wafat, yakni dengan memuliakan kerabat dan sahabatnya. Ummahat mukminin memiliki tiga barokah, yakni shuhbah (sebagai sahabat), baitunnubuwwah (rumah kenabian), dan posisi seabgai ummahat al-mukminin. Ahlulbait berikutnya adalah keturunan-keturunan dari Ahlulkisa dan istri-istri Nabi. Dengan cinta pada ahlulbait, maka akan didapat barokah kesucian (al-thoharoh).

Al-ulama al-amilin
Ulama adalah pewaris para Nabi. Tanpa mereka, seorang hamba tidak akan mengenal Nabinya. Mereka menjadi pewaris ilmu dan tauladan Nabi. Cinta kepada ulama akan menjadi pengantar untuk mendapatkan barokah wirotsah, yakni warisan kenabian.
وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
“dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.”
Para wali yang sholeh
Para wali adalah orang-orang yang mempunyai kedudukan khusus di sisi Alloh. Ketika menyebut para wali, maka akan diraih barokah al-bisyaroh, yakni kabar gembira berupa surga.
Kedua orang tua
Alloh menyejajarkan kedua orang tua dengan-Nya dalam urusan syukur yang menandakan ketinggian derajat orang tua. Kepada kedua orang tuanya seorang hamba wajib mencintai agar didapakan barokah al-birr (bakti).
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,”
Amal sholeh yang dikerjakan seorang hamba tentu telah memiliki barokah tersendiri. Namun, tidak akan menjadi sholeh tanpa keterhubungan dengan tujuh cahaya yang telah disebutkan tersebut.
Pentingnya shuhbatu al-jamaah
Di dalam momen taushiyah tersebut, Abi juga menjelaskan pentingya shuhbatu al-jamaah atau berteman dalam jamaah. Sebagaimana ummahat al-mukminin dan para sahabat yang bershuhbah dengan Rosululloh, keberadaan shuhbatu al-jamaah juga menjadi upaya untuk menggapai rohmat dan meningkatkan kebaikan secara bersama-sama sehingga mencapai maqom shidq (jujur), ikhlas, dan al-roghbah fillah (cinta karena Alloh). Nabi bersabda dalam hadits riwayat Tirmidzi,
يَدُ اللَّهِ مَعَ الْجَمَاعَةِ
“Tangan Alloh bersama jamaah”
Kontributor: TI Haryadi







