fbpx

Menyiapkan Kamar untuk Santri

Setika hari raya Idul Fitri, kalau tidak salah tahun 2016, saya cuti ke Jawa bersama anak-anak dan isteri.

Ketika saya sowan ke Abi di Pujon pada hari ke-5 setelah hari raya, ternyata di Pondok Pujon masih sepi. Para santri masih libur. Waktu istri menelepon Abi Ihya’, beliau masih di Lamongan dalam perjalanan ke Pujon. Saya dan istri serta anak anak saya juga dalam perjalanan ke Pujon.

Saya dan keluarga sampai di Pujon sudah larut malam sekitar jam 02.00 dini hari. Begitu sampai di Pujon, ternyata pondok sepi tidak ada orang. Para santri belum pada balik ke Pondok.

Saya pun masuk ke ruang Pondok Putra dan langsung tidur di Sakan. Sementara istri dan anak-anak menuju ruang Pondok Putri dan tidur di sana.

Baca juga: Menyiapkan Kamar untuk Santri

Abi Ihya’ sampai di Pujon sekitar jam 03.00 dini hari. Saat beliau sampai di Pondok, bukannya langsung istirahat. Ternyata beliau masih sibuk membersihkan kamar tidur dan menyiapkan sprei, bantal, selimut, dan minuman di ruang kamar tamu yang dulu rumahnya Pak Wahid. Setelah selesai bersih-bersih, saya dan istri pun dibangunkan supaya pindah tidurnya di kamar tamu yang sudah disiapkan oleh Abi Ihya’.

Yang saya kagum adalah harusnya beliau ketika tiba di Pondok jam 03.00 langsung istirahat dan tidur. Namun justru beliau sibuk membersihkan kamar tamu dan menyiapkan sprei, bantal, selimut, dan minuman. Padahal yang datang bukan  seorang kiai atau ulama, namun hanya saya, santrinya Abi Ihya’. Jika yang datang ke Pujon adalah Kiai atau Ulama besar, kemudian Abi Ihya’ berbuat seperti itu, maka wajar karena mengormati ilmunya dan keulamaannya. Tetapi yang datang hanya saya dan istri serta anak-anak yang tidak punya keistimewaan apa-apa. Umpamanya mau membersihkan kamar tamu pun harusnya bisa dilakukan esok harinya, sehingga jam 03.00 beliau datang bisa langsung istirahat.

Namun yang dilakukan oleh Abi Ihya’ sungguh luar biasa, yang tidak semua kiai atau ulama pun bisa melakukannya. Beliau yang dalam keadaan letih, payah, dan capek perjalanan, dan sudah larut malam jam 03.00 dini hari, masih menyempatkan diri untuk membersihkan kamar tamu seorang diri hanya untuk menghormati tamu yang tidak punya keistimewaan apa-apa dan bukan siapa siapa. Saya, istri dan anak-anak.

Baca juga: Satu Tanda Orang Baik

Sejak peristiwa itu, saya makin hormat kepada Abi Ihya’, makin mencintai beliau dan sayang kepada beliau. Semoga Allah Subhaanahu wata’aalaa menempatkan beliau di Surga Firdaus bersama Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan Abuya Sayyid Muhammad Al-Maliki… Aamiin.

(Disampaikan oleh Ust Sumadi, dai tugas di Papua di dalam buku “Bersama Sang Murobbi” jilid 1, Persyadha)