fbpx

Ojo Lali Marang Asalmu lan Noto Niatmu

Menjadi sosok pelajar yang berkiprah dan aktif di jalan dakwah menjadi azzam saya selepas SMA. Saat duduk di klas 2 SMAN 11 Surabaya, saya menjadi anggota Sie Kerohanian Islam  (SKI) yang hampir setiap pekan ikut kajian keislaman di daerah Pucang Surabaya yang diasuh oleh alumni SKI dari ITS dan Unair. Mereka menanamkan dasar-dasar semangat untuk memperdalam Islam, meski pada akhirnya sangatlah tak berpegang pada thariqah Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Pembinaaan yang paling ekstrem saat itu adalah menggembar-gemborkan dan menyalahkan semua sistem kehidupan negeri ini. Simbol-simbol negara dianggaplah “thaghut”. Jadilah kami terpanasi untuk semakin berjuang menegakkan dakwah ini.

Tak ayal lagi, saya terpesona oleh sosok mereka. Selain karena pandai dalam ilmu umum, juga piawai dalam ilmu agama. Ada beberapa teman yang berlanjut ikut. Tetapi saya memilih keluar dan menjadi anggota biasa.

Baca juga: Layaknya Seorang Ayah

Tahun 1991-an betapa bersyukurnya saya diterima menjadi mahasiswa Antropologi FISIP Unair. Mewujudkan azzam itulah, akhirnya saya mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Unit Kegiatan Kerohanian Islam Masjid Unair (UKKI MUA) yang dikenal dengan kegiatan awalnya berupa mentoring. Mentoring ini dikhususkan untuk semua mahasiswa baru yang beragama Islam. Mereka wajib ikut dan duduk melingkar dengan bimbingan dari kakak-kakak angkatan yang aktif di UKKI MUA. Materi yang disampaikan di antaranya berupa aqidah, syariah, dan tsaqafah. Kegiatan ini berlangsung intens dan rutin. Kakak angkatan yang ramah dan selalu bercanda membuat kami terpana dan terpesona dengan sikapnya. Hampir tiap hari setelah selesai kuliah, kami sering menghabiskan waktu di masjid Unair tersebut.

Tahun 1992, saya menjadi pengurus UKKI MUA dan diberi amanah mengelola Bursa Kafilah, yakni salah satu unit usaha masjid Unair dengan menjual berbagai kebutuhan mahasiswa dan perlengkapan ibadah serta makanan minuman ringan.

Selain itu, UKKI MUA dengan seabrek kegiatan membuat kemakmuran Masjid Unair begitu tampak. Ada bakti sosial, kuliah zhuhur, kajian kitab kuning, dan juga Taman Pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak di lingkungan kampus. Dan di sinilah awal mula saya mengikuti kajian yang diasuh oleh Ustadz  M. Ihya’ Ulumiddin, sebutan kami di UKKI MUA sebelum bergabung dengan jamaah Al-Haromain. Penjelasan dari isi kitab yang sangat  mudah dicerna bagi saya yang tak kenal kitab kuning membuat saya mulai cinta dan rindu pada beliau.

Sekitar 4 tahun berlangsung, dan tak lagi menjadi pengurus UKKI MUA karena dianggap senior, maka kami mengadakan halaqah lebih intens, membimbing dengan materi yang lebih mendalam, seperti materi Sistem Ekonomi Islam, Sistem Sosial Islam, Sistem Politik  Islam, dan seterusnya. Tetapi bedanya, ngaji ini tak lagi di masjid Kampus, tetapi di Masjid Gubeng Airlangga. Di sinilah mulai terjadi pergolakan pemikiran saya. Mereka mulai membedakan dan menjelekkan Yayasan Al-Haromain yang dibina oleh Ustadz M. Ihya’ Ulumiddin dengan menyebut dakwahnya bersifat lokal.

Lain halnya dengan dakwah yang mereka ajarkan, bahwa dakwah mereka sudah internasional dan mendunia. Setiap halaqah seringkali disampaikan yang membuat saya kurang sreg dengan hal ini. Dan akhirnya saya disuruh memilih untuk ikut halaqah terus atau berhenti. Setelah berpikir lama, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari halaqah tersebut.

Mulailah saya mengikuti kajian bersama Abina di Keputran Kejambon bersama dengan kakak-kakak tingkat seperti Mas Fatkur, Mas Jabir, Mas Utomo, dan juga Mas Aba Umar. Bersama merekalah, sambil menunggu masa kuliah berakhir, kami aktifkan mengaji. Selain mengaji terkadang ada acara makan-makan. Makan bersama satu talaman.

