Perasaan Khasyah

Abina KHM. Ihya’ Ulumiddin bertutur tentang adanya perasaan khasyah.

“Ulama yang sebenarnya adalah yang mendahulukan khosyah diatas ilmu.” (Abi Ihya).

Khasyah menduduki wilayah yang sangat penting dalam menerjemahkan kriteria seseorang bisa disebut sebagai alim. Seseorang dengan ilmunya yang luar biasa belum bisa disebut sebagai alim kala ia tidak memiliki rasa khasyah, yakni satu perasaan takut kepada Allah ta’ala, khawatir akan keselamatan dirinya dari siksa Allah.

Seseorang dikala semakin hebat ilmunya dituntut memiliki perasaan khasyah semakin kuat. Jika tidak, maka ilmunya sama sekali tidak akan membawa kemanfaatan baginya, malah justru akan menjerat dan mencelakakannya didunia sebelum akhirat.

Dalam kalam Allah ta’ala, surat Fathir ayat 28, disana ada satu isyarat yang menjelaskan bahwa. khasyah harus lebih dikedepankan daripada ilmu. Sebab kata “yakhsya” lebih didahulukan daripada kata “ulama'”.

Seseorang yang hanya memiliki ilmu saja tanpa khasyah, akan membawanya berani melakukan penjualan agama, menukar kebahagiaan akhirat dengan harta benda dunia. Sepertinya lidahnya demikian manis dengan hafalan dalil al-Qur’an hadits demikian banyak, namun hatinya lebih buas ketimbang serigala. Apa yang ia mengerti hanya sebatas pengetahuan belaka tanpa amal, ia belajar mendalam tentang agama namun tidak mau beribadah. Ia memahami hukum halal haram, tapi berani menghalalkan perkara yang haram dan mengharamkan perkara yang halal. Sehingga orientasinya adalah bagaimana dengan pengetahuan agama yang ia miliki, ia bisa mendapatkan keuntungan dunia yang besar.

Ya, ulama’ adalah mereka yang memiliki kapasitas keilmuan yang mumpuni dan rasa khasyah yang besar terhadap Allah. Kepada merekalah semestinya kita mendekat, sebab keberkahan hidup akan bisa kita dapatkan kala kita bersanding dengan orang-orang saleh macam mereka.

Ya Allah, jangan jadikan aku bagian orang yang menukar kebahagiaan akhirat dengan dunia, kurniakan kepadaku bagian rasa khasyah yang mampu menjadi penghalang antara aku dan maksiat. Ya Arhamarrahimin.

Wallahu a’lam.

Shabieq El Himam, alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon, saat ini melanjutkan studi di Al-Azhar Kairo Mesir.