Teruslah Melafalkan Laqod Ja’akum

Teruslah Melafalkan Laqod Ja’akum

“Baca laqod ja’akum terus menerus insya Allah akan membuat kita tertular sifat-sifat Rasulullah” (Abi Ihya’)

 

Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki Arasy yang agung”.(QS.At-Taubah :128-129).

Sebuah ayat yang disana memuat sifat-sifat Rasulullah yang agung, empati dan kepedulian yang besar seorang Nabi terhadap umatnya, keinginan yang besar akan keislaman dan keselamatan umatnya. Ialah Baginda yang Rouf yang Rohim, dua sifat yang sebenarnya adalah bagian dari asmaul husna. Namun sifat tersebut justru disematkan sendiri oleh Allah kepada Rasul termulya, Sang Baginda Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Baca juga: Mengedepankan ‘Ngalah’

Ialah seorang Nabi yang menginginkan seluruh umatnya mendapatkan keselamatan dan masuk surga. Ialah Nabi yang kala kaumnya membangkang justru Ia doakan dengan kebaikan, Allahummahdi qoumi fainnahum la ya’lamun. Yang sesuatu yang disebut dan di ingat kala sakaratul maut datang tidak lain adalah “umatku umatku”.

Maka meneladani sifat-sifat Sang Baginda shallallahu alaihi wasallam semestinya kita usahakan. Berawal dari menelaah dan merenungkan perjalanan hidup manusia termulia itu sehingga bisa mengerti dan termotivasi untuk meniru sebisanya. Karena apa lagi yang lebih menarik setelah mengenal Sang Baginda selain ingin meniru sikap dan perilakunya.

Dalam kitab Ihya ulumiddin, ada keterangan yang menyebutkan keutamaan ayat ini, disana dikatakan, barang siapa kontinu membaca Laqod ja’akum Rosulummin anfusikum hingga akhir surat, ia tiada akan meninggal dalam kondisi hancur, tenggelam, terbakar, atau dipukul dengan besi, meski memang riwayatnya dinilai dloif.

Ada juga riwayat yang menyebutkan bahwa ayat ini juga bisa menangkal dari gangguan setan yang terkutuk dan pihak otoriter yang keras kepala.

Maka membacanya terus menerus dengan harapan semoga bisa ketularan sifat-sifat terpuji Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang belas kasih, peduli, penyayang bukanlah satu hal yang tidak terpuji. Sebab memuji Rasul dengan sifat-sifatnya yang indah adalah pekerjaan pecinta yang tidak bisa diremehkan, dan semoga melalui keberkahan yang turun sebab menyebut sifat agungnya kita bisa benar-benar dikaruniai meski setetes sifat mulia itu.

Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad arroufirrohim wa ‘ala alihi washohbihi wasallim.

Wallahu a’lam.

(Shabieq El Himam alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon. Saat ini menempuh studi di Al-Azhar Mesir)