LAA TATAA’KHAR : SUKA MENUNDA AKAN MENJERUMUSKAN

CAHAYA FAJAR | LAA TATAA’KHAR : SUKA MENUNDA AKAN MENJERUMUSKAN

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Ciri dari seorang muslim yang baik adalah meninggalkan segala hal yang sia-sia. Sebagaimana disebutkan dalam Firman Allah dalam surat al Mukminun ayat ke 3, “dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna”. Termasuk dari pada tindakan kesia-siaan adalah menunda waktu. Tidak jarang ada diantara kita yang suka menunda pekerjaan, tidak mengerjakan tugas pada saat itu juga. Seakan dia merasa bahwa dirinya bisa memastikan adanya hari esok dan memiliki waktu yang cukup banyak untuk mengerjakannya di esok hari.

Terlalu banyak alasan seseorang dalam menunda pekerjaan. Salah satunya adalah merasa bahwa saat ini bukan waktu yang tepat dalam melaksanakan pekerjaan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu atau alasan lainnya. Alasan lainnya adalah merasa adanya beban tugas yang berat yang mungkin harus dikerjakan duluan, atau mereka terbiasa mengerjakan sesuatu di akhir waktu atau mepet-mepet (sistem kebut semalam), atau ada masalah yang lebih besar sehingga menunda pekerjaan.

Namun sejatinya alasan menunda suatu pekerjaan sebenarnya lebih disebabkan oleh rasa malas, kesibukan, perasaan tidak enak atau bad mood. Sekalipun sebenarnya apabila seseorang membiasakan diri untuk sesegera melaksanakan pekerjaannya tanpa menunda maka hal itupun bisa dilakukan. Artinya sikap menunda yang dibiarkan akan menjadi kebiasaan buruk yang berakibat buruk pula.

Akibat suka menunda, maka pekerjaan akan menjadi menumpuk, target waktu tidak akan tercapai, kesulitan dalam mengelola waktu, pekerjaan menjadi tidak maksimal, berpeluang timbul rasa stres dan panik apabila pekerjaan terus tertunda, sehingga berakibat pada kesehatan yang semakin menurun, akhirnya muncul sikap tidak berdisiplin. Apabila sikap ini terus berlanjut maka tentu akan berdampak lebih buruk lagi karena akan menjadi budaya dalam pribadi dan masyarakat. Secara perlahan tapi pasti, akan merusak pada karier dan berujung pada kehancuran.

Seseorang yang suka menunda waktu, seakan mereka lupa bahwa tak ada satupun orang yang tahu kapan ajal mendekat kecuali Sang Kuasa yang mengetahui semua rahasia di dunia. Menghindari hal-hal yang buruk terjadi, lebih baik diutamakan. Allah swt mengingatkan ,

وَمَا تَدۡرِي نَفۡسٞ مَّاذَا تَكۡسِبُ غَدٗاۖ وَمَا تَدۡرِي نَفۡسُۢ بِأَيِّ أَرۡضٖ تَمُوتُۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرُۢ

Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal. (QS. Luqman, Ayat 34)

Seseorang yang suka menunda waktu, mereka adalah orang yang tidak sadar bahwa ada tiga hal yang tidak akan kembali lagi yaitu kata-kata yang sudah terucap, waktu yang sudah berlalu dan kesempatan yang sudah terlewatkan.

Seseorang yang suka menunda waktu, patutlah ingat terhadap lima keadaan sebelum datangnya lima keadaan lainnya. Sebagaimana sabda Nabi :

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara : Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, Hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Al Hakim)

Suka menunda akan membuat diri kita kehilangan kesempatan berharga yang tidak akan kembali lagi pada diri kita. Sekali kesempatan lepas maka selamanya dia akan pergi. Penyesalan tidaklah pernah hadir di depan langkah, namun selalu berada di belakang langkah, dan semua itu tidak akan pernah kembali lagi. Sebelum menyesal, maka optimalkan potensi yang ada dan raih mimpin dengan cara kerjakan saat ini, jangan tunda lagi, laa tataa’khar

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 28.07.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com