BERKUMPUL DALAM PERAYAAN HARI BESAR ISLAM

oleh | Abuya Dr. Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki

Tuntuk mengenang sejumlah peristiwa bersejarah, seperti kelahiran Nabi Muhammad, peringatan Isra radisi yang berlaku dalam masyarakat kita adalah berkumpul ’ dan Mikraj, malam nishfu Sya’ban, hijrah ke Madinah, peringatan Nuzulul Qur’an, dan perang Badar. Dalam pandangan kami, aktivitas semacam ini merupakan tradisi yang baik yang tidak memiliki keterkaitan dengan agama, yang berarti tidak perlu dikategorikan sebagai hal yang disyari’atkan atau disunnahkan, sebagaimana ia tidak bertentangan dengan salah satu prinsip agama. Hal yang berbahaya adalah meyakini  isyari’atkannya sesuatu yang tidak disyari’atkan.

Menurut saya, tradisi-tradisi ini tidak boleh dikatakan lebih dar sesuatu yang direstui atau tidak direstui syara’. Saya kira pandangan ini adalah  andangan yang disepakati. Sebagian mengklaim bahwa momen-momen di mana orang-orang berkumpul memperingatinya tidak sesuai dengan aktu yang telah ditentukan dan disepakati. Ia berkata, “Masyarakat terbiasa berkumpul pada malam tanggal 27 Rajab untuk mengenang peristiwa Isra’ Mikraj  dan pada malam tanggal 12 Rabi’ul Awwal untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal para ulama berbeda pendapat dalam menentukan tanggal kedua momen ini dengan tepat.”

Menurut saya, perbedaan dalam menentukan waktu tidak memiliki pengaruh karena kami tidak meyakini disyari’atkannya berkumpul pada waktu-waktu tertentu. Masalah ini hanyalah persoalan tradisi sebagaimana telah kami jelaskan. Yang terpenting bagi kami adalah memanfaatkan kesempatan dan momen berkumpulnya orang banyak untuk mengarahkannya ke hal yang positif dan di malam tersebut masyarakat dalam jumlah besar bisa berkumpul, baik mereka mereka keliru dalam menentukan waktunya maupun benar. Hal ini dikarenakan berkumpulnya mereka ini untuk mengingat Allah Subhanahu wa ta’ala dan mengungkapkan rasa cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah cukup untuk mengharap rahmat dan karunia Allah.

Saya memiliki keyakinan sepenuhnya bahwa berkumpulnya banyak orang sepanjang dilakukan karena Allah semata dan berada di jalan Allah, maka akan diterima oleh-Nya meskipun mereka keliru dalam menentukan waktunya. Untuk menjelaskan persoalan ini, saya akan membuat perumpamaan dengan seseorang yang menyebarkan undangan resepsi pada hari yang telah ditentukan, kemudian sebagian undangan datang pada waktu yang telah ditentukan karena mereka mengira waktu undangan adalah pada hari mereka datang.

Apakah Anda mengira pihak yang mengundang akan mengusir dan menolak mereka dengan kasar sambil berkata, “Kembalilah dan pergilah kalian dari saya karena hari ini bukanlah waktu resepsi di mana saya memberikan undangan dan menentukan waktunya untuk kalian,” atau ia akan menyambut mereka dengan baik, menyampaikan rasa terima kasih atas kedatangan mereka, membukakan pintu untuk mereka, dan memohon kepada mereka untuk masuk, lalu meminta mereka untuk datang kembali pada waktu yang telah ditentukan? Sikap yang kedua inilah yang saya bayangkan dan yang pantas mendapat karunia dan kemurahan Allah.

Ketik a k ami berkumpul dalam rangk a memperingati I s r a’ M i k r a j , m a u l i d N a b i , a t a u p e r i n g a t a n b e r s e j a r a h
apapun, ma k a ya ng urgen bukanlah menentukan waktunya dengan tepat. Hal ini dikarenakan jika waktu peringatan itu ternyata sesuai dengan waktu kejadian maka kami ucapkan Alhamdulillah.442 Topik-Topik Kajian Variatif Tetapi, jika ternyata meleset maka Allah tidak akan menolak kita
dan menutup pintu-Nya untuk kita.

Menurut saya, memanfaatkan kesempatan berkumpul dengan berdoa, mendekatkan diri kepada Allah, dan mengharappemberian, kebaikan, dan keberkahan-Nya adalah manfaat terbesar dari peringatan itu sendiri. Memanfaatkan berkumpulnya orang banyak dengan mengingatkan mereka, memberi petunjuk dan nasihat itu lebih baik daripada menghalangi dan melarang mereka serta mengingkari tindakan mereka dengan argumentasi
yang tidak berguna sama sekali. Hal tersebut disebabkan adanya fakta bahwa larangan serta pengingkaran itu tidak efektif dan mereka semakin antusias dan fanatik setiap kali penolakan ditingkatkan dan semakin keras. Akibatnya, tanpa sadar orang yang melarang mereka seolah-olah menyuruh mereka untuk melaksanakannya.

Sesungguhnya, kalangan intelektual dan dai yang menggunakan akal mereka dengan sepenuh hati berambisi menemukan tempat konsentrasi massa untuk menyebarkan ideide mereka dan menarik simpati massa agar bergabung dengan barisan mereka. Oleh karena itu, Anda akan menyaksikan mereka mendatangi taman-taman, asosiasi-asosiasi, tempat-tempat umum, dan konsentrasi massa agar mereka bisa melakukan misi yang mereka inginkn. Kami sendiri melihat masyarakat berkumpul dalam berbagai momen dengan penuh antusis. Lalu, apakah kewajiban kita terhadap masyarakat tersebut?

Merepotkan diri dengan melakukan pengingkaran, penerimaan, dan penolakan terhadap perspektif hukum berkumpulnya masyarakat dan sebagainya adalah tindakan sia-sia, bahkan bisa dikategorikan sebuah kebodohan dan kedunguan. Kita tidak akan menelantarkan aset besar dan kehilangan momen yang tidak mungkin sebuah zaman akan berbaik hati memberikannya kecuali pada acara-acara semacam ini. Maka, marilah kita manfaatkan pertemuan-pertemuan besar tersebut.[]

(Dikutip dari kitab Mafahim Yajibu An-Tushohah)