Pesan Ketawadhuan dari Kaki Gunung Bromo

#BersamaSangMurobbi

Pesan Ketawadhuan dari Kaki Gunung Bromo

Akhmad Muwafik Shaleh – Malang
Wakil Dekan III FISIP Universitas Brawijaya
Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwirul Afkar Malang

agi itu udara sangat sejuk berada di kisaran 18 hingga 20 derajat Celsius saat kaki saya menginjak tanah di salah satu vila seorang alumni pondok Gubuk Klakah Tumpang Malang asuhan K.H. Hasanuddin.

Saat itu telah berkumpul beberapa kiai para alumni Abuya dan beberapa orang Hawary yang sedang bercengkerama ditemani makanan khas desa berupa pala pendem dan berbagai jenis lainnya sambil menunggu kedatangan Abi Ihya’ di tempat tersebut. Di depan vila di bawah kaki gunung Bromo itu tampak berjejer 12 hartop, sejenis kendaraan offroad, dan puluhan kendaraan trail yang siap mengangkut para kiai dan asatidz untuk rihlah dakwah ke gunung Bromo.

Abi Ihya’ pun datang. Sontak semua orang berdiri menyambut beliau yang mengendarai Innova putih. Saat pintu mobil dibuka, sudah banyak orang baik santri yang berkendara trail serta para Hawary dan kiai lainnya mengerubuti Abi untuk mencium tangan beliau seraya berharap mendapatkan keberkahan.

Setelah Abi’ memasuki vila tempat transit pertemuan untuk menikmati hidangan makan pagi dengan menu urap-urap dan sayur lodeh khas desa itu, sekitar pukul 10.00 pagi rombongan sudah siap berangkat menuju gunung Bromo. Abi Ihya’ menaiki hartop berwarna abu-abu yang dikendarai oleh seorang bapak setengah baya. Sementara para kiai dan asatidz Hawary menaiki hartop yang lain. Satu hartop diisi dengan 6 orang. Kebetulan saya menaiki hartop merah bersama Ust. Khairul, Ust. Basyir, dan teman-teman Hawary lainnya. Sementara Ust. Umar, ketua Hawary, berdiri dalam hartop bak terbuka di belakang saya.

Perjalanan dari Gubuk Klakah menuju Bromo ditempuh dalam waktu hampir 1 jam melewati jalanan terjal dengan perengan bukit dan jurang yang sangat indah ditanami sayur-sayuran di kanan-kiri jalan yang dilewatinya. Selama perjalanan banyak cerita unik yang disampaikan rekan-rekan Hawary. Salah satunya bahwa ternyata K.H. Hasanudin sebenarnya juga belum pernah ke Bromo walaupun pondoknya persis di bawah kaki gunung Bromo. Beliau bersedia memfasilitasi rihlah ke Bromo hanya karena permintaan Abi Ihya’ langsung kepada beliau saat pertemuan sebelumnya. Subhanallah, hingga sedemikian penghormatan para kiai terhadap Abi Ihya’ Ulumiddin.

Tanpa terasa kendaraan yang kami tumpangi telah sampai di pintu masuk gunung Bromo. Tampak di hadapan deretan gunung hijau nan indah ditumbuhi dengan pohon-pohon perdu yang pendek serta rerumputan yang memenuhi punggung perbukitan itu. Saat melihat ke hadapan, tampak hamparan pasir yang sebagiannya ditumbuhi tanaman perdu menghijau seluas mata memandang karena bertepatan dengan musim penghujan, sehingga di sana sini tampak hijau tetumbuhan. Orang menyebutnya dengan padang savana.
Sementara di sisi kirinya tampak bukit menghijau ditumbuhi rerumputan. Orang menyebutnya bukit Teletubbies. Saya tidak tahu bagaimana ceritanya hingga bukit itu diberi nama Teletubbies. Mungkin karena dianggap mirip dengan ilustrasi bukit yang ada di dalam salah satu program televisi itu.
Rombongan berhenti sejenak di sebelah bawah bukit Teletubbies untuk mengabadikan momentum. Semua orang kemudian berebut untuk berfoto bersama Abi Ihya karena ini momentum langka bisa berfoto dengan Abi di bawah bukit Teletubbies di tengah padang savana. Tak terkecuali para pengawal rombongan yang menaiki kendaraan trail ikut berpose bersama beliau.

Perjalanan dilanjutkan menyusuri lautan Pasir Berbisik sambil diselingi keceriaan para Hawary yang menaiki atap hartop. Sebuah keceriaan rihlah yang mengesankan. Iring-iringan mobil hartop dan kendaraan trail akhirnya berhenti di dekat mushalla yang ada di areal wisata gunung Bromo. Setelah tikar dan karpet yang dibawa oleh rombongan dari Gubug Klakah digelar, maka dimulailah acara majelis pertemuan rutin ash-Shofwah ini persis di bawah gunung Bromo, yang bersebelahan dengan gunung Batok yang menjadi background majelis yang mulia ini.
Acara ini diikuti oleh beberapa alumni Abuya yang tergabung dalam ash-Shofwah antara lain: Abina K.H. M. Ihya’ Ulumiddin, K.H. Hasanuddin, Ust. Sholihin Jaiz, Ust. Sholeh Daud, Ust. Malik Salam, Ust. Ahmad Mukhlis, Ust. Amin, Ust. M. Ja’far, dan Ust. Haidar.

