fbpx

Islam Hadirkan Solusi Masalah Kemiskinan

*ISLAM HADIRKAN SOLUSI MASALAH KEMISKINAN

oleh : Akhmad Muwafik Saleh

Islam hadir ke muka bumi sebagai solusi atas seluruh persoalan manusia. Sebagai agama wahyu dengan panduan langsung dari Allah swt Sang Pencipta Kehidupan maka telah sempurna dan komprehensif dari ajaran Islam itu mampu menjadi jalan keluar dari berbagai persoalan manusia and dan kebangsaan yang ada. Salah satu solusi Islam di bidang ekonomi adalah kewajiban menunaikan zakat bagi mereka yang telah mencapai nisabnya serta anjuran untuk mengeluarkan infaq dan sedekah nya untuk keberkahan dan mengundang datangnya rezeki. Zakat adalah bagian tertentu dari harta yang harus dikeluarkan haknya karena pada setiap harta yang dimiliki oleh setiap muslim ada hak sosial orang lain yang wajib dikeluarkan kepada yang berhak menerimanya.

Zakat berfungsi untuk membersihkan harta sdbagaimana makna zakat adalah at thahuru. ibarat seseorang setiap harinya makan dan minum dari rezeki yang diperolehnya maka tentulah baginya untuk pula mengeluarkannya agar menjadi sehat demikian sebaliknya jika seseorang tidak mengeluarkan atas apa yang dikonsumsinya tentu akan menjadi penyakit bagi dirinya. Zakat juga bermakna al barakatu, dilimpahkan keberkahan oleh Allah swt. Seorang yang menunaikan zakat maka akan menjadikan keberkahan pada hartanya. Yaitu menjadikan harta bertambah kebaikannya, bertambah manfaatnya dan menjadikan kebaikan bagi kehidupannya. Zakat juga bermakna an numuw yang berarti tumbuh dan berkembang yaitu harta yang kita keluarkan zakatnya akan bertumbuh dengan pahala yang melimpah bahkan harta akan menjadi lebih berkah sehingga dapat menumbuhkembangkan jalan usaha dari harta tersebut. Tidak ada dalam pengalaman seorang yang mengeluarkan zakatnya menjadikan usahanya macet dan bangkrut bahkan sebaliknya bertambah pesat dan berkembang. Zakat juga bermakna as sholahu yaitu beres atau keberesan bahwa siapa saja yang menunaikan zakatnya maka segala usahanya akan beres, segala persoalannya akan diselesaikan dan dimudahkan oleh Allah swt Sang Pemberi Rezeqi. Hal ini karena dirinya telah memenuhi perintah Allah swt maka Allah swt yang akan membuka jalan untuknya.

Zakat adalah salah satu rukun islam yang wajib dipenuhi sebagai tiang tegaknya agama Islam dan masyarakat muslim. Menunaikan perintah zakat berarti menunaikan perintah Allah swt dalam mewujudkan realitas masyarakat yang dikehendaki oleh Islam yaitu masyarakat yang hidup dalam kepedulian dan masyarakat adil sejahtera dalam naungan Islam.

Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyatakan jumlah penduduk Indonesia hingga Desember 2020 mencapai 271.349.889 jiwa (jumlah penduduk Indonesia 2021). Berdasarkan data World Population Review, jumlah penduduk muslim di Tanah Air saat ini (2020) mencapai 229 juta jiwa atau 87,2% dari total penduduk 271.349.889 juta jiwa

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penduduk miskin pada September 2020 sebanyak 27,55 juta jiwa. BPS mencatat pula pendapatan per kapita penduduk Indonesia pada 2019 mencapai Rp 59,1 juta/ pertahun. Artinya dalam sebulan = Rp 4,9 juta. Rp 4,9 juta/bulan. inilah rata-rata penghasilan orang Indonesia saat ini. Jika dengan menggunakan hitungan angka kasar ini maka artinya masih banyak penduduk Indonesia khususnya yang beragama Islam sebenarnya secara fiqhiyah belum mencapai batas Nishab zakat Mal atau penghasilan.

Namun sebagaimana kita juga pahamai bahwa penghasilan masyarakat tentu bisa jadi bukan hanya dari gaji atau pendapatan rutin. Boleh jadi terdapat penghasilan lain yang apabila dijumlah dalam akumulasi satu tahun akan mencapai batas nishab zakat maal ini. Dan pula bukan berarti mereka belum mencapai nashab tersebut tidak boleh mengeluarkan hartanya. Masih ada mekanisme lain dalam Islam yang dengannya bahkan akan dapat mengundang hadirnya rezeqi yaitu infaq dan sedekah. Artinya peluang potensi keuangan ummat (jika ada baitul maal) sangatlah besar yang apabila hal itu dipergunakan untuk mengentaskan masalah kemiskinan yang terjadi di negeri ini tentu akan sangat membantu menyelesaikannya.

Mari kita perhatikan, bahwa nishab zakat penghasilan adalah sebesar 85 gram emas per tahun. Kadar zakat penghasilan senilai 2,5%. Jika harga emas pada hari ini sebesar Rp800.000/gram, maka nishab zakat penghasilan dalam satu tahun adalah Rp68.000.000,-. Jika misalkan penghasilan seseorang sebesar Rp10.000.000/ bulan, atau Rp120.000.000,- dalam satu tahun (sudah wajib zakat). Maka dia wajib mengeluarkan zakat maalnya sebesar Rp250.000,-/ bulan.

