Khutbah Jumat | Memaknai Usia
Oleh | Abina KHM. Ihya’ Ulumiddin

Memaknai Usia, Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia hafizhakumullah,

Matahari terbit tiap hari. Siang malam susul-menyusul datang bergantian. Detik, menit, dan jam terus berjalan tiada berhenti. Hari berganti hari. Hari-hari menjadi minggu, bulan, dan tahun. Itu semua adalah manifestasi usia. Ia terus bergerak dan bergulir dan bila berlalu tidak akan kembali.

Usia ibarat mesin di sebuah perusahaan. Ia senantiasa beroperasi, dari tahun alif hingga tahun dal. Bila mesin yang terus beroperasi itu tidak dimanfaatkan, maka hitunglah berapa kerugian yang diderita perusahaan tersebut. Saat ini bukanlah saat kemarin. Dan saat ini tidaklah sama dengan esok dan lusa.

Oleh karena terus berjalan, pergerakan usia berarti sangat cepat dan singkat. Tiap dengus nafas yang kita keluarkan adalah bagian dari usia kita. Ia adalah pedang yang sangat tajam. Ia tidak menanti orang lengah lagi berpaling hingga ia sadar. Orang yang lengah dan siapapun yang tidak sadar akan digilasnya.

Hasan al-Bashri berkata, “Setiap hari ketika fajar merekah ada penyeru dari sisi Tuhan memanggil, ‘Wahai anak Adam, aku adalah makhluk baru dan aku menjadi saksi atas perbuatan kalian. Maka berbekallah dariku dengan amal shaleh. Sesungguhnya jika aku berlalu, maka aku tidak akan kembali lagi sampai hari Kiamat.” (Khuluqul Muslim, hal. 227)

Setiap hari matahari terbenam. Ada yang bekerja dan berhasil, dan ada yang bekerja namun merugi. Dan hari yang misterius ini akan menjadi saksi bagi manusia.

Memaknai Usia, Hasan al-Bashri berkata, “Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu adalah hari-hari. Bila satu hari lepas, maka lepaslah sebagianmu.” Dia juga bertutur memberikan kesan, “Aku mendapati satu kaum (generasi sahabat) yang dalam hal waktu mereka lebih sigap dan disiplin dibanding dengan sigap dan disiplinmu saat ini dalam mencari dirham dan dinar.”

Baca Juga : Khutbah Jum’at | Menata Niat

Pergerakan usia yang cepat dan singkat akan bertambah cepat dan singkat temponya manakala zaman telah menjelang akhir seperti sekarang ini. Rasanya pagi hari baru tadi kita rasakan, kini sudah masuk malam. Sepertinya baru kemarin tahun 2008, kini sudah 2018. Seakan-akan baru kemarin usia kita 25 tahun, kini sudah menapaki 45 tahun. Subhanallah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Tidak akan tiba hari Kiamat sehingga tempo zaman menjadi pendek (singkat). Tahun menjadi seperti bulan. Bulan menjadi seperti minggu. Minggu seperti hari. Hari seperti sesaat. Sesaat seperti laksana nyala api.” (H.R. Tirmidzi)

Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia hafizhakumullah,

Pergerakan usia yang cepat tentunya harus diikuti dengan kesigapan dan kedisiplinan memanfaatkan dan mengelolanya. Bila tidak, seperti dominannya kebiasaan menunda-nunda waktu, tentunya kerugian dan penyesalan yang akan diterima. Hidup hanya sekali, maka hiduplah yang berarti. Usia hidup kita saat ini tidak akan kembali untuk kedua kalinya.

Memaknai Usia, Karena itu, kita harus mengikat usia itu dengan berbagai aktivitas yang diridlai Allah Swt., baik dengan ibadah, dzikir, berdakwah, mencari ilmu, bekerja mencari sumber penghidupan (maisyah), membaca al-Qur’an, tafakkur, dan sebagainya. Usia jangan sampai terbuang sia-sia tanpa aktivitas yang berguna, menganggur, atau digunakan justru dengan aktivitas kedurhakaan, atau ditunda-tunda. Usia adalah peluang. Peluang itu harus direbut, sebab bila telah lewat, ia tidak akan bisa lagi kita dapati.

