JIKA ISTRI BERBAKTI PADA SUAMI

CAHAYA FAJAR | JIKA ISTRI BERBAKTI PADA SUAMI

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Anak-anak belajar dari apa yang dilihatnya atas sekitarnya. Setiap stimulus perilaku yang ditangkap oleh inderanya melalui tindakan yang dilihat dan dialami dalam keseharian akan membentuk cara pandang, pola pikir dan pola sikap mereka.

Apabila seorang istri bersedia tunduk patuh berbakti dengan tulus pada suami, dan seorang suami menyayangi istri dengan penuh tulus dan hal itu diketahui dan ditunjukkan dalam perlaku keseharian dihadapan anak-anak mereka maka semua itu akan menjadi sebuah informasi penting yang masuk dalam pikiran anak.
Karena tindakan adalah hasil dari berbagai rangkaian stimulus tindakan yang diterima melalu indera dan masuk dalam memori ingatan yang kemudian memberikan informasi tentang bagaimana harusnya bertindak.

Ketundukan seorang istri pada suami adalah dengan tidak menyelisihi suami dalam perintah kebaikan yang kemudian akan menjadikannya dalam kategori seorang istri yang terbaik menurut Rasululah. Sebagaimana sabda nabi :

حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ قَالَ حَدَّثَنِي سَعِيدٌ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِيمَا يَكْرَهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ

“Telah menceritakan kepada kami Yahya dari Ibnu ‘Ajlan aku mendengar bapakku dari Abu Hurairah berkata; (suatu ketika) ditanyakan kepada beliau; “Wahai Rasulullah, wanita yang bagaimana yang paling baik?” maka Beliau menjawab: “Wanita yang menyenangkan hati jika dilihat, taat jika diperintah dan tidak menyelisihi pada sesuatu yang ia benci terjadi pada dirinya (istri) dan harta suaminya.” (HR. Ahmad)

Salah satu bentuk menyelisihi suami adalah membantah apapun yang diperintah oleh suami atas suatu kebaikan.
Istri yang demikian dalam masyarakat kita dimasukkan dalam kategori istri yang bersifat Tut wuri handayani, di tuturi malah ngandani (diberi tahu malah balik memberi tahu ngeyel : jawa-suka membantah ) Tentu sikap ini akan mengurangi dan melemahkan kasih sayang suami atas dirinya. Karena sikap kasih sayang suami adalah berbanding lurus dengan sikap ketundukan dan ketaatan istri.

Ketaatan istri dan kasih sayang suami akan mampu menjadi lingkungan yang baik bagi terciptanya perilaku sikap positif bagi seorang anak yang pada akhirnya mampu menjadi anak yang sholeh yang tunduk patuh dan selalu mendoakan orang tuanya. Karena memang pada dasar awalnya setiap anak itu terlahir dalam keadaan fitrah (cenderung pada kebaikan) dan kemudian karena faktor keluarga serta lingkunganlah yang merubah dirinya, apakah menjadi baik atau tidak baik. Hal ini ditegaskan oleh nabi dalam sebuah sabdanya:

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ,قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُشَرِّكَانِهِ

“Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang bayi yang dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah, maka bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani atau Musyrik.” (HR.Muslim)

Keluarga menjadi faktor utama perubahan fitrah kebaikan yang ada dalam diri anak, untuk itu pola asuh dan contoh teladan kebaikan yang ditampilkan dalam keluarga khususnya hubungan dan interaksi antara suami dan istri (berupa ketaatan dan kasih sayang) menjadi modal dasar bagi anak untuk menjadikan dirinya sebagai pribadi soleh yang menyayangi dan hormat pada kedua orang tuanya.
Perhatikan bagaimana ketaatan dan kepatuhan luar biasa yang ditampilkan oleh siti Hajar istri nabiyallah Ibrahim ibunda Ismail saat di tinggalkan sendirian dan ditempatkan di samping Baitullah dekat pohon besar di atas zam zam yang ketika itu belum ada seorangpun tinggal di makkah dan juga tidak ada air, namun hanya disediakan satu kantong kurma dan satu tong air sementara nabi Ibrahim pulang ke Syam. Hingga Hajar menyampaikan pertanyaan pada Nabi Ibrahim: “Hai Ibrahim, pergi kemana engkau dan engkau tinggalkan kami di lembah yang tidak ada manusia dan apa apanya ini?”, pertanyaan ini diulanginya berulang kali, namun nabi ibrahim tetap tidak menoleh. Lalu Hajar bertanya lagi: “Apakah Allah memerintahkanmu untuk melakukan perbuatan ini?”, Ibrahim menjawab: Ya. Hajar berkata: kalau demikian halnya, tentu Allah tidak akan menyia nyiakan kami (dalam riwayat lain: “aku pasrah kepada Allah”)
ketawakkalan dan kepatuhan siti hajar ini sehingga lahir seorang putra yang soleh dan patuh pula pada Allah swt, sehingga melahirkan keturunan terbaik sepanjang sejarah umat manusia, yang dari Ismail inilah, nabi kita Muhammad saw bertemu nasabnya.

Demikian ketaatan dan kepatuhan membuahkan kesolehan generasi. Tentunya setiap kita berharap agar anak cucu keturunan kita menjadi generasi yang soleh dan solehah yang selalu berbakti dan mendoakan kedua orang tuanya maka disinilah peran orang tua untuk memberikan keteladanan bagi mereka.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 11.08.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com