Jika kita mengambil 10% saja dari jumlah penduduk muslim di Indonesia dengan penghasilan 10 jt perbulannya, maka ada 22.9 juta orang (menurut data seorang ekonom menyebutkan bahwa saat ini ada 50 juta orang Indonesia yang punya penghasilan Rp 20 juta sebulan). Maka terkumpul dana potensi zakat sebesar 274 trilliun. Sebuah angka yang sangat fantastik.

Namun ternyata, realisasi pendapatan zakat yang diakui pemerintah hanya mencapai 3,7 triliun, atau hanya 1,3% dari potensi. Masih ada 98,7% dari penduduk muslim di Indonesia yang belum teroptimalkan potensi zakatnya, Sementara menurut Laporan State Of The Global Islamic Economy tahun 2018/2019 menunjukkan bahwa potensi ekonomi Islam di Indonesia, diperkirakan pada tahun 2023 mencapai US$ 3.809 Billion atau bila dikonversikan ke riupiah nilainya sekitar Rp 500 Triliun. Data diatas sebagaimana disebutkan oleh Dompet Dhuafa.

Dengan dana sebesar itu maka tentu hal ini akan dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Mengutip dari Dompet Dhuafa bahwa dana tersebut dapat digunakan sebagai berikut :
Pembangunan atau perbaikan 10.000 sekolah dengan anggaran 1 sekolah 500 juta. Sekolah digunakan untuk kegiatan belajar gratis kaum dhuafa.
Pembangunan 1000 Rumah Sakit Gratis untuk dhuafa, dengan nilai bangunan 1 RS sebesar 5 milyar.
Pemberian modal usaha dan pemberdayaan ekonomi kepada satu juta  penduduk miskin, senilai masing-masing 3 juta rupiah.
Pemberian insentif sebesar 1 juta rupiah selama 12 bulan kepada 26,42 juta penduduk miskin, agar dapat menigkatkan daya beli ekonomi.
Insentif dakwah untuk satu juta ustadz atau marbot masjid sebesar 5 juta rupiah selama 12 bulan.
Insentif gaji untuk 100.000 amil sebesar masing-masing 5 juta untuk 12 bulan
Masih tersisa 75,91 triliun yang dapat digunakan untuk biaya operasional lembaga zakat, dana darurat untuk kebencanaan, dan deposito untuk pengembangan dana zakat selanjutnya.

Sayangnya potensi yang sangat besar tersebut masih dalam hitungan kertas. Sebab realisasi zakat selama ini menurut pemerintah masih sebesar 3,7 triliun, atau hanya 1,3% dari potensi. Sebuah angka yang sangat jauh dari yang seharusnya. Artinya masih banyak kaum muslimin yang belum sadar untuk mengeluarkan zakat penghasilannya. Hal ini bisa jadi disebabkan beberapa faktor. Baik faktor pemahaman, kesadaran atau bahkan mungkin adanya ketidakpercayaan pada lembaga pemerintah atau pula terhadap amil zakat sehingga menimbulkan kekhawatiran untuk mengeluarkan zakatnya. Walaupun sejatinya pengumpulan zakat harusnya bersifat memaksa kepada mereka yang telah mencapai batas nishab yang dilakukan oleh negara. Sebagaimana disebutkan dalam alquran :

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡ صَدَقَةٗ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٞ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. (QS. at-Taubah : 103).

Seruan (khitab) ayat ini adalah kepada Nabi Muhammad sewaktu ada di Madinah. Tentu posisi Nabi saat itu adalah sebagai penguasa atau pemimpin ummat yang memiliki kekuasaan memaksa. Artinya zakat haruslah diambil dan dikumpulkan oleh penguasa atau negara dengan segala macam konsekwensi yang ditetapkan melalui peraturan yang dibuat. Artinya potensi besar zakat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia dapat optimal digerakkan manakala ada keseriusan dalam penegakan aturan, keseriusan dalam menjaga kepercayaan publik atas lembaga pemerintah yang transparan dan adil bagi ummat islam, serta kesadaran ummat dalam menunaikan kewajiban zakatnya yang tidak hanya zakat jiwa ata zakat fitrah saja di setiap ramadhannya melainkan juga zakat maal (baik zakat penghasilan, pertanian, perniagaan, hasil ternak) termasuk pula dalam menggerakkan kesadaran infaq dan sedekah yang memiliki ruang berbagi yang sangat luas.

Kesimpulannya, konsepsi islam dengan zakat, infaq dan sedekah ini menjadi solusi bagi penyelesaian persoalan kemiskinan yang selama ini belum mampu terurai. Kesadaran ummat hanya akan lahir sejalan dengan kesungguhan dan keadilan yang diwujudkan oleh penguasa serta keseriusannya dalam menjaga amanah dan kepercayaan publik. Akankah masih tersisa keseriusan itu…?? Wallahu a’lam.

—————————-
*Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Tlogomas Malang ; Dosen FISIP UB, Sekretaris KDK MUI Propinsi Jawa Timur, Motivator Nasional Bidang Komunikasi Pelayanan Publik, Penulis 16 Buku Best Seller