CAHAYA FAJAR  | ATIMMU AR RADHA’AH : AWAL MEMBANGUN KECERDASAN KOMUNIKASI, SEBUAH KAJIAN BIOLOGI KOMUNIKASI PROFETIK

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Salah satu kajian komunikasi yang menjelaskan tentang keterkaitan antara faktor biologis dengan cara seseorang berkomunikasi, mengolah dan menerima pesan informasi disebut dengan biologi komunikasi. Kajian ini merujuk pada bagaimana otak manusia sebagai titik sentral dalam mengolah pesan dari dalam diri manusia. Bahwa semua pesan komunikasi manusia berpusat pada konstruksi pesan yang diolah di dalam otak manusia melalui berbagai informasi yang masuk pada dirinya lewat indera dan diolah dalam otaknya kemudian diresponkan kembali. Sehingga kualitas komunikasi seorang anak kecil akan sangat berbeda dengan seorang yang dewasa tentang bagaimana mereka berkomunikasi dan berinteraksi dengan sosialnya, karena berbeda dalam tahapan dalam proses pembentukan, pengalaman, sejumlah informasi yang dikonsumsi dan sebagainya. Kesimpulannya, fisiologi manusia dapat mengkonstruksi realitas komunikasi manusia dalam membangun realitas sosial.

Namun sayangnya, konsep biologi komunikasi yang berfokus pada kerja otak belum mampu menjawab faktor yang menjadikan otak mampu bekerja secara maksimal dan menghasilkan suatu pesan yang berkualitas. Maksud pesan berkualitas adalah pesan tersebut bernilai kebenaran dan kebaikan, yaitu kemampuan seseorang dalam memilah suatu tindakan bahwa hal tersebut baik dan benar atau tidak.

Untuk itu konsep komunikasi profetik memberikan dasar bangunan tentang bagaimana otak manusia mampu terbentuk dan kemudiab bekerja dengan baik dalam menghasilkan pesan yang berkualitas tersebut. Jadi terdapat dua faktor yang mempengaruhi proses pembentukan otak dan mendorong mekanisme kerjanya menjadi baik yaitu makanan yang dikonsumsi selama proses pembentukan itu berlangsung serta cara atau proses mentransfer makanan tersebut disaat proses pembentukan berlangsung. Berkaitan dengan yang pertama adalah makanan yang di konsumsi (dibahas dalam tulisan tersendiri). Kedua cara menstransfer makanan disaat proses pembentukan otak manusia.

Patut diketahui bahwa manusia semenjak masih berupa janin agar proses pertumbuhannya sempurna maka dia perlu mengkonsumsi makanan yang terbaik selama masih di dalam rahim melalui apa yang dimakan oleh sang ibu yang disalurkan melalui plasenta atau ari-ari. Begitu juga dengan kotorannya, juga dikeluarkan melalui plasenta ini. Konsep profetik dalam persoalan ini adalah menawarkan konsep halalan thayyiban. Selanjutnya setelah bayi ini keluar dari rahim, ia tetap perlu mengkonsumsi makanan agar proses pertumbuhannya berkembang dengan baik yang selanjutnya ia mengandalkan makanannya dari air susu ibunya (ASI), yang keluar karena desakan hormon-hormon yang terdapat pada kelenjar payudaranya. ASI eksklusif ini, mengandung berbagai unsur makanan yag dibutuhkan bayi untuk membantu perkembangan otak dan fisiknya ke depan. Selain itu, ASI juga mengandung banyak vitamin, kadar lemak dan unsur-unsur makanan yang lainnya. Berdasarkan hal ini, maka kita bisa mengatakan bahwa ASI merupakan makanan sempurna yang mengandung berbagai zat makanan yang sangat diperlukan oleh tubuh makhluk hidup, sehingga metabolisme tubuhnya bisa berjalan lancar dan perkembangan badannya berlangsung dengan baik termasuk otaknya.

Dalam perkembangannya banyak sekali para ilmuwan yang melakukan penelitian untuk membuat hal serupa dengan apa yang ada dalam kandungan ASI namun dari banyak penelitian tersebut ternyata gagal untuk membuat komposisi susu yang sama dengan yang dihasilkan oleh ASI. Demikian pula penelitian mereka tentang waktu ideal menyusui bagi bayi yang menegaskan bahwa lama waktu menyusui bayi yang ideal adalah 2 tahun. Hasil penelitian ini bahkan menyatakan bahwa anak-anak yang dikurangi masa penyusuannya, mengalami ganguan dalam perkembangan biologisnya, demikian pula dengan anak-anak yang ditambah masa penyusuannya, juga mengalami gangguan pada perkembangan biologisnya dengan terjadinya penumpukan sebagian bahan atau zat pada sel tubuh yang tidak bisa dicernanya atau tidak bisa dibuang keluar. kesimpulan bahwa pemberian susu murni (ASI) pada bayi, merupakan dasar bagi perkembangan mereka, hingga mereka bisa tumbuh secara alami termasuk proses pembentukan otak bayi pada awal proses perkembangannya.

