Ketika dakwah dicemooh, ingatlah dawuh Abina KH. Ihya Ulumiddin:

“Suatu saat antum di lok-lokno wong antum biasa ae, jadi dai harus siap seperti itu!.”

Seorang dai memang memiliki sekian banyak tantangan yang harus dihadapi. Sebab kapasitas dai sebagai seorang mushlih, atau dalam istilah akrab disebut sebagai agen perbaikan (agent of change) membuat banyak orang terusik akan kehadirannya.

Term mushlih amat berbeda dengan term sholih. Pada umumnya orang yang memiliki karakter sholih tiada banyak mendapatkan kecaman dari masyarakat. Sebab karakter tersebut lebih berpengaruh untuk diri sendiri. Namun seseorang yang memiliki karakter sebagai seorang mushlih, maka keberadaannya menjadi sebuah ancaman tersendiri bagi pihak-pihak yang belum mendapatkan hidayah dari Allah ta’ala. Pihak-pihak yang eksistensinya terancam sebab pusat bidik perbaikan seorang agen adalah apa yang telah menjadi rutinitas, mengakar, membudaya, dan menjadi karakter yang mereka tampilkan setiap saat, yang mereka klaim sebagai suatu hal yang wajar, atau bahkan diklaim sebagai suatu hal yang baik. Sehingga jika mengemuka seseorang yang berusaha mengusik eksistensi hal itu, mereka akan dengan cepat merespon semua itu dengan ungkapan atau tindakan pembungkaman usaha perbaikan yang ia lakukan. Dalam term yang biasa kita dengar bahwa, annas a’dau maa jahilu.

Jika kita membaca shirah perjalanan jejak Sang Penyeru sekalian alam, Nabi Idaman Rasulillah shalallahu alaihi wasallam, kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa, usaha dakwah dan perbaikan yang di ikhtiarkan oleh Nabi mengalami begitu banyak tantangan dari Kaum Quraisy Jahily pada saat itu. Sekian banyak hal menyakitkan di alami oleh baginda dan para sahabat. Mulai dari hinaan dan cacian memakai lisan, sampai yang bersifat fisik seperti siksaan dan percobaan pembunuhan.

Baca juga: Dzauq

Betapa seorang Abu Jahal demikian getol dalam melancarkan fitnah yang amat keji kepada masyarakat tentang diri Rasulillah. Dikala Rasul melakukan dakwahnya, dikala itu pula Abu Jahal tiada pernah lelah dan bosan membuntuti dibelakang Rasul untuk melancarkan fitnahnya kepada masyarakat. Bahwa Muhammad adalah pendusta, tukang sihir, orang gila, tukang pembikin syiir, dan sumpah serapah lain yang begitu menyakitkan. Namun Rasulullah terus saja maju melaju mengusahakan yang terbaik untuk menegakkan kalimah tauhid meski taruhannya adalah nyawa. Rasulullah tak pernah putus harapan, meski tak terhitung berapa banyak orang yang berusaha menghentikan dan menggagalkan dakwah yang ia emban.

Maka sebagai penerus estafet perjuangan Sang Baginda, semestinya kita banyak belajar dari kegigihan Rasulullah dan para sahabat dalam menyebarkan Islam sehingga berhasil menjadi agama yang begitu mendunia. Apa saja tantangan yang datang, kita mesti pantang menyerah mencari solusi. Apa saja masalah yang menghadang, kita mesti berusaha menyelesaikannya. Jika masalah itu berupa hinaan dan cacian yang menusuk dari obyek dakwah, maka kita mesti berusaha legawa, membesarkan hati, memaafkannya, dan berusaha berbuat baik kepada mereka. Kita harus memiliki keyakinan bahwa selepas kesulitan akan hadir dua kemudahan.

Memang demikian mudah untuk diutarakan. Namun amat sulit dan berat dalam pelaksanaan. Semoga kita dimudahkan untuk meneladani kehidupan Rasulillah shallallahu alaihi wasallam.

Wallahu a’lam bisshowab.

Shabieq El Himam, alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon, saat ini melanjutkan studi di Al-Azhar Kairo Mesir.