fbpx

APA DIBALIK KERASNYA MUSIBAH…?

APA DIBALIK KERASNYA MUSIBAH…?
Resume Taushian Syahriah Bulan Oktober Abina Ihya’ Ulumiddin

Unduh materi Taushiah di sini

Dalam sebuah kesempatan, menanggapi pandemi yg tengah melanda dunia masa ini, Abuya As Sayyid Ahmad Al Maliky Al Hasany menyampaikan, bahwa sejatinya virus yg tengah menyerang ini, tiada lain hanyalah tentara dari tentara-tentara Alloh. Maka menanggapi datangnya tentara Alloh ini, sikap kita tiada lain kecuali dengan meminta kelembutan pada Alloh. Meminta kelembutan akan datangnya tentara Alloh tersebut agar dimudahkan dalam menerima datangnya musibah (tentara) tersebut.

Husnudhdhon pada Alloh merupakan suatu jalan dan solusi yang baik dalam proses meraih kelembutan Alloh tersebut. Tidak kemudian mencoba melawan, menentang, menolak, mengeluh, atau bahkan mengutuk musibah yang datang.

Kesabaran, juga merupakan suatu sikap yg harus selalu disandingkan dengan husnudhdhon atas segala hal yang datangnya dari Alloh. Karena setiap kesulitan yang Alloh turunkan, selalu Alloh sertakan dengan kemudahan, rahmat, serta ganjaran bersamanya.

Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Al Bukhori, bahwa Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa memohon perlindungan pada Alloh dari kerasnya musibah, turunnya kesengsaraan yg terus menerus, buruknya qodlo’, dan kesenangan musuh.

Al Hafidh ibnu Hajar Al Asqolani menyebutkan, bahwa doa tersebut dilakukan oleh Rosul, tiada lain untuk mengajarkan pada umatnya utk berdoa dengan doa tersebut, bukan untuk keselamatan diri beliau saja, karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah menjaga dan menyelamatkan Rosululloh dari hal itu semua.

Ada pentingnya mengkaji hadits Rosul tersebut di atas, di zaman pandemi yg tengah melanda dunia saat ini.

Memaknai kalimat Jahdul Bala’ dalam hadits, bisa kita pahami dengan suatu penderitaan, kesulitan, segala beban yg tidak sanggup dipikul, atau tidak mampu bersabar dalam menghadapinya. Salah satu dari penderitaan tersebut adalah wabah Corona yg saat ini merebak, dimana tidak hanya penyakit ini saja yg membuat manusia menderita, namun pemberitaan yg merebak akan wabah ini cukup meresahkan dan menyusahkan hati setiap mereka yang mendengarnya. Sehingga dengan ketidak-sabaran itu, muncullah kalimat2 ketidak sukaan dan komentar buruk terhadap musibah tersebut. Baik dengan istilah “lawan corona”, dsb.

Jika kita coba kaji, sikap tersebut sungguh bertentangan dengan firman Alloh yg menyatakan bahwa tiada suatu apapun akan menimpa suatu kaum baik berupa kebaikan ataupun keburukan kecuali jika Alloh mengijinkan hal tersebut datang. Dan di ayat yg lain yang menyatakan bahwa org2 sabar, adalah mereka yg saat terkena musibah mereka berucap “Inna Lillahi wa Inna ilaihi roji’un”. Maka, dinilai dari hal tersebut, kalimat dan komentar buruk akan virus corona yg mewabah, maka tiada lain hal tersebut adalah bentuk “Su’ul adab” pada Alloh. Melawan, menolak, menentang, bahkan mengutuk suatu hal yg telah Alloh takdirkan untuk turun padanya.

Untuk itu, sebagai org yg terbina, maka ada beberapa hal yg sudah seharusnya kita lakukan menanggapi segala hal yg Alloh berikan dan turunkan pada kita. Di antaranya, adalah menggali hikmah yg tersimpan dalam setiap musibah. Apakah berupa penghapusan dosa, pengangkatan derajat, dan lain sebagainya. Dan hal tersebut hanya akan bisa dicapai jika menghadapi musibah tersebut dengan tawakkal dan kesabaran.

Tanpa adanya tawakkal, sabar, dan meminta kelembutan, maka hanya akan menyeret musibah lanjutan, kesengsaraan yg datang terus menerus. Kesengsaran dunia yg berkaitan dengan hati dan badan selalu terdorong utk maksiat, dan kesengsaraan akhirat yg bisa mengarahkan dan memasukkan manusia pada neraka.

Berkaitan dengan bahasan su’ul qodlo’ (buruknya qodlo’), maka termasuk dari meminta perlindungan terhadap buruknya Qodlo’, adalah permohonan pada Alloh agar bisa menyelamatkan dan menjaganya dari kebijakan pemerintah yg dapat membahayakan agama dan dunianya. Kebijakan yg timpang, dholim, sewenang-wenang, dan jauh dari keadilan.

Dan poin keempat dari hadits tersebut di atas, adalah permohonan kita agar dilindungi dari kesenangan musuh akan musibah yg menimpa pada diri kita. Suatu doa yg dibolehkan pada kita untuk menerapkannya, dengan tujuan agar kesusahan yg telah kita dapatkan dari sebab musibah yg ada, tidak lagi diperberat dengan komentar buruk yg menyakiti hati. Dan tentunya, suatu peringatan pada kita agar tidak melakukan sebaliknya. Berkomentar buruk pada mereka yg kita musuhi, dan membuatnya semakin susah dengan kesusahannya yg telah menimpa. Krna hal tersebut termasuk dari bagian akhlak yg buruk, dan besar kemungkinan, sesuai dengan hadits yg disampaikan Rosul, bahwa bisa jadi komentar buruk, hinaan, dan lain sebagainya terhadap mereka yg kesusahan akan berbalik pada kita, kesusahan tersebut akan berbalik menyerang kita. Dengan musibah yg sama.

Terdapat sebuah doa yg diajarkan Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliky Al Hasany untuk menyikapi segala kesusahan yg menimpa,

اللهم اجعل لنا من كل هم فرجا، ومن كل ضيق مخرجا، ومن كل بلاء عافية، آمين
Allohummaj’al lana min kulli hammin faroja, wa min kulli dliqin makhroja, wa min kulli bala’in ‘afiyah
“Ya Alloh, kami mohon jadikanlah pada setiap kesusahan ada jalan keluar, pada setiap yg sempit ada solusi, dan pada setiap bala’ selalu selamat, Amiin”

Mudah2an kita selalu mendapat perlindungan, kelembutan, kemudahan dan pertolongan dari Alloh, sehingga dengannya kita bisa selalu bersabar dan tawakkal terhadap segala hal menimpa kita di dunia, Amiin…

Resume: Ust. Rozi, alumni Ma’had Nurul Haromain Pujon dan Alumni Rusaifah Rabitath Abuya Al-Maliki Mekkah Arabia.