BERHATI-HATILAH DENGAN HATI

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN

CAHAYA FAJAR | BERHATI-HATILAH DENGAN HATI

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Hati adalah pusat kemanusiaan, ia inti dalam diri manusia yang mampu merasakan apa yang tidak diketahui oleh panca indera fisik. Hati yang hidup itulah yang akan merasakan segala yang tidak tampak dan menjadikan semua tapi bermakna. Pada hati yang hidup hubungan dengan Allah semakin khusuk, hubungan dengan sesama manusia akan dipenuhi dengan rasa saling peduli, hubungan dengan orang tua akan lahir sikap berbakti, hubungan dengan guru akan penuh dengan khidmad, hubungan dengan ilmu akan melahirkan akhlak. Pada hati yang hidup maka akan lahir dhauq, yaitu hidupnya rasa yang mendalam sehingga mengantarkan pada penghormatan yang tulus.

Hati yang hidup dan mampu menangkap setiap pesan yang tersimpan. Hati yang hidup adalah hati yang mengikuti ke fitrahannya. Yaitu hati yang bersedia patuh pada janji setia pada saat penciptaannya di awal kehidupan (QS. Al A’raf : 172-173). Itu hati yang tunduk pada suara kebenaran yang datang dari Tuhan pencipta segala sesuatu. Penerimaan janji setia ini diiyakan dan melekat pada kefitrahan hati kita sehingga hati ini selalu cenderung pada suara-suara kebenaran.

Namun syetan sebagai musuh yang nyata bagi manusia tidak rela disaat manusia berupaya untuk condong menerima kebenaran Allah ini, sehingga syetan selalu pula membuat tipu muslihat untuk mengelabuhi manusia dan melupakan janji setia kita dengan Allah itu agar kita jauh dari nilai-nilai kebenaran dan mau menerima kejelekan ajakan syetan ini. Dan pertarungan itu terjadi dalam hati kita.
Sehingga kita bisa merasakan betapa pada saat anda akan melakukan suatu pengambilan keputusan tertentu, selalu pada saat itu terdapat dua suara dalam hati ini yang bertolak belakang. Yang satu mengajak pada kebaikan dan yang satu pula mengajak pada kejelekan. Perhatikan pada saat dihadapan anda terdapat peluang untuk berbohong dengan kelebihan uang proyek, tentu tanpa disadari dalam diri anda terdapat dua suara yang secara bersamaan bertolak belakang. Disatu sisi mengajak untuk mengambilnya dan membagi-bagikannya dengan rekan kerja anda, atau anda laporkan apa adanya dalam laporan keuangan tanpa anda mengambilnya.

Hati yang tunduk pada kebenaran itulah yang dinamakan dengan hati yang telah penuh dengan cahaya (Nur Ilahi). Kebenaran yang sering kita sebut dengan Hati Nurani. Ketundukannya untuk mengikuti suara yang dikumandangkan oleh malaikat yang selalu membawa kebenaran dan kebaikan, sehingga penerimaan anda terhadap suara / bisikan hati pada kebaikan itulah sesungguhnya fitroh (kesucian) diri kita yang mengantarkan diri kita pada derajat tertinggi kemanusiaan yaitu taqwa, puncak keberhasilan / kesuksesan seseorang yang menempatkan posisi dirinya terhormat baik disisi Allah maupun di tengah-tengah manusia.

Sedangkan hati yang menolak pada kebenaran dan tunduk pada kejelekan nafsu yang selalu didendangkan oleh syetan dengan membisikkan keburukan yang bertolak belakang dengan nilai kefitrohan diri kita yang tentu akan menjadikan hati ini tampak hitam penuh dengan noda. Hal ini dikarenakan tetap membiarkan keburukan dan sikap-sikap jelek atau perilaku negatif terus dibiarkan dan dibiasakan dalam kehidupan kita bahkan menjadi teman yang harusnya kita lawan, maka tentulah satu sikap jelek (perilaku dosa) yang selalu kita lakukan, tentu tidak akan berpengaruh apa-apa pada diri kita, tidak sedikitpun muncul kegelisahan dan kekhawatiran, bahkan yang terjadi kita merasa hal itu (dosa itu) adalah wajar-wajar saja, biasa atau bahkan dianggap benar. Sikap inilah yang mengantarkan dirinya pada kegagalan dan kehinaan.

Keadaan Hati yang menerima kebenaran dari Allah, berupa penerimaannya pada nilai-nilai keTuhan-an yang termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Hadits Rasulullah menjadikan dirinya terwarnai dengan cahaya ilahi, terselimuti dengan kebenaran abadi (Nur Ilahi) sehingga menjadikan dirinya dan hatinya selalu menjulang ke atas, penuh ridho dan pengharapan satu-satunya kepada Allah dan semua perilakunya tertuju pada Allah, sehingga yang lahir adalah kemuliaan diri. Penuh wibawa dan terhormat dalam dunia kerja dan kehidupannya. Untuk itu berhati-hatilah dengan hati, karena dari sinilah kehidupan kita bermula.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 18.07.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com

Masukkan kata pencarian disini