Baca Juga : Sejenak Pagi #364 | Romadhon 24

Sahabat Abdullah bin Mas’ud ra. berkata, “Aku tidak menyesal kepada sesuatu melebihi penyesalanku kala matahari terbenam, ajalku berkurang, sedang amalku tidak bertambah.” (Qîmah az-Zamân ‘inda al-Ulamâ’, hal. 27)

Usia yang kita miliki merupakan hujjah bagi kita. Maknanya, usia akan menjadi pembantah dari berbagai alasan yang akan kita kemukakan kelak di yaumil mizan. Usia akan dimintai pertanggungan jawabnya. Kita bisa mendapatkan siksa dari Allah Swt. manakala usia tidak kita manfaatkan dengan baik dan benar. Mari kita renungkan bantahan Allah Swt. terhadap argumentasi orang-orang kafir, ketika mereka meminta dikeluarkan dari neraka dan berjanji akan mengerjakan amal shaleh.

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu : “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (adzab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zhalim seorang penolongpun. (Q.S. Fâthir: 37)

Hadirin Sidang Jumat yang berbahagia hafizhakumullah,

Memaknai Usia, Usia adalah tempo (tenggang waktu) yang dikaruniakan Allah Swt. agar kita manfaatkan. Kita masing-masing tidak tahu berapa tempo usia yang menjadi jatah kita. Sementara ajal kematian selalu mengintai setiap detak napas kita. Saat kita sehat, kesehatan itu bisa disusul oleh sakit dan saat kita longgar (punya waktu luang), kelonggaran itu bisa disusul oleh berbagai kesibukan dan kendala. Maka, kapan lagi kita memanfaatkan usia, kalau tidak sekarang ini. Senyampang masih diberikan kesehatan dan waktu luang. Tempo usia kita kelak dari saat ke saat akan dihisab. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

Baca Juga : Cahaya Fajar | Manusia Sebenarnya

“Kedua kaki seorang hamba tidak akan bisa menapak pada hari Kiamat sehingga ditanya tentang empat perkara; tentang usianya bagaimana dia menghabiskannya, tentang masa mudanya bagaimana ia mempergunakan, tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan ke mana dia mendistribusikan, serta tentang ilmunya, apa yang dia amalkan dari ilmunya itu.” (H.R. Tirmidzi dari sahabat Abu Barzah al-Aslami)

Alangkah menyesalnya kita di akhirat kelak ketika menyadari bahwa banyak dari tempo usia kita yang kita sia-siakan. Tidak kita manfaatkan kecuali untuk kedurhakaan atau untuk hal-hal yang tidak berguna. Kelak, penduduk surga akan menyesali diri atas satu waktunya yang berlalu tanpa digunakan berdzikir kepada Allah Swt. Jika ahli surga saja merasa rugi dengan satu waktunya yang berlalu tanpa digunakan berdzikir, bagaimana dengan orang yang belum tentu menjadi penghuni surga yang sekian banyak waktunya terbuang sia-sia. Lalu bagaimana pula dengan orang-orang kafir penghuni neraka, betapa nyata rugi mereka atas usianya, yang berlalu dengan kelalaian (al-ghaflah wa al-nisyan), yang melampaui batas kepada Allah Swt.

Sahabat Muadz bin Jabal ra. menceritakan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Tidak ada yang membuat penghuni surga menyesal atas kehidupannya di dunia, kecuali atas berlalunya beberapa saat tanpa diisi dengan dzikir kepada Allah ‘azza wa jalla di dalamnya.” (H.R. Thabarani)

Baca Juga : Fas’alu | Hukum Bertayamum Dengan Bedak

Memaknai Usia, Sebelum terlambat, tempo usia semestinya diantisipasi dengan memberi makna-makna yang anggun di dalamnya, sebelum usia itu habis jatah temponya, atau senyampang belum datang ketuaan, pikun, sakit, kesibukan, kefakiran, dan lainnya yang merintangi kita memanfaatkan usia secara leluasa.

Usia semestinya juga tidak disia-siakan dengan menunda-nunda aktivitas yang positif (amal shaleh), karena sikap menunda-nunda sendiri akan menggerogoti usia kita. Ironisnya, sikap menunda-menunda dan tidak ambil peduli dengan usia merupakan fenomena kebanyakan umat manusia sekarang ini. Mereka sama tertidur (tidak sadar) dan baru tersadar ketika maut menjemputnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan,

 

“Ada dua kenikmatan yang banyak membuat manusia terpedaya, yaitu kesehatan dan kesempatan (waktu luang).” (H.R. Bukhari)