Aib Sepanjang Usia

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
makaryggagal

 Lapis-lapis Kebajikan: Aib Sepanjang Usia

Adalah wajar apabila setiap wanita mendambakan kehidupan rumah tangga yang damai, rukun, dan harmonis. Termasuk aku. Sebagai seorang istri yang masih muda belia, aku juga memimpikan saat-saat yang indah bersama suami. Namun, rasanya kesempatanku untuk menjadi ibu rumah tangga yang bahagia sudah terkubur dalam lumpur. Sulit bagiku untuk dapat berdiri kembali, sama sulitnya dengan dengan menegakkan benang basah. Memang begitulah keadaanku saat ini. Sebab biang keladi semua kesusahanku adalah Bang Amir, suamiku sendiri. Dialah yang mula-mula memperkenalkan aku dengan dosa dan membuatku ketagihan untuk lagi-lagi berbuat dosa.

Sebetulnya orang tuaku sangat bijaksana dalam membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Kami yang berjumlah sebelas orang diperlakukan dengan santun dan penuh kasih sayang, dan tidak seorang pun yang diistimewakan melebihi yang lainnya. Kami ditempa untuk menjadi anak-anak yang tahu diri, bahwa ayahnya yang pensiun pegawai negeri penghasilannya tidak seberapa sehingga kami harus rela hidup dengan serba sederhana.

Untuk itu,ibuku yang berdarah Betawi, sangat ketat mengatur uang belanja sampai tidak serupiah pun dibiarkannya lolos tanpa diperhitungkan manfaatnya. Namun, karena sikap ibu yang hemat itulah kehidupan keluarga kami terasa lebih berkecukupan dibandingkan dengan keluarga-keluarga lain yang sama-sama menghuni kompelks perumahan di Cisalak, Jawa Barat.

Demikianlah, tahun demi tahun kami lalui dengan suasana kerukunan yang tetap terpelihara. Kakak-kakakku sudah mulai memasuki jenjang perkawinan, sedangkan aku sebagai anak nomor delapan te;ah meningkat ke usia remaja. Aku kini duduk di kelas dua SMP.

Ayah sering memperingatkan, dengan nasihat-nasihat  yang menyentuh perasaan, bahwa masa remaja adalah saat-saat yang penuh godaan, tantangan, dan resiko. Kalau tidak pandai-pandai meniti arus, salah-salah bisa hanyut ditelan ombak. Apalagi bila tidak hati-hatimenjaga diri, akibatnya akan dirasakan seumur hidup.

Ibu juga ikut prihatin sebab pergaulan muda-mudi akhir-akhir ini jauh berbeda dengan etiket pada masa mudanya. Dulu, kata Ibu, pergi berdua di siang hari saja sudah mencemarkan nama, jangankan kencan hingga jauh malam. “Tidak seperti anak-anak sekarang,” ujarnya cemas. “Mereka susah dikendalikan. Antara lelaki dan perempuan seolah-olah tidak ada batas lagi, sesuka sendiri.”

Intinya aku tahu, ibuku mengaharapkan agar aku tidak terseret oleh pergaulan bebas sampai melanggar batas-batas agama. “Karena sekali wanita ternoda, bekasnya akna membuat sengsara dirinya sepanjang masa. Ke mana pun bersembunyi, dengan cara apa pun ditutup-tutupi, noda itu akan melekat terus dan membuat rumah tangganya tidak akan tenteram selamanya,” ucapnya trenyuh. Nasihat itu kutanggapi dengan janji di dalam hati bahwa aku akan selalu melindungi kehormatanku sebagai seorang gadis yang masih suci.

