fbpx

Tanggapnya dalam Kesulitan

Dalam acara pernikahan putri ketiga kami, seperti sebelumnya undangan telah hadir. Abi dan saudara-saudara Jama’ah Persyada, saudara-saudara kami, saudara-saudara pihak besan, para tetangga dan teman-teman dekat sudah banyak yang hadir. Dalam acara ini, Abi telah kami minta untuk memimpin do’a setelah proses ijab qabul.

Karena jam yang ditentukan sudah terlewati ± 25 menit lebih, tetapi Naib maupun petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA) belum kelihatan datang, beberapa hadirin sudah menanyakan hal itu. Kami resah, kenapa petugas ini belum datang. Saya dipanggil oleh salah satu jamaah –saya lupa siapa itu—dengan gerakan tangan. Saya datang kepadanya, lalu setelah dekat diberi isyarat mengarah ke Abi.

Saya bertanya, “Wonten dawuh, Bi?” (Ada apa, Bi?)

Kena apa kok durung dimulai?” tanya Abi.

Khutbahipun sampun dalem serahkan dateng Naib,” jawab saya, “nanging piyambakipun kok dereng muncul-muncul ngantos semangke.” (Khutbah nikah sudah saya serahkan ke Naib, tapi yang bersangkutan belum datang juga hingga sekarang).

Abi malah membalas dengan rileks dan lucu, yang sekaligus menghapus kerasahan kami. “Kulo nggih puron lho nggantosi khutbah nikah.” (Saya juga bersedia lho menggantikan khutbah nikah).

Byaaar serasa tumpah kegembiraan seluruh tubuh dan menitik air mata mendengar perkataan Abi itu. Saya minta izin dan langsung menuju ke pembawa acara untuk memulai acara dan saya jelaskan bahwa yang khutbah adalah Abi. Dan pembawa acarapun ikut gembira atas hal itu. Acarapun lantas dimulai.

(Dituturkan oleh Akhina Mukrom, Surabaya dalam buku “Bersama Sang Murobbi” jilid 1, Persaydha. Temukan pengalaman lain dari santri dan jamaah Abi Ihya’ di dalam buku tersebut. Ingin memiliki buku itu, kontak Dept. Usaha Anshoriyyah Persyadha hubungi +62 877-5419-2725.)