LEBIH BAIK BERGERAK SALAH DARIPADA DIAM SALAH

CAHAYA FAJAR | LEBIH BAIK BERGERAK SALAH DARIPADA DIAM SALAH

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Yang membedakan antara seorang pemberani dan penakut adalah bagaimana seseorang bersikap saat dihadapkan padanya suatu persoalan. Bagi seorang pemberani maka keputusan akan diambil dengan cepat dan tegas sementara seorang penakut akan terlalu banyak pertimbangan saat harus mengambil suatu keputusan. Persoalan mengambil keputusan tidaklah disebabkan oleh kemungkinan resiko yang akan terjadi, sebab dalam setiap pengambilan keputusan itu pasti memiliki dampak resiko (berat maupun ringan).

Allah swt telah memberikan kemampuan akal pikiran kepada manusia untuk dijadikan sebagai modal dasar dalam melakukan analisa pengambilan keputusan. Sementara hati dapat menjadi pembeda apakah keputusan yang diambil benar-benar tepat untuk diambil.

Setiap kita dalam setiap waktunya pasti dihadapkan untuk mengambil keputusan, dari bangun tidur hingga tidur kembali. Apakah kita akan mengambil keputusan bangun atau melanjutkan tidur itu adalah pilihan keputusan. Serangkaian keputusan inilah yang menandakan bahwa kita ini hidup. Sehingga diampun maka itu adalah bentuk keputusan.

Menjadi aneh apabila ada seseorang yang tidak berani mengambil keputusan karena alasan adanya resiko. Padahal setiap keputusan yang kita ambil pasti memiliki potensi resiko.

Sehingga persoalannya bukanlah pada resiko atas pengambilan keputusan melainkan bagaimana kita mengambil keputusan. Disinilah perlunya perkawinan antara akal rasionalitas dengan kecerdasan hati untuk terlibat dalam mengambil keputusan. Akal rasionalitas akan memberikan batasan atas pertimbangan yang dapat dijangkau oleh indera.

Sementara hati mampu menembus batas ruang dan waktu. Sehingga hati yang jernih akan melahirkan keberanian sikap, kejujuran menilai dan ketajaman analisa. Sebab hati mampu melihat dan membaca hal yang tidak bisa dilihat oleh indera fisik kita. Hati yang hidup akan mampu mendorong seseorang untuk berani memgambil resiko yang rasionalitas akal mengkhawatirkannya. Karena dalam hati bersemayam sebuah keyakinan.

Rasulullah mengatakan:

الإيمان هاهنا

“Iman itu ada disini (seraya menunjuk pada dadanya)”. (Alhadist)

Keyakinan dalam hati inilah yang mendorong seseorang berani untuk mengambil resiko dalam setiap keputusan sikap.
Pertanyaannya adalah bagaimana agar hati bisa menjadi penentu dalam mengambil keputusan? Disinilah tugas kita mempersiapkan hati agar selalu siap dalam menghadapi setiap masalah sehingga berani dan tepat dalam mengambil keputusan. Karena itulah hanya hati yang tenang dan damai maka keberanian sikap akan muncul.

Pertanyaan selanjutnya bagaimana membuat hati tenang dan damai? Jawabnya adalah dengan berdzikir kepada Allah hati akan menjadi tenang dan siap serta berani dalam mengambil keputusan.
Allah berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d: 28)

Ketenangan, ketentraman, kedamaian hati merupakan syarat dan modal awal seseorang dalam mengambil keputusan dan resiko atas keputusan tersebut.

Beranilah untuk mengambil keputusan dengan segala resiko apapun sebab setiap langkah yang kita ambil pasti memiliki resiko. Lebih baik bergerak salah dari pada diam salah.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 14.09.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com