Namun, janji itu solah tidak bergaung kalau aku sedang berkumpul dengan teman-teman lain. Bersama mereka, dunia terasa lebih meriah, tidak seperti di rumah. Sungguh, masa remaja adalah kesempatan paling indah untuk dinikmati. Kapan lagi bila tidak hari ini? Begitu semboyanku dalam hati jika sedang dinasehati. Sebab, tiap kali berada di rumah, kulihat ayah dan ibuku jarang bergurau. Mereka hanya berbicara tentang urusan sehari-hari. Tidak pernah kudengar tertawa melengking atau ungkapan-ungkapan perasaan yang dikemukakan lewat kalimat-kalimat polos dan lugu sebagaimana kualami bersama kawan-kawanku. Selalu harus dijaga kesopanan, tata krama dan adat ketimuran yang rasanya makin lama menjadi makin kaku. Dan kayaknya kok dari itu ke itu juga, tidak ada perubahan. Lain sekali dengan suasana pergaulan para remaja. Kami bisa tertawa lepas. Bahkan bebas mengemukakan ungkapan-ungkapan perasaan dengan berbagai kalimat yang jorok sekali pun. Sebab bagi kami, yang penting adalah sama-sama senang dan jangan usil terhadap kawan. Nah, ini kan cara hidup yang sesuaidengan keinginan setiap orang, bersuka ria tanpa kenal waktu?

Barangkali karena pergeseran janji itulah aku mulai gemar bergaul dengan teman-teman cowok. Mula-mula aku masih jaga jarak, sekedar akrab di tempat-tempat ramai, waktu kemping atau piknik bersama umpamanya. Lama-kelamaan aku mulai berani pergi berdua walaupun masih belum terlibat skandal asmara. Aku tetap membatasi diri sebagai kawan biasa dengan siapa saja.

Tetapi , ada seorang siswa kelas tiga SMA yang paling menarik perhatianku. Namanya Bang Amir, pemuda asal Sumatera Barat. Ia bisa mengambil hatiku denagn sikapnya yang periang dan perlakuannya yang lemahlembut terhadapku. Aku merasa terlindungi apabila berdekatan dengannya, malahan kesusahanku segera sirna tiap kali mendengar suaranya. Itulah yang akhirnya membuatku bersimpuh dalam pelukan cintanya. Aku betul-betul telah takluk kepada Bang Amir sejak masuk kelas tiga SMP, dan terlena dalam cumbu rayunya.

Sampai kemudian terkoyaklah tabir itu, yaitu pada waktu Bang Amir mengajakku pergi seharian dan menikmati kebersamaan di Losmen UA, Cisalak. Aku pasrah, tidak saja lantaran gejolak asmara telah membuatku gelap mata, tetapi karena aku takut kehilangan kekasih yang kudampakan itu. Robeklah kehormatanku, dan robek pula harga diriku. Celakanya, sejak saat itu aku sudah menganggap sudah tidak ada sesuatu yang patut ku pertahankan lagi. Toh keperawananku sudah kuserahkan? Jadi, mengapa aku harus takut-takut? Bukankah Bang Amir berjanji akan menikahi aku? Apa salahnya kalau semua keindahan itu kuregup sejak saat sekarang? Apa bedanya?

Dengan jalan pikiran seperti itu,maka sudah tidak terhitung lagi hubungan suami-istri kami lakukan di mana-mana, di hotrl, di losmen, dan di tempat-tempat liburan atau rumah kawan-kawannya. Statusku sebagai murid SMP kumanfaatkan untuk mengibulu orang tuaku. Sering aku membolos untuk memenuhi keinginan Bang Amir. Kadang-kadang aku mengatakan kepada Ayah dan Ibu les privat sampai malam, sekedar untuk melampiaskan tuntutan gairahku yang kelewat rindu kepada Bang Amir. Betul-betul aku terjerumus ke dalam jalinan cinta yang paling penuh oleh noda dan dosa. Entah dengan cara bagaimana aku kelak bisa menghapus lembaran hitamkuitu, sedikit  pun tidak terlintas dalam benakku. Aku benar-benar telah lupa daratan, bahkan lupa lautan. Seakan-akan aku tidak takut kepada neraka. Bahkan seolah kutantang ancaman siksa demi cintaku terhadap Bang Amir yang telah melampui takaran wajar.

