Khutbah Jum’at: Salah Satu Tanda Akhir Zaman
oleh: Abina KHM. Ihya’ Ulumiddin.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Pertama-tama dari atas mimbar ini kami sampaikan wasiat bersama. Wasiat yang terkait dengan kehambaan kita kepada Allah Subhanawata’ala. Sebatas mana kita menghambakan diri kepadaNya. Tundukkah kita akan peraturan-peraturannya? Mengertikah kita bahwa Allah Ta’ala adalah Maha Pengasih tetapi Allah juga raja diraja di hari kiamat? Sudah tentu kita harus takut terhadap apa yang akan terjadi di hari kiamat nanti. Karena masing-masing kita ini nantinya diminta pertanggung jawaban tentang amal kita masing-masing selama hidup di dunia ini.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Wasiat yang kami sampaikan di atas sangat terkait dengan kehambaan kita, kehambaan yang memberikan konsekuensi yang selalu terikat dengan hukum-hukum Allah Ta’ala. Dalam arti, seorang muslim tidak melakukan perbuatan sekecil apapun kecuali ia mengetahui hukumnya. Boleh atau tidak boleh, haram atau halal, mubah atau makruh, dan hukum-hukum yang terkait dengannya.

Jamaah yang berbahagia hafidhokumulloh,

Meskipun Hari Raya Idul Adha masih beberapa bulan lagi. Dan, hari yang di dalamnya itu tidak lepas dari apa yang dilakukan teman-teman kita yang diberi kesempatan oleh Allah Ta’ala menunaikan ibadah haji. Mereka mencontoh ibadah haji yang dilakukan oleh Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam. Ibadah haji yang dikenal dengan “Hujjatul Wada’” Kita juga mengingat khutbah wukuf yang beliau shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan tepat pada hari Jumat kepada seluruh jamaah haji yang yang hadir di Arofah. Namun bukan itu yang akan kami sampaikan.

Diriwayatkan dari Sayyidina Ibnu Abbas ra. Beliau berkata Rasulullah melaksanakan haji wada’ kemudian ketika Beliau berada di ka’bah, sambil memegang handle pintu ka’bah. Beliau berkhutbah, “Wahai para manusia, maukah kalian saya beritahu tanda-tanda datangnya hari kiamat. Kemudian, Salman berdiri dan menjawab, “Beritakanlah kepada kami ya Rasulullah tentang apa yang akan engaku kabarkan.” Berkata Rasululloh, “Termasuk tanda-tanda datangnya hari kiamat adalah menyia-nyiakan shalat.”

Tanda-tanda ini tentunya diperuntukkan untuk kita kaum muslimin. Shalat, ketika awal generasi yang dibimbing langsung oleh Rasulullah, dikenal dengan khoiruh ummah (sebaik-baik umat) telah mengalami pergeseran nilai sedikit demi sedikit. Pada akhirnya tiba pada satu generasi di mana shalat telah disia-siakan. Hal ini sangat sesuai dengan firman Alloh Ta’ala dalam surat Maryam: 59, yang artinya

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan,”

Datang satu generasi di mana generasi ini bukan generasi yang baik, generasi yang buruk. Generasi ini ditandai dengan menyia-nyiakan shalat. Jika seseorang itu dengan shalatnya menganggap sebagai suatu kewajiban adalah untung besar karena ia menganggap antara ia dan Allah ada suatu kewajiban sebagai seorang hamba dengan khaliknya. Apalagi shalat itu dijadikan sebagai media komunikasi dengan Alloh Ta’ala. Orang tersebut termasuk tidak menyia-nyiakan shalat. Pengertian menyia-nyiakan shalat jika seseorang tidak memiliki perasaan kewajiban shalat apalagi mengganggap shalat bukan sebagai media komunikasi dengan Allah Ta’ala.

Sudah tentu jika shalat ini tidak terurus dengan baik, mereka selalu memperturutkan hawa nafsu. Generasi seperti ini oleh Alloh Ta’ala dikatakan menemukan kesesatan di akhirat nantinya.

Kembali kepada hadits di atas. Ketika Rasululloh mengabarkan tanda-tanda hari kiamat. Rasululloh mengatakan “iba’ah sholah” menyia-nyiakan shalat dan kecenderungan memperturukan hawa nafsu. Hawa nafsu menang atas seseorang mengalahkan hak dan kewajiban atas Alloh Subhana wata’ala. Mereka lebih mengagungkan pemilik harta dan orang-orang berduit ketimbang ulama dan orang-orang shaleh.

