Sejenak Pagi #139 Hindari duri-duri silaturahmi Bagian 1

Sejenak Pagi #139 Hindari duri-duri silaturahmi Bagian 1

*“Barang siapa yang beriman kepada Alloh dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”
(Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Bersilaturahmi atau bersilaturahim disaat Hari Raya Idul Fitri alias Lebaran sudah menjadi tradisi yang mendarah daging di negeri tercinta ini. Seluruh anggota keluarga, tua-muda, kakek-nenek, oom-tante, Pakde-Budhe, anak-ponakan-serta cucu menghiasi perhelatan keluarga setahun sekali ini.

Namun seringkali di hari yang Fitri ini ada “duri dalam silaturahmi”, pernyataan-pernyataan atau pertanyaan-pertanyaan yang kadang terlontar, disadari tidak disadari bisa merusak prestasi dan reputasi yang kita raih di Bulan Ramadhan kemarin.

Tanpa kita sadari, sering, ajang silaturahim yang seharusnya menjadi perekat persaudaraan, dinodai oleh kalimat-kalimat yang bermaksud “membangun” dan “menyadarkan”, namun berubah menjadi kalimat yang terasa “menyakiti hati” dan bikin baper.

Sehingga seringkali beberapa diantara kita justru menghindari ajang silaturahim setahun sekali ini. Sayang sekali khan kalau ada saudara kita yang menghindar karena takut diomongin atau ditanyai pertanyaan yang “horor”.
Apa saja “Duri dalam silaturahmi ini”?

1. Membanding-bandingkan
“Kamu kok belum lulus? Adik sepupumu saja sekarang sudah S2.”
“Kok anakmu sekolah di situ sih? anakku di sekolah favorit donk”
“Kamu sudah hapal berapa juz? Kok belum juga, lihat si A, dia sudah hapal 5 juz lho…”
“Kamu dapat rangking berapa di kelas?”

[Membanding-bandingkan satu pribadi dan pribadi yang lain terasa menyakitkan terutama bagi insan yang sedang berada pada posisi di bawah, lagipula apa keuntungan membanding-bandingkan ini? Bukankah Allah Azza Wa Jalla menciptakan setiap manusia unik dan berbeda?]

2. Menanyakan hal pribadi
“Kapan nikah, ingat lho umurmu kamu sudah kepala 3?”
“Mana calon kamu? Masih jomblo juga nih?”
“Saat ini kamu belum kerja juga?”
“Kamu belum punya anak juga, sudah berusaha kemana saja?”
“Kenapa masih kerja di tempat itu, kok ndak cari yang lebih baik?”
“Wah, kerja di situ khan gajinya kecil, kok kamu mau aja sih? Jangan mau diperbudak gitu”

[Pertanyaan yang bersifat pribadi, sebaiknya dibicarakan dengan cara pribadi (empat mata), pada saat yang khusus, bukan pada saat kumpul keluarga. Dan bukankah hal seperti di atas lebih baik diganti dengan kalimat lebih positif seperti: “Bagaimana ikhtiarmu saat ini, sudah ada kemajuan? Semoga Allah merahmati dan meridhoi ikhtiarmu ya…”]

3. Bertanya atau mengomentari seputar tubuh
“Ih, kok kamu kelihatan gendutan sekarang…..” {Uhhhh makjleb banget……}

“Ih, kamu sekarang kok botak dan kurus…..” { Uhhhh makjleb 2}

“Duh, si kasep ini….hidungnya kemana ya…..” { Uhhhh makjleb 3}

“Ini adiknya kok lebih besar dari kakaknya ya….”
“Kok adiknya kulitnya gelap, ndak seperti Kaka dan Mbaknya….”
“Ya Alloh…ini sepatumu atau perahu, jempol mu gede banget seperti bet ping-pong”
“Kamu semakin cantik deh, rahasianya apa nih?” {hati-hati lho, kadang ini pertanyaan jebakan yang bisa membuat kita terkesan sombong dan meremehkan orang lain jika jawabannya kurang tepat}

(Berhati-hatilah mengomentari tubuh orang lain, bukankah ini semua adalah ciptaan Allah semata? Kalau kita berkomentar miring, bukankah berarti kita “mengkritik Sang Maha Pencipta”)

Semoga kita menjadi lebih baik dan bermanfaat.

Robbana Taqobbal Minna
Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), aamiin