Khutbah Jumat | Menata Niat

A VPN is an essential component of IT security, whether you’re just starting a business or are already up and running. Most business interactions and transactions happen online and VPN
Menata Niat | Persyadha Al Haromain

Menata Niat
Oleh | Abina KH M. Ihya’ Ulumiddin

Menata Niat, Firman Allah ta’ala dalam QS. Adz-Dzâriyât: 56’ yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu”

Jamaah Jum’at yang berbahagia, hafidlokumulloh,

Pertama-tama dari atas mimbar ini wasiat bersama untuk diri saya sendiri dan yang hadir di tempat yang berkah ini yang terkait dengan penghambaan kita kepada Allah Swt sebatas mana kita telah melaksanakan penghambaan ini yang mestinya hamba seharusnya patuh terus kepada Allah swt yang telah mencipta nya, yang mengatur hidupnya.

Sudah tentu yang demikian, Allah swt haknya untuk disembah dan dipatuhi ini akan memberikan berkah dalam kehidupannya.

Seorang muslim, melakukan pekerjaan sekecil apapun harus mengetahui apakah hukumnya, hal ini sangat penting. Halal ataukah haram, makruh atau sunnah. Keterikatan inilah yang disebut dengan takwa. Takwa yang memiliki arti menaati segala perintah-perintah Nya dan menjauhi segala larangan-larangan nya.

Jamaah Jumat yang berbahagia, hafidlokumulloh,

Pada muqoddimah khutbah, kami menyampaikan di antara firman Allah swt yang terkait dengan tahrirun niyah (menata niat) terkait dengan ibadah karena kita diciptakan ini oleh Allah yang untuk beribadah seperti yang difirmankan Allah swt. dalam. Adz-Dzâriyât: 56 yang artinya

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku”

Artinya, Aku tidak akan menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengenal Aku, setelah mengenal Aku mengagungkan Aku, setelah mengagungkan Aku, menyembah Aku. Menyembah yang bersifat khusus yang disebut ibadah makhdo (sholat, puasa, haji dan lain-lain) dalam aturan-aturan tertentu. Menyembah bersifat umum, segala kegiatan dan aktivitas kita selama berdekatan dengan Allah, Allah al-Qorib (Maha Dekat).

Pekerjaan kita sehari-hari sekecil apapun selama itu dekat dengan Allah disebut ibadah. Peran Basmallah dan Hamdalah sangat penting dalam aktivitas tersebut agar dapat menjadi ibadah. Dimulai dengan Basmalah maka, makan kita ingat Allah diakhiri dengan Alhamdulillah yang telah memberikan makan.

Hidup yang ibkah (hidup yang berberkah) adalah hidup yang diberi oleh Allah sesuatu yang baik menurut Allah, menurut aturan-aturan Allah tidak hidup dengan aturan-aturan dan pikiran kita sendiri, tidak juga se ukuran kemampuan kita.

Tips berkah itu sendiri adalah kita tidak pernah lepas dari kehidupan kita ini untuk ibadah atau tidak. Sementara jika kita mengandalkan kemampuan atau pikiran kita sangat terbatas berbeda jika mengkaitkan segala aktivitas dan kegiatan kita kepada Allah maka dia akan bernilai ibadah.

Tidak semata-mata tujuan kita hanya mendapatkan uang sebagai contoh, tidak juga bertujuan mendapatkan keberuntungan tetapi yang kita kerjakan adalah semata-mata untuk beribadah karena Allah.

Jika seseorang makan umpamanya kemudian dalam makan itu dia mengingat Allah swt Semoga dengan makan ini diberi kekuatan untuk beribadah kepada Allah maka makannya itu memiliki status ibadah.

Di sinilah kemudian ayat Alquran yang saya bacakan di atas menentukan selalu dalam kehidupan kita ini dan menjadikan berkah kehidupan ini karena Allah berfirman, yang artinya:

“Barangsiapa berniat untuk mendapatkan akhirat (pekerjaan yang segalanya memenuhi akhirat) maka pada Allah kami akan menambahkan kelapangan pada pekerjaannya itu”

Menambahkan artinya cukup Allah melipatkan gandakan 10 kali kebaikan dalam pekerjaannya itu bahkan bisa sampai 700 kali Siapa yang dapat memberikan balasan sebaik itu kalau tidak Allah swt

“Barangsiapa menghendaki semata dunia, Saya akan memberikan yang sudah tentu Allah telah menentukan kadar rezekinya, jika ia sempit rezekinya maka ia akan sempit, jika sudah ditentukan lapang rezeki maka ia akan lapang rezekinya.