Acara taklim dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Ust. Sholihin Jaiz. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan shalawat Nabi oleh Ust. Haidar. Setelah itu pembacaan kitab al-Mukhtar karya Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki secara bergantian dari sebagian jamaah yang hadir. Walau cuaca saat itu sudah mulai sedikit hangat karena berada di alam terbuka tanpa ada penutup tenda, namun acara tetap berlangsung dengan khidmat. Kemudian acara ditutup dengan ramah-tamah kecil sambil menikmati suguhan polo pendem yang sempat dibawa dari Gubug Klakah.

Pada saat ramah tamah itu, K.H. Hasanudin sempat menyampaikan bahwa baru saja dibentuk ikatan Alumni Pondok Pesantren Darus Sa’adah Gubug Klakah yang diberi nama “Maa Ziltu Thaliban”. Berkenaan dengan itu kemudian Abi Ihya mengisahkan asbabul wurud atau asbabul wuqu’ dari satu kata yang sekarang menjadi sangat masyhur di kalangan santri pondok pesantren, yaitu kalimat “Maa Ziltu Thaliban (selamanya aku adalah santri).”

***
Abi Ihya memulai kisahnya dari panggilan sang Murabbi sang Maha Guru Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki saat sedang melakukan safari dakwah pada tahun 2002 untuk ikut menemani beliau di Malaysia.

Saat itu Abi Ihya’ diminta oleh Abuya untuk berpakaian safari berkopyah hitam dan bercelana. Hal menarik adalah di saat Abi Ihya tiba di bandara Kuala Lumpur Malaysia, saat itu banyak orang yang menyambut kedatangan beliau dengan penghormatan yang luar biasa. Mereka berebut mencium tangan Abi Ihya, bahkan ada yang mencium pundak dan sebagainya selayaknya seorang kiai besar yang datang dari Indonesia.

“Orang-orang Malaysia itu penasaran dengan saya, dikira saya ini seorang kiai besar dari Indonesia. Sebab Abuya Sayyid Muhammad juga ikut menjemput saya ke bandara. Jika bukan ulama besar, mana mungkin Abuya Sayyid Muhamnad juga ikut menjemput ke bandara? Mungkin demikian pikir mereka saat itu tentang saya. Maka wajar saja jika mereka menyambut kedatangan saya dengan penuh kehangatan yang luar biasa.” Demikian yang disampaikan Abi tentang suasana saat itu.

Namun, saat orang-orang Malaysia sedang mengerumuni Abi, tiba-tiba Abuya Sayyid Muhammad yang sedari tadi berada di belakang kerumunan memanggil Abi Ihya dengan panggilan yang cukup keras:

احياء تعال….!، إجلس هنا….
“Ihya’ ke sini… !! Duduk sini…!!”

Panggilan ini diucapkan Abuya tiga kali dengan nada tinggi dan raut wajah seperti orang sedang marah.
Rupanya Abuya Sayyid Muhammad khawatir terjadi lintasan kesombongan hati dari diri santri kesayangannya ini setelah mendapatkan sambutan yang luar biasa dari orang-orang Malaysia tadi. Abuya mengatakan, “Anta kiai kabiir, kamu sekarang sudah menjadi kiai besar yaa? Semua orang mendatangimu dan mencium tanganmu. Ihya’ ketahuilah bahwa:

ما زلت طالبا
Bagaimana pun juga, kamu selamanya tetap saja sebagai seorang santri!”

Kalimat “Maa Zilta Thaliban” ini diucapkan berulang-ulang oleh Abuya Sayyid Muhammad terhadap Abi Ihya’ saat itu. Walau dalam hati Abi Ihya’ tidak terlintas sedikit pun perasaan sebagaimana yang dikhawatirkan Abuya itu. Namun demikianlah Abuya mendidik dan mentarbiyah santrinya untuk menjaga hati dari kotoran dan virus yang akan merusak kemurnian jiwa dan lurusnya niat akibat sanjungan dan penghormatan melalui tarbiyah dengan cara yang agung lewat tindakan dan kalimat yang menghunjam penuh makna. Sosok maha guru dan murabbi yang benar-benar menjaga, membimbing, dan mengarahkan para santrinya kepada nilai akhlaq yang agung demi keselamatan jiwa dan hati.

“Intine sanajan wis dadi kiai, ojok sampe ‘mekrok’ karena sampai kapan pun kita tetap sebagai santri.” Demikian pesan Abi Ihya di hadapan jamaah yang hadir saat itu seraya mengenang kebersamaan beliau bersama Abuya Sayyid Muhammad selama di Malaysia kala itu.

Tanpa terasa matahari sudah mulai tertutup kabut Bromo saat acara usai. Dan tepat di penghujung acara itu, hujan gerimis mulai jatuh sedikit demi sedikit membasahi padang pasir di bawah kaki gunung Bromo sehingga rombongan segera bergegas menuju kendaraan hartopnya masing-masing untuk kembali menuju vila tempat pertemuan awal di Gubug Klakah Tumpang Malang.
Terima kasih Abi Ihya’ atas bimbingan Abi. “Maa ziltu thaliban”.