Untuk memperlancar rayuannya, Bang Amir memperkenalkan aku dengan obat-obat terlarang seperti pil BK, Magadhon, Valium, atau Rohpinol. Sebab dengan menelan pil-pil semacam itu, aku menjadi mabuk kepayang, pikiran melayang-layang. Dengan demikian secara sukarela kuturuti saja segala kemauannya, tanpa membantah atau melawan sedikit pun, termasuk melakukan perbuatan –perbuatan yang menjijikkan. Sembahyang lima waktu sudah kutinggalkan kecuali kalau sedang berada di rumah, sekedar mengelabui orang tuaku.

Akhirnya, sesuatu yang kutakutkan dan selalu kami hindari telah terjadi. Aku berbadan dua, alias hamil. Oh, dunia mendadak berputar-putar di mataku. Apalagi ketika sikap Bang Amir malah berubah menjadi kasar dan selalu menjauhkan diri semenjak kukatakan kepadanya bahwa aku terlambat datang bulan. Bagaikan ditimpa gunung runtuh rasanya tatkala Bang Amir malahan menuduh, “Pasti kamu melakukannya dengan orang lain. Tidak denganku saja.”

Aku menjerit. Serendah itu Bang Amir menilai kesetiaan dan pengorbananku untuknya. Aku rela mengkhianati kepercayaan orang tuaku, bahkan hukum Tuhan kulanggar hanya untuk menuruti kemauannya dan menyenangkan hatinya. Sebab  ia berjanji akan bertanggung jawab andaikata kecelakaan seperti ini tak dapat dihindari. Namun, ketika bencana itu menimpa kami,ia akan berlepas tangan dan membiarkan aku harus menanggung sendirian. Alangkah kejamnya lelaki yang kupuja itu.

“Mustahil kalau hanya dengan aku kamu bisa bunting,” teriaknya lantang. “Sebab aku sangat hati-hati, dan tidak asal mau.”

Aku menangis tersedu-sedu. Demi Allah, ah, bolehkah aku yang kotor ini bersumpah? Sungguh , aku tidak pernah disentuh oleh siapa pun, kecuali oleh di seorang. Tapi , apa jawab Bang Amir?

“Sumpah seribu kali pun aku tidak akan percaya,” hardiknya kesetanan. “Perempuan yang menyerahkan kehormatannya dengan gampang kepada seorang lelaki, pasti akan dengan gampang pula menyerahkannya kepada lelaki lain. Dan engkau dengan mudah telah pasrah kepadaku, maka engkau pasti dengan mudah telah pasrah kepada selain aku.”

Aku tidak tahu, jalan mana lagi yang harus kutempuh agar Bang Amir mau kubawa ke depan orang tuaku untuk meminangku dan kemudian menikahiku. Dengan segala cara ia tetap menolak, malahan makin menghindar.

Karena sudah gelap mata, akhirnya aku nekat memberitahukan kehamilanku kepada Ayah dan Ibu. Tentu saja meledaklah kemarahan dan kemurungan seluruh keluargaku. Ayah dan Ibu menangis, demikian pula kakak-kakakku. Mereka tidak menyangka, aku yang kelihatan alim di rumah, ikut mengaji ke masjid, ternyata di luar pengetahuan mereka telah melakukan perbuatan yang terkutuk. Barangkali tidak terpikir di benak mereka, sudah sejauh itu kebejatan yang telah kuperbuat selama ini sampai aku sendiri juga malu dan menangis pedih.

Namun, apa hendak dikata, segalanya sudah terlanjur. Ibarat nasi, sudah kepalang menjadi bubur. Lalu, mau apa lagi? Tinggal kuterima saja nasibku, sebab itu semua merupakan hasil perbuatanku juga.