Kemudian Salman berkata, “Terjadi seperti ini ya Rasululloh?” Rasululloh menjawab, “Iya, demi Alloh, Dzat yang jiwa raga Muhammad di tangan-Nya.” “Pada waktu itu wahai Salman, ada zakat dihutang-hutangkan, datangnya harta menjadi rebutan di sana sini, dan sang pedusta justru dibenarkan dan dipercaya, orang yang jujur justru didustakan, orang yang berkhianat justru dipercaya, orang yang bisa dipercaya malah dianggap berkhianat dan akan berbicara ar roghiboh.” Berkata para sahabat, “Apakah itu ar roghibo?” Rasulullah berkata, “Apa yang berbicara tentang manusia, apa dan siapa yang tidak bisa berbicara.” Dalam hal ini adalah isyarat adanya teknologi canggih. Yang tidak dapat berbicara, berbicara tentang manusia. Apakah itu radio yang benda mati atau tv yang benda mati, ataukah handphone dan lain sebagainya. Semua ini benda mati yang dapat berbicara dengan jelas tentang keadaan dan perilaku manusia. Saat ini kita memasuki dunia 3G dan suatu ketika kita akan masuk dalam teknologi hologram yang berbicara tentang manusia.

Ada keterangan dari Rasulullah Sholallohu ‘alaihi wassalam bahwa suatu saat ini ada sandal yang dapat berbicara. Di mana sandal ini akan berbicara tentang keadaan keluarga yang ada dirumahnya. Lepas dari hadits ini menjelaskan hakekat sandal yang berbicara atau isyarat adanya benda-benda mati saat ini yang berbicara. Seperti handphone yang dapat berbicara yang kita bawa kesana kemari seperti halnya sandal yang kita pakai. Pada masa itu banyak orang tidak mengutamakan lagi nilai-nilai yang religius. Demikianlah gambarannya.

Berkata guru kami, as Sayyid Muhammad bin Alwy Al Maliki tentang sandal yang berbicara di akhir zaman. Beliau mengartikan secara hakekat bahwa ada sandal berbicara. Di saat teknologi manusia sedemikian canggih yang mana pencapaiannya diperlukan eksperimen bertahun-tahun terlebih dahulu. Radio, televisi, handphone dan lain sebagainya didapatkan melalui eksperimen yang membutuhkan waktu lama. Alloh cukup berkata ‘kun fa yakun’ tidak butuh waktu bertahun-tahun, sebuah sandal yang tidak ada alat-alat yang menempel padanya dapat berbicara. Hal ini menunjukkan kekuasaan dan kekuatan Allah Subhana wata’ala atas manusia yang lemah itu.

Selanjutnya, Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wassalam berkata, “Pada zaman itu kebenaran Islam diingkari lebih dari 90% manusia. Sirna Islam ini. Islam tinggal namanya saja”. Islam hanya sebagai KTP. Tidak ada pengamalan terhadap ajaran-ajaran Islam.

Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wassalam berkata, “Al Quran ada kecuali tinggal tulisannya”. Hadits ini sangat panjang yang tidak mungkin kami sebutkan seluruhnya di mimbar Jumat yang terbatas waktunya ini.

Seiring denga hadits yang kami bacakan sebelumnya, ada hadits yang diriwayatkan Imam Turmudzi, dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Shalallohu ‘alaihi wassalam berkata, yang artinya

“Wahai sahabat-sahabatku, kalian hidup di suatu zaman, barangkali di antara kalian meninggalkan 10% saja dari agama ini kalian celaka, tetapi akan datang suatu zaman, seseorang mengamalkan 10% agama ini akan selamat”.

Adanya hadits ini membuat kita lebih berhati-hati hidup di zaman ini. Kita hidup di suatu zaman, pendusta dibenarkan, orang yang jujur dikhianati. Aneh, saat ini orang-orang lebih percaya pada mama Loren, Ki Joko Bodo, Gendeng Pamungkas, dan lainnya ketimbang orang-orang shaleh. Apalagi saat ini banyak iklan-iklan di televisi yang meramal masa depan seseorang melalui sms. Aneh. Itulah gambaran kehidupan pada zaman ini. Kita harus lebih berhati-hati. Bisakah kita mengamalkan agama ini 10% nya? Jangan sampai kita mengamalkan agama ini di bawah 10%. Kita akan mengalami kehancuran di akhirat nanti. Dan jangan-jangan kita meninggal dalam keadaan su’ul khotimah bukannya khusnul khotimah.Na’udzubillah.

Di akhir khutbah ini kami sampaikan sebuah hadits Nabi Sholallahu ‘alaihi wassalam yang artinya,

“Barangsiapa berpegang teguh pada sunnahku di saat umat ini rusak, maka bagi dia seratus pahala orang-orang yang mati syahid.”

Harapan kita bersama, semoga jamaah seluruhnya ini dijaga oleh Allah Subhana wata’ala, di jaga agama kita, dan semoga kita mati tetap dalam khusnul khotimah.