Hal ini sangatlah tepat dengan apa yang telah sejak lama dikabarkan oleh Allah dalam teks sumber wahyu bahwa seorang ibu dianjurkan untuk menyusui anaknya selama dua tahun penuh. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah swt :

وَٱلۡوَٰلِدَٰتُ يُرۡضِعۡنَ أَوۡلَٰدَهُنَّ حَوۡلَيۡنِ كَامِلَيۡنِۖ لِمَنۡ أَرَادَ أَن يُتِمَّ ٱلرَّضَاعَةَۚ وَعَلَى ٱلۡمَوۡلُودِ لَهُۥ رِزۡقُهُنَّ وَكِسۡوَتُهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ لَا تُكَلَّفُ نَفۡسٌ إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَا تُضَآرَّ وَٰلِدَةُۢ بِوَلَدِهَا وَلَا مَوۡلُودٞ لَّهُۥ بِوَلَدِهِۦۚ وَعَلَى ٱلۡوَارِثِ مِثۡلُ ذَٰلِكَۗ فَإِنۡ أَرَادَا فِصَالًا عَن تَرَاضٖ مِّنۡهُمَا وَتَشَاوُرٖ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِمَاۗ وَإِنۡ أَرَدتُّمۡ أَن تَسۡتَرۡضِعُوٓاْ أَوۡلَٰدَكُمۡ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡكُمۡ إِذَا سَلَّمۡتُم مَّآ ءَاتَيۡتُم بِٱلۡمَعۡرُوفِۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّ ٱللَّهَ بِمَا تَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ

Dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna. Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita karena anaknya dan jangan pula seorang ayah (men-derita) karena anaknya. Ahli waris pun (berkewajiban) seperti itu pula. Apa-bila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin menyusukan anakmu kepada orang lain, maka tidak ada dosa bagimu memberikan pembayaran dengan cara yang patut. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah, Ayat 233)

Hal ini ditegaskan pula dalam Quran Surat Luqman ayat 14, yang berbunyi:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (QS. Luqman, Ayat 14)

Terdapat sebuah kesan penting dari pesan profetik ini bahwa dengan menyusui anak selama dua tahun penuh, hal ini akan membuat proses pembentukan otak menjadi lebih sempurna sehingga seorang anak akan mudah dalam menerima informasi dan mengolahnya dengan baik. Apabila proses ini terus dijaga dengan baik melalui pemberian makanan yang halal (value atas makanan) dan thayyib (kualitas suatu makanan), baik melalui apa yang dikonsumsi oleh si ibu dan anak tentu akan menghasilkan proses pembentukan dan perkembangan otak yang sangat baik dan maksimal. Terlebih pula dengan menyusui selama dua tahun maka akan terjalin hubungan psikologis yang sangat erat antara si ibu dengan anak yang secara langsung atau tidak langsung akan membangun kualitas psikologi komunikasi yang lebih positif dibandingkan seorang anak yang tidak disusui oleh ibunya secara langsung atau tidak genap selama dua tahun. Tentu hal ini juga perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam lagi terkait dengan kualitas komunikasi seorang anak dengan lama menyusui sang ibu.

Lama menyusui eksklusif dua tahun yang dilakukan oleh ibu terhadap anak tentu akan menghasilkan proses komunikasi yang baik. Terdapat proses komunikasi yang sangat baik antara ibu dan anak baik dalam pengenalan nama-nama, kebiasaan, getaran emosi dan sebagainya yang kemudian menjadi informasi awal (maklumat sabiqah) yang sangat penting bagi seorang anak untuk kemudian membentuk serangkaian modal informasi yang akan dipergunakannya kelak disaat sang anak melakukan interaksi sosial. Dengan kata lain menyusui dua tahun mampu membangun cakrawala anak melalui penanaman informasi awal dalam menyusun, mengolah dan menerima pesan informasi yang akan menjadi modal utama dalam merespon berbagai peristiwa dan interaksi sosialnya,bahkan mampu merangsang perkembangan emosional anak yang menjadi landasan dalam keterampilan komunikasinya. Dalam sebuah penelitian di Amerika menyebutkan bahwa pemberian ASI eksklusif merangsang perkembangan kognitif serta emosional anak, melalui kontak fisik selama masa menyusui, maka ikatan batin antara ibu dan sang buah hati juga akan semakin erat.

Terdapat manfaat lain dari menyusui selama 2 tahun dengan ASI ekslusif ini bagi proses pembentukan kecerdasan komunikasi. Sebab dalam menyusui secara sempurna selama 2 tahun akan Merangsang tumbuh kembang sistem saraf, sehingga nantinya dapat dengan mudah dalam menerima pesan informasi karena saat itu anak sedang berada dalam masa keemasan (golden age). Begitu pula dengan menyusui dalam kurun waktu tersebut akan membuat daya tahan tubuh dan psikis anak menjadi lebih kuat serta Anak akan menjadi tenang dan dan nyaman. Demikian pula panca indera anak jadi semakin berkembang, sehingga memudahkan anak dalam mengembangkan proses belajar atau kecerdasannya, serta dengan menyusui secara sempurna selama 2 tahub akan meningkatkan perkembangan motorik dan kognitif. Semua itu akan menjadi bangunan dasar awal dalam membangun kecerdasan komunikasi seseorang ke depannya disaat melakukan serangkaian interaksi sosial.

Jadi, menyempurnakan dalam menyusui (atimmu ar radha’ah) selama dua tahun sebenarnya adalah membangun proses lingkungan komunikasi (selain berfungsi fisiologis) yang baik bagi perkembangan biologis dan psikologis anak hingga kemudian kelak menjadi seorang manusia sempurna yang “cerdas” dalam berkomunikasi, yaitu komunikasi yang berkualitas. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah ungkapan berikut:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan. Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

Dan saya menambahkannya dengan kalimat berikut : Jika anak dibesarkan dengan penyusuan yang sempurna (ASI eksklusif selama dua tahun) maka ia akan menjadi sempurna dalam menyusun dan mengolah pesan informasi. Inilah sudut pandang profetik dalam bidang biologi komunikasi untuk membangun kecerdasan komunikasi manusia. Wallahu a’lam.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 16.12.2019
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com