Itu pula barangkali yang terpikir oleh ayah dan ibuku. Mereka telah kucoreng-moreng di depan para tetangga sekompleks dan segenap familiku, namun mereka berusaha tetap sabar menghadapi aku. Malahan tampaknya ayahku justru menyalahkan dirinya sendiri, mengapa selaku orang tua tidak cermat mengawasi kelakuan anaknya dan mengendalikan tindak-tanduknya. Oleh karena itu, dengan segala daya ia berusaha menginsafkan Bang Amir agar mau mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Setelah ternyata Bang Amir tetap bersikeras dengan pendiriannya, terpaksa ayah menggunakan jalur hukum yang berlaku. Ia melaporkan kasusku itu ke pihak yang berwajib, sehingga polisi segera turun tangan. Bang Amir dimintai keterangan, sebatas mana hubungannya denganku. Betulkah ia telah menggauli aku, ataukah sekedar pacaran biasa. Sesudah ia mengakui semua kesalahannya, Pak Penghulu pun dipanggil, dan kami dinikahkan secara sah sesuai dengan hukum agama dan negara. Dalam catatanku, peristiwa itu terjadi pada tanggal 27 Oktober 1987, menjelang hari-hari terakhirku di kelas III SMP.

Waktu pernikahan itu usia kandunganku sudah masuk bulan keempat sehingga tidak berapa lama setelah itu, aku pun melahirkan seorag bayi laki-laki, mungil dan bersih. Kata ibuku, hidungnya mengambil hidungku, sedangkan bibirnya menyerupai ayahnya. Dalam hati aku berdoa, semoga hanya bentuk jasad kami yang menitis kepadanya, dan jangan perilaku kami yang penuh nista itu.

Kini usia anakku sudah jalan tujuh bulan. Kebutuhan hidupku makin meningkat, sedangkan penghasilan Bang Amir sebagai pedagang kecil-kecilan tidak mampu menanggung semua itu. Terpaksa aku harus mencari tambahan. Anakku Nsr kutitipkan pada ibukku karena tiap hari aku harus bekerja sampai jauh malam sebagai waitress bilyar di kawasan Monas. Untuk sementara, aku tidak memberi tahu orang tuaku di mana aku kerja, takut gunjingan tetangga makin mengguncangkan hati mereka.

Tapi memang wajar, apabila waitress didesas-desuskan orang. Sebab bekerja di tengah kaum pria selalu ada saja godaannya. Biasanya mereka memulai perkenalan dengan baik-baik. Seperti Beni, salah seorang pelanggan yang dengan sopan mendekati aku, dan menawarkan tenaganya untuk mengantarkan aku pulangdengan mobilnya. Tentu saja tawaran itu kusambut dengan gembira. Dalam beberapa kali perjalanan ia tetap menjaga jarak denganku. Kemudian ia banyak menceritakan istrinya yang konon tidak pernah mampu memberikan kepuasan kepadanya. Dan ujungnya, ia mengajakku menginap di hotel berdua daripada jauh-jauh pulang ke Cisalak. Alhamdulillah, rayuan yang merangsang dari seorang lelaki ganteng dan kaya, ternyata dapat kutolak dengan tegas karena aku merasa sudah mempunyai suami yang sah. Aku tak ingin terjerumus lagi ke dalam perbuatan yang melanggar hukum Tuhan.

Untuk itu kupilih keluar dari tempat maksiat itu. Memang, permainan bilyar itu sendiri, kata orang. Bukan maksiat. Tetapi, ekor sampingnya yang biasanya berkepanjangan, dan banyak rumah tangga berantakan karena sang suami ada main dengan gadis-gadis penunggu bilyar.

Ya, begitulah risiko rakyat kecil. Kepingin punya uang sedikit saja harus mau menjadi santapan orang-orang berduit. Dasar nasib. Karena itu, keputusanku berhenti kerja di situ sangatdisetujui oleh orang tuaku.