Di sinilah saya melihat bagaimana sosok Abina. Tak permah saya temui sosok Kiai yang bersedia makan bareng dengan santri-santrinya. Masa-masa inilah saya semakin tertarik dengan Abi Ihya’ dan jamaah dakwahnya.

Baca juga: Kamu Sudah Lulus

***

Selain mengaji, saya juga diajak untuk mendampingi memberi kajian rutin bagi akhwat-akhwat di kosan mahasisiwi Unitomo Untag. Sehingga secara tidak langsung, saya semakin mantap dengan thariqah dakwah dan materi keislaman lainnya yang dikembangkan oleh Yayasan Al-Haromain melalui buku materi pembinaan tingkat dasar hingga nashrah dengan metode mengubah masyarakat yang itu sangat pas bagi mahasiswa yang kelak sebagai motor penggerak perubahan sosial.

Tahun 1997 lulus studi, saya dipertemukan Abi Ihya’ oleh  Ust. Badrut Tamam, pengasuh Pondok Cabang Al-Ma’wa bersama dengan Mas Andri, Mbak Rani, Mas Umar Hamdan, Mas Farhan, dan Mbak Atta serta Mbak Nuri. Mbak Nuri inilah sebagai pemilik modal yang berkeinginan menciptakan usaha bisnis perdagangan di jalan Pasar Kembang 59, tepatnya mengontrak ruangan depan. Jadilah kami berkhidmah menjadi pengelola toko busana muslim dan perlengkapan ibadah lainnya.

Abi Ihya’ memberikan nama toko itu “Burika”, artinya yang dibarakahi. Meskipun kami sarjana tak membuat kami minder menjadi pelayan toko, karena kami berniat untuk menghidupi pondok tersebut yang berbasis anak yatim dan dhuafa yang masih dalam proses pembangunan.

Di samping itu, setiap Sabtu dan Ahad kami mengadakan bimbingan belajar untuk santri-santri pondok. Dari sinilah kami akhirnya akrab dengan Ust.  Najih sebagai pengasuh pondok. Masa masa ini kami lewati dengan baik.

Khusus Jum’at dan Sabtu, Toko Burika dibuka agak siang, karena kami semua mengikuti taklim Abina. Ke mana pun Abi pergi, kami selalu nginthil. Sampai akhirnya beliau memberi wadhifah/tugas untuk membayar rekening listrik, air, dan telepon. Jika ada kelebihan pengembalian uang, tak jarang Abi memberikannya pada saya. Abi tahu juga kalau saya ingin dapat barakahe sangu uang hehehe.

Juga terkadang membonceng Abi dari Tempel Sukorejo ke mushalla Muhajirot ketika Abi ada jadwal taklim ke Keputran Kejambon.

Pernah saya dapat amanah menjemput Abi di terminal Bungurasih dengan naik sepeda motor. Itu pun sepeda motor pinjaman – milik inventaris Burika. Dulu belum ada yang namanya HP yang bisa setiap saat dihubungi. Jadi saya harus mengawasi setiap kali penumpang turun dari bus sejak pukul 05.00 WIB pagi. Tapi saya bangga bisa bersama Abi dalam satu kendaraan sepeda motor, meski terkadang ndredeg juga membonceng Sang Kiai Besar.

Suatu hari saya ditelepon Abi. Beliau akan mampir silaturrahmi ke rumah Jalan Dupak Baru saat beliau pulang dari memberikan khutbah Jum’at di masjid jalan Demak. Saya sendiri sempat heran, siapalah saya? Kok Abi bersedia mampir.

Di rumah ditemui ibu saya dan beliau memberikan barakah doa di antaranya kebarakahan rezeki dan jodoh. Selang beberapa waktu ternyata benar, saya dipertemukan jodoh dan keluarga kami ada yang berangkat haji. Alhamdulillah

Setelah menikah di tahun 1998 yang tentunya  memperoleh jodoh dengan akhwat al-Haromain atas  restu  pilihan Abi, saya mendapat tawaran kerja di kantor Advokat Agung Supangkat, Sang Ketua Yayasan Al-Haromain. Selain bisa ngantor hehehe, siangnya diberi izin untuk pindah menjadi pengelola/pelayan toko di Burika. Bertambah pula amanah menjadi Katib Naib Mantiqi Surabaya dengan Naib Mantiqinya Mas Ilyas. Tugas saya yakni mengabsen jamaah saat qiyamul lail di Ahad ke-3 dan saat taushiyah Ahad pertama tiap bulan sekaligus menjadi MC Taushiyah. Saya sangatlah senang dengan amanah ini karena semakin nginthil dengan Sang Guru Murabbi. Terkadang ditunjuk Abi menjadi MC aqad nikah, tasyakuran pindahan rumah, aqiqah jamaah Surabaya, dan sebagainya.

