JALAN PINTAS MENUJU KEMULIAAN

CAHAYA FAJAR | JALAN PINTAS MENUJU KEMULIAAN

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Islam banyak menawarkan jalan pintas dalam kehidupan. Jalan pintas adalah cara mudah dalam mencapai sesuatu secara cepat dan tepat. Di saat seseorang ingin mencapai suatu tujuan dengan cepat, maka Islam menawarkan jalan mencapainya. Setiap orang tentu ingin memiliki kemuliaan, derajat yang tinggi dan kehormatan dalam pandangan manusia sementara Islam menawarkan jalan pintas untuk memperoleh kemuliaan dan kehormatan dalam pandangan Allah. Dan apabila seseorang mulia dalam pandangan Allah, maka tentu dia akan mulia pula dalam pandangan manusia.

Tawaran jalan pintas kemuliaan adalah dengan cara berdakwah, mengajak orang untuk melakukan kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Sebuah tawaran bagi kaum muslimin yang ingin memperoleh kemuliaan. Karena jalan dakwah adalah jalan mulia, disebabkan dua alasan: pertama, karena membawa nama Allah Yang Maha Mulia dan Pemilik Kemuliaan. Sehingga siapa saja yang berinteraksi dan mengatasnamakan Allah swt dalam aktifitasnya maka tentu akan ikut mulia. Kedua, sebab aktifitas mengajak (ta’muruuna bil ma’ruf wa tanhauna anil mungkar) hanyalah milik sebagian kecil manusia. Yaitu aktifitas utama para Nabi dan Rasul. Sehingga siapa saja yang mengambil jalan ini maka tentu juga akan ikut mulia.

Bahkan dalam realitasnya, seseorang yang menjalankan peran mengajak orang lain pada kebaikan tentu hanyalah dijalankan oleh kalangan “elit terbatas” yang ada di tengah-tengah masyarakat. Dalam realitas masyarakat high contex culture yang cenderung spiritualis seperti di Indonesia, maka peran pengajak atau da’i (ulama) adalah sangat terhormat. Sehingga siapa saja yang mengambil peran dakwah ini maka berarti ia telah memilih jalan kemuliaan, baik dalam pandangan manusia maupun pandangan Allah swt.

Demikianlah yang disebutkan oleh Allah swt dalam alquran :

كُنتُمۡ خَيۡرَ أُمَّةٍ أُخۡرِجَتۡ لِلنَّاسِ تَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَتَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِ وَتُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِۗ وَلَوۡ ءَامَنَ أَهۡلُ ٱلۡكِتَٰبِ لَكَانَ خَيۡرٗا لَّهُمۚ مِّنۡهُمُ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ وَأَكۡثَرُهُمُ ٱلۡفَٰسِقُونَ

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan . adalah orang-orang fasik. (QS. Ali ‘Imran, Ayat 110)

Ayat di atas memberikan suatu informasi penting bahwa kita akan menjadi umat yang terbaik terhormat, mulia apabila menjalankan peran Amar ma’ruf nahi mungkar. Sekalipun peran ini tentu tidak bisa dilakukan oleh siapapun secara bebas karena harus memiliki kerangka keilmuan yang jelas sebab merekalah yang akan menjadi rujukan masyarakat dalam mengetahui suatu hukum tertentu atau solusi atas suatu masalah yang sedang dihadapi oleh masyarakat.

Peran amar ma’ruf nahi mungkar hanyalah dijalankan oleh orang-orang tertentu saja yang memiliki konsep keimanan serta kepedulian terhadap lingkungan dan masa depan. Jiwa kepedulian terhadap lingkungan sekitar itulah profil pribadi yang ingin diciptakan oleh Islam atas pemeluknya. Aktivitas dakwah adalah aktivitas yang menunjukkan adanya kepedulian terhadap masa depan masyarakat. Bahkan suatu masyarakat akan menjadi aman, tentram, dan sejahtera manakala di dalam masyarakat tersebut masih berjalan Amar ma’ruf nahi mungkar. Hal ini sebagaimana sabda rasulullah shallallahu alaihi wasallam :

عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ لَكُمْ

Artinya: Dari Huzhaifah bin Al-Yaman dari Nabi SAW bersabda:” Demi dzat yang jiwaku ditangan-Nya hendaknya engkau melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, atau jika tidak Allah hampir mengirim azabnya, kemudian engkau berdo’a tetapi tidak dikabulkan”(HR At-Tirmidzi dan Ahmad).

Bahwa sesungguhnya amar makruf nahi mungkar adalah jalan selamat yang mampu menyelamatkan manusia dari kehancuran. Disinilah peran penting dakwah. Sehingga wajarlah bahwa menjadi dai adalah sebuah kehormatan dan Allah swt meletakkannya sebagai ummat terbaik, karena sejatinya bahwa dakwah adalah jalan para Nabi dan Rasul yang mulia. Sehingga siapapun yang menjalankan peran dakwah ini maka ia telah meniti jalan para Nabi dan Rasul. Inilah jalan pintas kemuliaan itu.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 31.07.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com