HAJI DAN RUKUN-RUKUN ISLAM SEBELUMNYA,

Haji , Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh

Di antara teman-teman kita pada bulan Dzulqo’dah ini, mendapatkan taufiq dan pertolongan dari Allah swt. untuk dapat melaksanakan tiang Islam yang kelima yaitu hijjul bait (menuju baitullah) untuk menuju kesempurnaan beribadah dan penghambaan diri (tammin ibadah ubudiyyah) kepada Allah Swt. Pada khutbah kali ini perlu kami sampaikan hubungan tiang haji yang kelima ini dengan tiang-tiang sebelumnya.

Bertolak pada hadits Rasulullah Saw.

”Bangunan Islam dibangun atas tiang yang lima…”

Sudah tentu ketika Islam ini dibangun dengan kokoh maka sudah tentu tiang-tiang ini adalah tiang-tiang yang kokoh. Tetapi kekokohan tiang-tiang tersebut kembali kepada kita sendiri bagaimana memahami tiang-tiang itu. Ketika kita memahami makna yang terkandung dalam 5 tiang-tiang itu. Maka di situlah kita dikatakan kokoh pemahaman keimanan dan keislaman kita. Haji

Baca Juga : Khutbah Jumat | Mensyukuri Nikmat dengan Mencintai Rosululloh

Dalam khutbah yang singkat ini, perlu kami sampaikan keterkaitan rukun-rukun Islam satu dengan lainnya. Sudah tentu yang perlu kita pahami adalah ’ngaji makno’ bukan ’ngaji wacan’. Ketika kita ngaji makno tentang tiang-tiang yang kokoh ini mampukah kita mengamalkannya? Jawabannya ada pada diri kita masing-masing. Pemahaman kita pada tiang-tiang yang kokoh tersebut akan berimplikasi pada kuat dan rapuhnya iman kita.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Islam merupakan merek paten. Merek paten ini perlukan karena Islam itu sendiri diperjuangkan mulai sekian ribu tahun yang lalu diturunkan kepada Nabi Adam as. Melewati tantangan dan ujian yang berat hingga akhirnya lolos dari ujian dan tantangan tersebut. Kemudian kesempurnaan Islam ini dibawa Rasulullah Saw. ketika Beliau menerima firman Allah Swt. di hari Arofah yang dikenal dengan nama Haji Wada’.

“…pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu…” QS. Al-Maidah: 3. Haji

Islam ini agama yang diridhoi, karena itu merek paten itu perlu. Alhamdulillah, kita mendapatkan merek paten tersebut. Tanpa merek paten ini jangan harap ada keselamatan. Dengan merek paten ini akan dinilai seluruh aktifitas kita sebagai ibadah oleh Allah Swt. Alangkah sayangnya, orang-orang kafir yang memiliki jasa yang besar dalam perkembangan kemajuan dunia ini, seluruh amalnya tidak dianggap oleh Allah Swt. karena mereka tidak memiliki merek paten itu. Haji

Baca Juga : Khutbah Jumat | Mensyukuri Nikmat dengan Mencintai Rosululloh

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Syahadat, merupakan tiang-tiang kokoh yang pertama. Tiang ini sangat terkait dengan surga. Syahadat laa illaha illallahu merupakan kunci surga. Barangsiapa yang ber-Islam maka dia telah memiliki kunci surga. Untuk membuka dan tidaknya kembali kepada kita. Mengerti dan memahami makna syahadat ini terkait dengan tiang-tiang yang lainnya. Bisa jadi kita telah memegang kunci surga tetapi kita masuk surga diakhir-akhir karena tidak memahami tiang-tiang lainnya. Kita harus memahami kelanjutannya setelah kita memegang kunci surga. Keterkaitan syahadat sebagai kunci surga dengan rukun-rukun Islam yang lain.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Selanjutnya adalah shalat. Shalat merupakan media komunikasi seorang hamba dengan Allah Swt. Mendapatkan merek paten tetapi tidak pernah berhubungan dengan Allah dalam mengarungi kehidupan ini tidak ada artinya. Kita harus terus melakukan hubungan dengan Allah, berkomunikasi dengan Allah, paling tidak 5 kali dalam sehari. Hal ini pertanda bahwa kita mensyukuri adanya merek paten yaitu Islam. Itulah yang menjadi inti ibadah dalam keseharian hidup kita, yaitu shalat sebagai media komunikasi dengan Allah Swt. Kita meminta kepada Allah Swt. agar diampuni dosa-dosa kita, rabbilfighfirli. Kita minta dikasih sayangi Allah, warhamni. Kita meminta diangkat derajat kita, warfa’ni. Kita minta kepada Allah diberi rizki, warzuqni. Wahdini, Wa’afani dan lain sebagainya. Demikian salah satu bacaan doa yang kita lantunkan dalam shalat kita. Shalat ini fardhu karena telah ditentukan oleh Allah, Haji

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” QS. an-Nisaa’: 103.