Namun, memang berat hati hidup tanpa kegiatan. Di rumah aku mulai bosan dan selalu direndung kesepian. Apalagi Bang Amir hanya pulang seminggu sekali. Kadang-kadang malahan sampai sebulan tidak muncul-muncul. Maka dari itu, ketika ada keperluan mendadak yang harus kubicarakan dengannya, aku berangkat ke tempat dagangnya tanpa memberi tahu lebih dulu. Kebetulan hari itu ia tidak berjualan. Tempat dagangnya sepi, pintunya ditutup, tetapi tidak dikunci. Lega perasaanku. Aku pun segera masuk sambil menggendong anakku dengan hati-hati sebab ambang pintunya rendah sekali. Begitu aku menguak tirai kamar, masyaAllah, apakah yang kusaksikan dengan mata kepala sendiri? Bang Amir sedang bermain asmara dengan gadis teman dagangnya. Untung aku sadar bahwa yang sedang berada dalam pelukanku adalah anak kandungku, bukan boneka bikinan Bang Amir, sehingga dengan erat upeluk dia, dan bukannya kucampakkan ke lantai untuk melampiaskan kemarahanku. Kutinggalkan warung bejat itu buru-buru sambil air mataku tertumpah dengan deras.

Ya, Tuhan, aku menjerit. Demi Bang Amir aku bertekad akan menjadi istri yang setia dan hanya menyerahkan kehormatanku kepadanya. Rayuan dari pria-pria lain selama bekerja sebagai waitress di tempat bilyar selalu kutampik, padahal kalau aku mau, berapa banyak uang  yang bisa kuperoleh dari mereka di samping bersenang-senang menikmati gairah masa muda? Kalau begitu, percuma saja aku menanam kebaikan selama ini apabila ketulusanku di khianati. Mengapa aku begitu bodoh, sendirian saja menerima kepahitan denga suami yang menyeleweng? Kenapa aku tidak melakukan yang sama, berpuas-puas dengan lelaki lain seperti dia berpuas-puas dengan perempuan lain?

Ya Allah, aku tidak sadar telah termakan bisikan setan. Akibat rasa sakit hatiku, aku terhanyut oleh rayuan iblis. Dan pekerjaan iblis tidak tanggung-tanggung. Ia solah-olah membibingku untuk selalu bertandang ke rumah bekas kawan SMP- ku dulu, yang mempunyai seorang kakak lelaki bernama Alex. Dari perkenalan sepintas, akhirnya Alex makin akrab denganku, dan sudah sering membawaku menonton bioskop berdua. Malahan sejak itu aku justrulebih dekat dengan Alex daripada dengan Ani, kawanku itu. Mula-mula, kalaupun Bang Alex menciumku, masih kuanggap sebagai kasih sayang abang kepada adik walaupun bukan saudara kandung. Tetapi, lama-kelamaan sikapnya kepadaku melebihi batas-batas kewajaran. Celakanya, aku tidak keberatan, bahkan mengimbanginya dengan bernafsu karena aku ingin membalas dendam kepada suamiku. Akibatnya, terulang kembali dosa-dosa itu, se[erti pernah kulakukan dengan Bang Amir sebelum menikah dulu.

Namun, penyelewenganku kali ini segera tercium oleh ayahku. Bagaikan malaikat Munkar Nakir, Ayah mendampratku habis-habisan. Dan sejak saat itu aku dilarang keluar rumah tanpa seizin Ayah dan Ibu.

Malangnya, Bang Amir sempat mendengar skandalku dengan Bang Alex. Entah kenapa, ia bukannya mendatangi Bang Alex untuk mengadakan perhitungan antara lelaki dan lelaki, malahan akulah yang menjadi sasarannya. Gamparan demi gamparan, gebukan demi gebukan selalu kuterima tiap kali Bang Amir pulang. Bukan dosaku sendiri saja, tetapi juga dosa Bang Alex yang telah menggauliku beberapa kali.

