BER- IDUL ADHA DI MASA PANDEMI

CAHAYA FAJAR | BER- IDUL ADHA DI MASA PANDEMI

Oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Kiranya hari raya Idul Adha pada tahun ini akan sangat terasa berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan karena hari Raya Idul adha kali ini berlangsung dalam suasana keprihatinan karena wabah pandemi covid.

Namun nilai-nilai yang terkandung dalam hikmah Idul Adha tidak akan pernah lekang oleh waktu dan akan terus mengalirkan inspirasinya untuk memotivasi umat Islam dalam melakukan kebaikan dan meniru teladan dari nilai-nilai itu.

Terdapat beberapa nilai penting dari rangkaian pelaksanaan Idul Adha yang dapat menginspirasi kebaikan pada umat Islam. Yang pertama, inspirasi dari kisah nabiyullah Ibrahim dan keluarganya. Ibrahim yang memiliki kepedulian terhadap masa depan generasi melalui doa-doa yang dipanjatkannya untuk generasi masa depan. Sebagaimana diabadikan oleh Allah subhanahu wa taala dalam surat Ibrahim ayat yang 35 hingga 40. Dan benarlah berkat doa-doa yang dipanjatkan oleh Nabi Ibrahim maka keluarlah dari garis keturunan Ibrahim muncul para nabi sehingga Ibrahim dikenal dengan bapak para nabi.

Pelajaran berharga yang dapat diambil dari kisah Ibrahim ini adalah jangan jemu-jemu untuk mendoakan anak cucu keturunan karena Allah tidaklah berhutang doa kepada hambaNya. Ketahuilah, setiap doa yang kita panjatkan maka disana ada peluang untuk dikabulkan bahkan sekalipun doa tidak dikabulkan saat ini, maka ketahuilah bahwa hal tersebut akan menjadi simpanan kelak di akhirat. Akhlaq seorang yang berdoa namun tidak juga di terkabulkan, maka ia ibarat orang yang mengayuh sepeda terus mengayuh dan mengayuh maka pasti pulalah ia akan sampai di tujuan.

Kedua, menyembelih hewan qurban sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim adalah wujud kepedulian dan tanggungjawab sosial yang dibangun atas dasar nilai spiritualitas. Dalam realitas pandemi ini maka idul adha memberikan sebuah pelajaran dan inspirasi tentang pentingnya tetap menghadirkan kepedulian yang tinggi selama masa pandemi. Kepedulian pada sesama dengan berbagi selalu menyertai setiap hari raya kaum muslimin. Hal ini memberikan sebuah pesan bahwa ummat Islam haruslah peduli terhadap sesama dalam suasana apapun sebagai wujud syukur atas segala nikmat yang telah Allah limpahkan padanya.

إِنَّآ أَعۡطَيۡنَٰكَ ٱلۡكَوۡثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلۡأَبۡتَرُ

Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah shalat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (QS. Al-Kautsar, Ayat 1-3)

Berqurban adalah cara mendekatkan diri kepada Allah setelah Allah memberikan nikmatnya yang berlimpah pada diri kita. Terlebih atas nikmat hidup sehat dan nikmat keimanan yang terus bersemayam dalam hati ini. Keimanan Inilah nikmat terbesar manusia.

Ketiga, Pelaksanaan Ibadah haji yang mensyaratakan man istathoa ilaihi sabiilaa (bagi mereka yang mampu dalam menjalankannya), menegaskan tentang tingginya perhatian syariat Islam atas penghormatan terhadap kesehatan jiwa manusia, salah satunya adalah hifdhun nafs yang menjadi salah satu dari Maqashit syariyyah, maksud tujuan dari diturunkannya syariat. Bahwa sekalipun ibadah wajib tetap harus lebih mendahulukan pada kesehatan atau memperhatikan keselamatan jiwa. Inilah ketinggian ajaran Islam yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai mendasar dari Hak Asasi Manusia. Pertanyaannya, adakah agama yang memberikan kepedulian tinggi terhadap jiwa manusia selain Islam ?

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 26.07.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com