SHALAT : TERUS BERPUTAR, BERGERAK MENCAPAI TUJUAN

CAHAYA FAJAR | SHURATUN DHAAHIRAH SHALAT : TERUS BERPUTAR, BERGERAK MENCAPAI TUJUAN

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Sebagai seorang muslim, maka salat adalah tiang agama, penanda utama atas keislamannya. Salat yang dilakukan oleh seorang muslim setidaknya memiliki dua dimensi yang pertama adalah gerakan yang tampak dalam setiap gerakan salat (shuratun dhahirah) dan nilai hakikat yang diperoleh dari setiap bacaan shalat yang dilakukan (haqiqatun bathinah).

Apabila kita perhatikan setiap gerakan shalat maka kita akan menjumpai bahwa setiap gerakannya akan membentuk sudut matematis.
Coba perhatikan, takbiratul ihram membentuk sudut 0 derajat, rukuk 90 derajat, i’tidal 180 derajat, sujud 45 derajat ( x 2 sujud = 90 derajat)maka apabila dijumlahkan dalam 1 rakaat terbentuk 360 derajat yang itu sama dengan satu lingkaran (putaran) utuh.

Berputar, adalah gerakan mistis yang dilakukan oleh alam semesta makrokosmos. Coba perhatikan pergerakan Galaxy maka akan tampak gerakan berputar. Demikian pula dengan bumi kita yang berputar pada porosnya matahari pun demikian dan semua bintang pun demikian. Bahkan pada gerakan mikrokosmos, kita akan menjumpai hal yang sama. Manusia berputar mengelilingi Ka’bah dan hal serupa kita jumpai dalam gerakan salat yang membentuk sudut berputar utuh.

Berarti berputar adalah gerakan kehidupan, tanda bahwa makhluk hidup itu berputar, bergerak dan itulah tanda kehidupannya. Artinya bahwa seseorang yang dianggap memiliki eksistensi dalam kehidupan apabila dia berputar yaitu terus bergerak dan bergerak tanpa henti. Ibarat roda yang digelindingkan dalam sebuah gerakan putaran, maka ia akan terus bergerak tanpa henti, kecuali apabila telah sampai pada titik yang menghentikannya. Itulah finish dari setiap pergerakan. Bagi makhluk hidup maka itulah kematiannya.

Gerakan salat yang membentuk sudut berputar dimulai dari Takbiratul Ihram dalam posisi berdiri juga memiliki sebuah pesan penting.
Yaitu sekalipun berdiri maka pandangan harus tetap menunduk dan tertuju pada tempat solat. Pesan yang ingin disampaikan adalah sekalipun seseorang memiliki kemampuan, kekuasaan, kekayaan, kehebatan dan apapun namanya, maka harus tetap bersikap tawaduk, menunduk rendah hati serta harus tetap tertuju pada Allah serta peduli kepada masyarakat bawah.

Selanjutnya posisi ruku’ yaitu meluruskan punggung dengan mensejajarkan antara kepala dan pantat seraya tetap melihat pada tempat sujud serta berada membentuk posisi 45 derajat. Hal ini memberikan sebuah kesan bahwa dalam menjalani kehidupan seseorang haruslah mampu bersikap seimbang yaitu menyeimbangkan antara usaha dan rasionalitas seraya tetap berfokus membangun kepedulian dan membantu masyarakat bawah.

Posisi sujud dengan meletakkan kepala lebih rendah dari pada pantat seakan memberikan sebuah kesan bahwa dalam hubungan dengan Allah swt bahwa manusia bukanlah siapa-siapa dan harus merendah serendahnya di hadapan Allah swt. Bahkan rasionalitas haruslah diletakkan serendah-rendahnya bahkan lebih rendah dari pantat yang selama ini dianggap paling tidak berarti. Artinya dalam konteks hubungan ketuhanan maka dahulukan ketawakkalan dan rendahkan rasionalitas. Karena ketetapan Allah swt melampaui rasionalitas bahkan di luar rasionalitas kemanusiaan. Ketawakkalan adalah sikap utama yang haruslah di dahulukan. Untuk itu disaat seseorang menghadapi suatu masalah maka maka awal harusnya bukanlah mencari solusi melainkan dahulukan ketawakkalan kepada Allah swt.

Duduk diantara dua sujud, berhenti sejenak untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah swt dengan banyak berdoa dan berharap atas berbagai hal yang terjadi dan akan terjadi. Suasana ini perlu dihadirkan dalam diri setiap individu agar hidup tetap merasa tenang sekalipun menghadapi realitas apapun.

Sementara pada duduk tahiyyat, iftirosy adalah wujud penghormatan dan pengesaan serta tanda terima kasih. Mengajarkan adab tentang pentingnya berterima kasih kepada Rasulullah saw dan Nabi Ibrahim, khususnya melalui shawalat Ibrahimiyah. Mengapa dengan Nabi Ibrahim?, hal ini karena beliaulah yang telah mendoakan anak cucu keturunannya termasuk terhadap kita agar menjadi keturunan terbaik yang beribadah kepada Allah serta beliau pulalah yang menyampaikan dan menitipkan salam kepada Rasulullah untuk ummat Muhammad saat berada dalam perjalanan Isra Mi’raj.

Pada sisi shuratun dhahirah shalat ini maka shalat memiliki makna penting khususnya dari setiap gerakan yang tampak. Setiap gerakan shalat memberikan arahan bagi ummat ini. Sehingga pantaslah bahwa shalat menjadi solusi bagi ummat manusia. Sebagaimana Firman Allah swt :

وَٱسۡتَعِينُواْ بِٱلصَّبۡرِ وَٱلصَّلَوٰةِۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلۡخَٰشِعِينَ

Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (QS. Al-Baqarah, Ayat 45).

Jadikanlah shalat sebagai solusi, maka kita akan menemukan jalan keluar atas setiap persoalan hidup.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 12.08.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com