Kewajiban yang tidak boleh ditinggal. Jika ditinggalkan sudah tentu ada ancaman yang besar. Namun begitu, shalat yang dilaksanakan 5 menit ini dalam sehari 5 kali banyak teledor dan tidak khusyuk dalam menjalankannya. Sungguh sangat jauh dari inti ibadah.

Baca Juga : Khutbah Jumat | Mensyukuri Nikmat dengan Mencintai Rosululloh

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Ibadah itu sendiri tidak hanya hubungan manusia dengan Allah Swt. Hubungan manusia dengan manusia juga dinilai Allah Swt. sebagai ibadah. Ketika manusia menyenangkan sesamanya, maka manusia itu berakhlak dengan akhlaknya Allah. Sifat kasih sayang Allah ditiru manusia. Menyenangkan manusia ini diwujudkan dalam ibadah wajib yaitu zakat. Zakat adalah awal proses menyenangkan orang lain. Kita diharuskan menyisikan sebagian rizki yang kita miliki kepada orang lain. Tidak hanya zakat, Allah Swt. berfirman

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak”. QS. Al-Hadid: 18.

Ada shadaqah yang tidak wajib, yaitu infak dan sedekah. Shadaqah ini tidak hanya berupa harta dan makanan. Mengucapkan kalimat thayyibah juga shadaqah. Kullu tahmid shadaqah, kullu takbiratun shadaqah, wa kullu tashbih shadaqah, wa kalimatun shadaqah.

Berbicara kalimat yang baik, indah, dan menyenangkan didengar adalah shadaqah. Kita juga dianjurkan Rasulullah Saw. untuk selalu berseri wajah ketika bertemu dengan teman,

مِنَ الصَّدَقَةِ أَنْ تُسَلِّمَ عَلَى النَّاسِ وَأَنْتَ طَلِيْقَ الْوَجْهِ

“Termasuk sedekah jika mengucapkan salam kepada orang – orang beserta wajahmu yang ramah berseri – seri “(HR Ibnu Abi Dun’ya. Ini adalah hadits Mursal).

Dan juga,

تَبَسُّمُكَ فِى وَجْهِ أَخِيْكَ صَدَقَةٌ

“Senyummu di (hadapan) wajah saudaramu adalah sedekah” (HR Turmudzi Ibnu Hibban)

Inti ibadah zakat ini adalah bagaimana kita menyenangkan orang lain. Ibadah menyenangkan orang lain yang dapat menumbuhkan sikap kasih sayang bersama, satu dengan yang lain. Tidak ada saling hasut, dan rasa dengki. Hidup guyub dan rukun. Hal ini dapat terwujud jika diantara kita memiliki sifat pandai menyenangkan orang lain. Menyenangakan orang lain merupakan makna yang terkandung dalam rukun Islam yang ketiga yaitu az-zakah. Rukun Islam ketiga ini merupakan ibadah yang terkait hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Baca Juga : Khutbah Jumat | Mensyukuri Nikmat dengan Mencintai Rosululloh

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh, Haji

Selanjutnya, rukun Islam yang keempat, puasa. Setiap muslim pasti dapat tidak melakukan makan, minum dan tidak berkumpul dengan istri mulai pukul 5 pagi hingga pukul 6 sore. Toh setelah itu kita diperbolehkan makan, minum dan juga berkumpul dengan istri. Kita harus mengetahui apa yang sebenarnya makna dari puasa yang kita lakukan. Bukan sekedar menahan tidak makan, tidak minum, dan tidak berkumpul dengan istri. Makna yang dikandung oleh tiang kekokohan Islam yang keempat ini adalah bagaimana kita dapat melawan hawa nafsu. Kita diuji oleh Allah Swt. melalui hawa nafsu, syetan, teman-teman yang seperti syetan serta ingkungan yang tidak mendukung. Kita memiliki akal dan hati. Suatu kita akal kita menang, dilain waktu nafsu yang mengatur kita. Terkadang kita kuat melawan hawa nafsu dan terkadang kita juga terkalahkan oleh nafsu kita. Kuat atau tidak tergantung pribadi kita masing-masing. Selalu dapat mengontrol hawa nafsu yang ada di dalam diri kita. Itulah makna dari puasa yang kita lakukan.

Baca Juga : Khutbah Jumat | Mensyukuri Nikmat dengan Mencintai Rosululloh

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh, Haji

Terakhir, rukun Islam yang kelima, haji. Jika keempat rukun Islam dapat kita laksanakan maka orang yang berhaji telah melakukan ”tammamul ibadah ubudiyyah” kesempurnaan beribadah dan penghambaan. Ibadah haji ini dilakukan dengan uang yang tidak sedikit, menguras tenaga, susahnya meninggalkan keluarga, dan membutuhkan waktu yang lama. Namun setibanya di sana kita diperintahkan Allah hanya berputar-putar, berlari-lari kecil, dan berkumpul dipadang Arofah dengan banyak manusia. Suasana hawa yang panas terik. Tidak ada waktu yang menyenangkan. Seluruhnya susah payah. Itulah ibadah haji dan kita diperintahkan Allah Swt. melakukan semua itu. Masuk akal atau tidak. Kita harus tunduk atas perintah itu. Di sanalah kita mengetahui jati diri kita sebenarnya. Seakan Allah Swt. berkata, ”Wahai manusia, kamu itu siapa?” ”Wahai manusia, kamu itu tidak ada apa-apanya.”. Begitu kita memasuki Makkah, kita akan merasa kecil. Siapapun kita. Presiden, jenderal, wali, nabi, seorang penguasa, dan lain-lainnya.

“Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia”

Makkah atau Bakkah, yang bermakna qoto’a, bakka, yabukku, bakkan dan qota’a, yaqtho’u, qot’an, berarti memutus leher. Jika kita berangkat menunaikan ibadah haji berarti kita memutus leher kita. Memutus leher dalam arti Allah tidak memandang diri kita siapa. Di sana kita sendiri-sendiri. Presiden sendiri. Jenderal sendiri. Tidak ada pengawal lagi. Hati orang-orang yang beribadah haji digelontor oleh Allah Swt. Sifat manusia jika telah memiliki kemampuan dan kekuasaan selalu melakukan perbuatan yang merugikan orang lain. Jika ia mempunyai ilmu maka akan digunakan menzalimi yang bodoh. Jika ia memiliki harta yang lebih cenderung menzalimi yang kekurangan harta. Dan lain sebagainya.

Baca Juga : Khutbah Jumat | Mensyukuri Nikmat dengan Mencintai Rosululloh

Allah Swt. tidak pernah melihat kita dari pangkat atau kelebihan yang kita miliki. Tukang sapu dan direktur sama. Presiden dengan Pak RT tidak ada bedanya. Hati yang dimiliki manusia itulah yang dilihat oleh Allah Swt. Hatilah yang membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lain. Sudah menjadi ketentuan Allah Swt. menjadikan manusia itu kaya, miskin, ganteng, berpangkat dan kelebihan lainnya Bukan ketentuan manusia. Hikmah Allah menjadikan seperti itu agar manusia satu dengan yang lain saling membutuhkan. Ada dokter tentu ada pasien. Ada kyai tentu ada santri. Dan contoh-contoh lainnya. Adanya hal ini menjadikan manusia satu dengan yang lainnya saling melengkapi, membutuhkan dan mengisi. Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi antara yang satu dan yang lainnya. Jika salah satu berbuat zalim terhadap yang lain sudah tentu bertentangan dengan saling berkebutuhan, saling mengisi, dan saling melengkapi. Islam tidak pernah mengajarkan menzalimi yang lemah.

Madrasah haji menjadikan orang yang menunaikannya memahami hal tersebut. Manusia tidak ada apa-apanya. Contoh pelaksanaan wukuf di Arofah, setiap laki-laki hanya memakai pakaian dua helai kain saja tidak boleh lebih dari itu. Di akhir ibadah haji, setiap laki-laki memotong rambutnya hingga gundul. Tidak peduli ia presiden, harus gundul. Apakah ia jenderal, juga harus gundul. Walhasil, siapa dan apapun kedudukannya, diakhir ibadah haji diharuskan mencukur rambut hingga gundul. Haji

Baca Juga : Khutbah Jumat | Mensyukuri Nikmat dengan Mencintai Rosululloh

Ibadah haji memberikan pelajaran bagi yang melaksanakannya. Memahami dengan benar siapa diri mereka sebenarnya. Kecil, kerdil, dan tidak memiliki apapun di hadapan Allah Swt. Suatu pelajaran bagi setiap yang berhaji. Melaksanakan seluruh ritual ibadah haji dengan ikhlas dan dibiayai dari harta yang halal. Walaupun pribadi tersebut sebelum melaksanakan ibadah haji memiliki pribadi yang ‘mbeling’ dan tidak baik, Insya Allah akan berubah. Berubah lebih baik dibandingkan dengan sebelum haji. Rahmat Allah turun berbagai rupa seperti hujan deras yang turun ke bumi. Segala dosa diampuni. Segala yang kurang baik dan buruk akan ditutupi oleh yang baik-baik.

Jika sepulang haji tidak mengalami perubahan ke arah yang lebih baik, bahkan tambah lebih buruk ketika sebelum berhaji, ada sesuatu yang salah dan patut dipertanyakan. Ada hijab yang menyelimutinya. Hijab yang menghalangi masuknya sentuhan-sentuhan dan rahmat Allah kepada hati. Hijab ini dapat berasal dari mempergunakan harta yang haram dalam menunaikan ibadah haji.

Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Inilah para jamaah jumah hafidhokumullah, keterkaitan rukun-rukun Islam satu dengan yang lainnya sebagai tiang-tiang yang kokoh. Kekokohan tiang tersebut kembali kepada diri kita masing-masing menjaganya. Ketika kita dapat memaknai ‘ngaji makno’ yang terkandung di dalamnya untuk selanjutnya kita amalkan.