fbpx

Ojo Melu Seng Ngeslong

“Ojo melu seng ngeslong.” (Abi Ihya).

Pada jaman Rasulullah, keimanan demikian terjaga, mereka pasrahkan segala hal yang memang bukan link dan urusan mereka kepada Allah. Tidak pernah dijumpai satu orang pun yang ikut campur dengan urusan yang bukan menjadi hak makhluk. Jika Allah melarang sesuatu, mereka adalah orang-orang yang sangat menjauhinya. Dan jika Allah memerintah sesuatu, mereka adalah orang-orang yang tekun mengerjakannya. Inti tauhid yang merupakan kepasrahan berhasil mereka aplikasikan dengan sempurna.

Setelah beberapa masa kemudian, muncul kelompok yang hobi mengurusi Allah ta’ala, mempertanyakan apa saja yang terbenak pada pikiran mereka tentang eksistensi Allah sedetail mungkin. Sehingga pada tingkat menolak segala ajaran ketuhanan yang tidak logis. Sehingga menganggap bahwa Allah memiliki tangan layaknya manusia, Allah bersemayam diatas arasy layaknya manusia kala duduk dikursi, alqur’an adalah makhluk bukan kalam qadim, dan pendapat-pendapat nyleneh lainnya yang keluar dari apa yang diajarkan Rasulullah.

Baca juga: Efek Hasud

Pada zaman ini, orang-orang justru sampai pada tingkat mempermasalahkan Allah ta’ala. Banyak kemudian pemikiran-pemikiran yang keluar dari pakem semestinya. Sehingga muncul ide nikah sesama jenis, nikah poliandri, haji diluar bulan yang ditentukan, semua agama sama, dan ide-ide frontal lain yang bermuara kepada mempermasalahkan Allah dan ajarannya.

Ngeslong itu berarti ekstrim, baik ekstrim ke kanan maupun ekstrim kekiri. Jangan sampai kita terjebak mengikuti kelompok yang ngeslong, pastikan bahwa kelompok yang kita ikuti adalah kelompok berbasis wasathiyah atau moderat, atau yang sering disebut sebagai ahlusunnah waljamaah original, bukan yang abal-abal.

Rasulullah telah memprediksi bahwa umat Islam akan terpecah dalam sekian puluh kelompok dan kelompok yang dipastikan selamat adalah yang konsisten mengikuti ajaran Rasulullah, para sahabat, tabiin, dan orang-orang shalih hingga zaman ini. Yakni tiada lain adalah kelompok wasathiyah yang mendudukan perkara secara proporsional. Ia ibarat susu yang keluar diantara darah dan kotoran, bersih suci dan menyegarkan.

Ngeslong itu berarti keterlaluan, terlalu kaku dalam berfikir sehingga dengan mudahnya mengharamkan, atau terlalu bebas dalam berfikir sehingga sangat mudah menghalalkan atau memperbolehkan. Moderat berarti proporsional, tidak mudah menyalahkan pun tidak begitu saja membenarkan. Semua dipikirkan secara matang dan dicari kesesuaiannya dengan azaz pokok beragama, yakni seperti alqur’an, hadits, ijma, qiyas.

Tidak ngeslong berarti tidak mudah menyalahkan seseorang yang berbeda dengan kita, namun pendapatnya masih dibenarkan oleh salah satu dari madzhab empat.

Tidak ngeslong berarti pula menghindari fanatisme berlebihan terhadap satu organisasi, sehingga merasa diri paling benar, paling baik dan paling pintar sehingga yang lain diklaim salah, jelek dan goblok.

Tidak ngeslong berarti, mau membuka cakrawala berfikir yang lebih luas, tidak gampang menuduh orang lain salah, sebelum benar-benar memahami akar permasalahan, dan menelaah pendapat dari madzhab empat, pula asy’ariyah atau maturidiyah.

Baca juga: Mana Sapunya?

Tidak ngeslong itu, tidak terjebak dalam fanatisme baru setelah menghindar dari fanatisme. Mau mengambil dan belajar dari kebaikan kelompok lain dan mau menyadari kekurangan kelompoknya sendiri.

Tidak ngeslong itu, bukannya benci yang luar biasa kepada kelompok lain didalam Islam sementara bergandengan tangan dengan hangat dan akrab dengan non Islam, tapi justru memandang mereka semua dengan pandangan kasih sayang dan keinginan meluruskan sikap dan pemikiran mereka yang keluar dari pakem semestinya.

Wallahu a’lam.

(Disyarahi oleh Ust. Shabieq El Himam alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon. Saat ini menempuh studi di Al-Azhar Mesir)