Saat menjelang awal Ramadhan dan awal Idul Fitri, kami yang di Burika juga stand by menerima telepon untuk menyebarkan info tersebut ke jamaah al-Haromain, sambil menunggu titah Abi sebagai wujud tauhidul fikrah dalam menyikapi perbedaan penentuan awal Ramadhan dan Syawal. Jadilah kami sebagai humasnya jamaah yang tentunya berat untuk memahamkan hal tersebut.

Dalam perjalanan kehidupan, mulai menikah hingga kepindahan rumah yang pertama di Delta Sari Indah Sidoarjo, lalu ke Manukan Madya dan ke Aquamarine Kota Baru Dryoreja. Beliau selalu memenuhi undangan kami untuk memberikan doa dan wiridan, plus juga memberi gawan. Ini yang dipraktikkan Abi ..taahaddu tahahbbu, saling memberi niscaya kamu saling mencintai. Tak hanya Abi yang sering dawuh pada kami, tetapi semua sebagai murid-muridnya. Beliau sendiri selalu mempraktikkannya. Hal ini pula beliau lakukan saat aqiqah anak kami ke-3. Saya dan istri mbrebes mili air mata ini tiap kali ingat Abi rawuh ke kediaman kami tersebut.

Karena sesuatu hal, maka saya beralih profesi menjadi guru swasta di sekolah terkenal milik Muhammadiyah di kawasan Pucang Surabaya. Hal ini berakibat berkuranglah frekuensi saya dengan al-Haromain. Tetapi karena memang cita-cita untuk menjadi guru, maka saya jalani aktivitas itu hari demi hari. Hingga suatu hari saya ditelepon mas Imam Mawardi yang saat itu sebagai Ketua Umum baru dan ahlus syuro, meminta saya menjadi Sekretaris Umum Yayasan.

Saya bersedia karena sebagai anggota jamaah dakwah tidak sepantasnya menolak jika diberi amanah. Apalagi amanah ini sangat mulia dan dapat dikerjakan di luar waktu jadwal mengajar. Mendampingi Mas Ketua di hari Jum’at hingga Ahad selain tugas keadministrasian. Terkadang diajak pula menemani Abi Ihya’ di ndalem Ust. Muhyiddin Noor di pesantren Darussalam Tambak Madu Surabaya untuk menerima telepon Abuya. Sangat gembira saya ketika Abi menerima telepon Abuya dimana Abi tertawa terbahak bahak. Rindu pada guru memang selalu terpancar pada beliau.

Ketika itu juga awal lahirnya Ash-Shofwah, himpunan alumni Abuya. Kami bersama Mas Imam ditugasi membuat profil anggota organisasi tersebut. Semakin simpati dan bangga karena Abi Ihya’ terbanyak dalam karya kitab yang dihasilkannya. Tak bisa saya bayangkan kesibukan Abi yang super sibuk itu masih sempat menulis beberapa karya kitab, mulai Risalah Wudhu hingga Haji, dan seputar polemik Yasin Tahlil dan lain-lain.

Tak sampai setahun, saya dirotasi menjadi Direktur LPI Haromain oleh ahlusy syuro. Memandegani lembaga pendidikan mulai Kelompok Bermain hingga Sekolah Dasar terasa berat awalnya. Tetapi karena niatan cinta gurulah membuat saya bonek maju terus. Antusias jamaah untuk menyekolahkan tinggi, tetapi biaya yang dipungut tak boleh mahal. Ini wanti-wanti Abi juga. Karena sekolah didirikan untuk jamaah dahulu, baru jika ada kosong non jamaah bisa daftar.

Sisi lain gaji guru minim karena banyak yang keluar masuk. Guru banyak yang honorer. Berbekal data inilah kami bersama wakil Mbak Masitha dan Mbak Wahyu meyakinkan yayasan untuk mengubah dan mengajak guru menjadi guru tetap. Selain akan terikat dengan aturan formal sekolah, maka guru dan karyawan tersebut akan diikat dengan aturan jamaah, sehingga bisa dipakai sarana kaderisasi anggota atau minimal menyebarkan ide-ide dakwah dan lain-lain ke mereka. Alhamdulillah usulan kami diterima oleh ahlusy syuro.

Peristiwa monumental juga saya alami saat di LPI tersebut. Saat itu gedung SD di kompleks Masjid Sayyid Abbas al-Maliky Keputran Kejambon tak lagi bisa memuat siswa untuk tahun berikutnya. Maka Yayasan Haromain membebaskan tanah di Ketintang, yang saat ini disebut Sentra Dakwah al-Haromain. Maka ahlusy syuro mengharuskan LPI mencari pinjaman 100 juta untuk membangun 2-3 ruang kelas baru. Alhamdulillah perjuangan Mas Imam dan ahlusy syuro lainnya bisa mendapatkan pinjaman syariah dari Bank Syariah Mandiri.