Permasalahannya, sempit atau lapang rezeki bagi Allah tidak masalah, semuanya itu merupakan ujian, kalau toh ia lapang rezeki bukan berarti ia dimuliakan oleh Allah, bersyukur atau tidak jika ia lapang rezeki sementara yang diberi kesempitan rezeki, sabar atau tidak dengan hal tersebut.

Lapang atau sempit rezeki tidak ada bedanya. Begitu juga, kaya atau miskin, sama saja. Karena itu sangat sayang jika kehidupan yang kita jalani tidak diniatkan untuk akhirat sama sekali. Sangat rugi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, yang artinya, “Barangsiapa akhirat itu menjadi tujuan niatnya maka hal-hal yang menjadi tujuannya akan dikumpulkan oleh Allah entah darimana jalannya, tahu-tahu datang dari sana dan sini”.

Subhanallah. Dan Allah menjadikan kaya hati di dalam hatinya, semuanya merasa cukup, jika mendapatkan uang sedikit cukup, mendapatkan banyak cukup, itulah jika tujuan akhirat menjadi tujuann nya. Tiba-tiba dunia datang dengan sendirinya, dunia mengejarnya karena niat akhirat nya itu.

Menata Niat, Sementara itu barang siapa tujuannya adalah dunia, maka Allah akan mengocar-ngacir. Terkadang yang dituju tidak dapat malahan berlari menjauh. Jika dapat pun maka hatinya tidak pernah puas. Betapa pun mendapatkan uang yang banyak.

Padahal tidak datang urusan dunianya kecuali yang telah ditetapkan oleh Allah swt. kepadanya. Jika kita melihat orang-orang sholeh, tidak pernah ngoyo, selalu mensyukuri, tidak pernah lepas dari Allah swt ada atau tidak tetap bersyukur dan cukup.

Sementara orang yang menjadikan siang jadi malam atau malam menjadi siang, kaki menjadi kepala, kepala menjadi kaki, toh tetap dapatnya segitu saja. Menjadikan hidup berkah ini sangat penting dan sangat terkait dengan niat yang kita pasang, niat yang kita gotong, niat menjadi salah jika kita wiridan yang banyak agar dagangan kita laris.

Aneh, Semestinya kita mencukupi dunia untuk kekuatan beribadah. Sholat dhuha, sholat tahajjud seumpama agar lancar rizki. Terbalik, Padahal sing duniani dapat mengakhirati sementara yang akhirati ternyata duniani.

Menata Niat, Segala aktivitas yang kelihatan seperti dunia dapat menjadi aktivitas akhirat. Dan sebaliknya aktivitas yang kelihatan seperti akhirat ternyata bersifat dunia. Ini semua terletak pada niat awal yang dipasang. Niat yang dipasang di awal inilah yang harus di tata kembali. Keberkahan akan kita dapatkan jika meletakkan niat kita di awal sebagai ibadah.

Walaupun seseorang duduk di masjid, hendaknya dia tidak sembarang duduk, jika niat awal adalah itikaf, maka duduknya itu bernilai ibadah. Contoh lain, jika seseorang sikat gigi kemudian dia ingat Rasulullah selalu membawa sikat untuk mengosok gigi maka itu dapat bernilai ibadah dengan niat mengikuti sunnah Nabi.

Dalam satu kaidah di katakan, yang artinya:
“Dengan niat yang baik dan tulus maka kegiatan sehari-hari itu dapat bernilai ibadah.”

Alangkah indahnya jika seluruh aktifitas kita sehari-hari bernilai ibadah dan kita akan mendapatkan ganjaran di akhirat dikarenakan karena setiap kebaikan akan bernilai 10 kali dan akan berlipat sesuai dengan janji Allah.

Menata Niat, Kembali kepada firman Allah di atas mari kita pahami bersama dan menata kembali niat agar setiap aktifitas kita berkah dan diberkahi Allah swt.

———————————
Ikuti perkembangan Persyadha terbaru melalui:

Website: persyadha
Video Taklim: youtube/taklimtube
FanPage: fb/persyadha/
Twitter: @persyadha

Artikel Terbaru

eNHa TV

Masukkan kata pencarian disini