Namun, betapa pun besarnya dosaku, rasanya aku tak sanggup lagi menahan kesakitan ini. Oh, adakah siksaan kelak di akhirat akan jauh lebih berat dibandingkan dengan yang kuderiata sekarang ini? Lalu, masih adakah harapan bagiku untuk mendapat keselamatan sebagaimana hamba-hamba Tuhan yang lain?

Memang, penyesalanku barangkali sudah terlambat. Aku adalah wanita bobrok, yang sebenarnya tidak layak menjadi seorang ibu. Benarkah itu?

Nyatanya, anakku yang belum genap berusia setahun tiba-tiba tertimpa musibah mengerikan. Ia merangkak ke kolong tempat tidur tanpa setahuku dan meminum air aki yang tergeletak di situ. Dalam keadaan terkejang-kejang, anak itu dibawa kerumah sakit oleh ayah dan ibuku sementara aku cuma bisa melolong di rumah, meratapi peruntunganku. Entah bagaimana nasib anakku itu, aku belum tahu. Yang jelas, ia sebetulnya anak tidak berdosa meskipun kelahirannya berasal dari hubungan tidak sah antara aku dengan Bang Amir. Untuk itu aku masih mampu memohon kepada Allah agar ia diselamatkan dari malapetaka itu. Yang berdosa kami, ya, Allah, ayah-ibunya. Ia tidak tahu apa-apa. Bahkan sebetulnya ia lahir dengan terpaksa tanpa kami hendaki.

Rupanya permohonanku di dengar Tuhan. Beberapa hari kemudian kesehatan anakku telah pulih kembali seperti sedia kala. Sungguh, tak terkira kegembiraanku, dan alangkah bahagianya perasaanku. Ternyata Tuhan masih berkenan mengabulkan doa seorang hamba-Nya yang bergelimpang dosa. Jadi, seandainya aku memohon ampun dari dosa-dosaku ynag lalu apakah Ia juga mu menerima kedatanganku?

Dengan cemas dan ragu-ragu kutanyakan masalah itu kepada ayahku. Ya, karena betul-betul aku ingin bertobat, ingin sembahyang lagi, ingin berpuasa lagi, dan ingin mengaji lagi.

Bagaimanakah kemudian jawaban yang kudengar dari mulut ayahku?

“Far,” ujarnya. “Kabarnya Nabi pernah mengatakan bahwa tidak ada suara yang lebih dicintai Allah daripada suara seorang hamba yang berdosa ketika ia tengah memohon ampun kepada-Nya. Maka pada waktu itu Allah akan berfirman kepadanya: Selamat datang wahai hamba-Ku, Kuterima kehadiranmu.”

Hanya itu saja yang dikatakan Ayah. Tapi bagiku sudah sangat berarti. Aku lalu menjahit mukena, dan mulai belajar mengaji kepada Tannte Nng. Tabunganku kubuka, kubelikan sajadah dan tasbih. Dan sejak hari itu aku tak pernah berhenti bersujud kepada-Nya setiap waktu. Malah kutambah salat tahajud di tengah malam yang lengang sambil kuangkat kedua tanganku dengan air mata menetes tanpa henti, menyesali kesesatanku.

Akan halnya Bang Amir, penyelewengannya malahan makin menjadi-jadi. Kerjanya berantakan, kesukaannya keluyuran di tempat-tempat mesum, dan kalau pulang mulutnya bau arak cap orang tua.

Tetapi aku sudah bertekad akan menjadi seorang istri yang setia, bagaimana pun byuruknya kelakuan Bang Amir saat ini. Kepada Tuhan kuadukan segala kesulitanku. Dan kumohon kepada-Nya agar berkenan membimbing suamiku ke jalan yang benar. Siapa tahu, doa perempuan berlumur dosa ini dikabulkan-Nya sehingga kelak aku akan dapat menikmati kehidupan rumah tangga yang tenteram dan bahagia. Mudah-mudahan.

Referensi: 30 Kisah Teladan, Abdurrahman Ar-Roisi.

 

 



 

Masukkan kata pencarian disini