Saat peletakan batu pertama dan penandatanganan akad Mudharabah, Abi dengan optimistik berucap, “Ketintang iku maknanee ketanting. Artine akan katut kabeh ke al-Haromain.” (Ketintang itu maknanya “ketanting”. Artinya ikut semua ke al-Haromain). Hal ini bisa dibuktikan sekarang di belakang kompleks Sentra Dakwah tersebut telah juga terbeli oleh yayasan dan oleh pribadi anggota jamaah. Maasyaa Allah titah Abi terwujud…

 

***

Tahun 2006 saya lolos dan diterima menjadi Pegawai Negeri Sipil dan ditempatkan di unit kerja SMA Negeri 13 Surabaya. Lokasinya 6 km dari rumah aquamarine. Saat saya sowan Abi, maka beliau dawuh, “Ojo lali marang asalmu lan noto niatmu. Dengan niat yang betul (tahrirun niyyat) akan memperoleh kebarakahan tersendiri dalam kehidupan.”

Saya masih kurang paham dengan dawuh Abi ini. Tapi Abi sering dawuh jika Islam itu pemahaman, bukan dogma (Islam itu mafahim), maka seiring berjalannya waktu, maka akan pahamlah kita.

Dengan dawuh Abi Ihya’ itu saya segera menata niat dan juga tak ingin lepas dari ikatan jamaah ini. Jam kerja yg formal dan tak bisa keluar masuk kecuali hari libur membuat frekuensi ke Sentra Dakwah sedikit berkurang dibandingkan sebelum menjadi PNS yang lebih longgar waktunya.

Baca juga: Warung Langganan Abi

Tahun 2007 ujian menimpa saya. Istri saya mengidap tumor otak kecil. Penyakit ini dialami 1 orang setiap 1000 orang. Artinya jarang sekali ditemui. Jika dioperasi, kecil kemungkinan sembuh dan memakan biaya ratusan juta yang juga tak tercover oleh asuransi kesehatan ASKES PNS saya. Ditambah mengurusi rumah tangga dengan 3 anak yang masih usia sekolah dasar membuat saya mengajukan diri untuk melepaskan amanah sebagai Direktur LPI. Saya berkonsentrasi mendampingi istri dan anak-anak.

Abi Ihya’ selalu menanyakan kabar tentang istri saya dan selalu menitipkan salam setiap saya datang taushiyah bulanan dan menyampaikan permohonan maaf belum bisa menjenguk. Sampai suatu hari, Abi Ihya’ bersama Bu Nyai Istiqomah dan Abah Ony menjenguk dan memberikan doa kesembuhan. Dawuh beliau bahwa sakit itu ujian dan wujud cinta Allah pada hamba-Nya. Do’a si sakit sangat maqbul, karena itu do’akan suami dan anak-anakmu agar menjadi shalih. Begitu tutur Abi pada istri saya.

Sakit juga harus disyukuri karena Allah telah beri nikmat sehat yang lama dibanding nikmat sakit kita. Tirulah Nabi Ayyub yang diuji sakit kulit 8 tahun, tapi beliau tak minta sembuh karena merasa sudah Allah beri nikmat sehat yang lama, yakni 80 tahun. Abi Ihya’ dua kali menjenguk kami.

Tak hanya doa kesembuhan Sang Murabbi berikan, tapi solusi juga. Pak Tedjo, demikian Abi menyebutnya, dia ahli herbal segala penyakit yang rumahnya di Pujon juga. Abi menyuruh kami unruk ikhtiar. Istri saya saat itu langsung gembira dan memang ingin sekali dekat dengan Abi Ihya’ dalam keadaaan susah dan gembira, sakit dan sehatnya. Inilah jalan akhir istri saya yang terwujud, yakni wafat di Pondok Pujon, 21 Oktober 2013, nginthil Abi saat aktif sebagai anggota jamaah hingga wafat dan dishalatkan dengan ratusan santri jamaah Pujon dan sekitarnya.

Guru bak pelita,

Penerang dunia akhirat,

Jasamu tiada tara

(Dikisahkan oleh Tauchid Syarif Hidayat – Surabaya, Mantan Sekum Persyada/Direktur LPI Al-Haromain, Guru SMA Negeri 13 Surabaya didalam buku BERSAMA SANG MUROBBI Jilid 1 terbitan Persyadha. Temukan kisah yang lain yang tak kalah menarik. Ingin memiliki buku tersebut, hubungi Anshoriyyah Pusat bagian Kewirausahaan WA +62 877-5419-2725)