NGALAP BERKAH : SUATU KONSEP UNIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

CAHAYA FAJAR | NGALAP BERKAH : SUATU KONSEP UNIK DALAM PENDIDIKAN ISLAM

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Salah satu konsep yang khas dari sistem pendidikan Islam adalah adanya konsep barokah, atau berkah. Konsep ini tidak dimiliki oleh sistem pendidikan barat yang lebih mengandalkan kepada rasionalitas dan formalitas dalam proses pendidikan. Sementara dalam pendidikan Islam, konsep barokah selalu menyertai berbagai aktivitas dan interaksi seorang muslim khususnya pada saat menimba ilmu pengetahuan.

Barokah berasal dari kata bahasa Arab yang berarti berkembang dan tambah baik, “ziyadatul Khair”. Barokah atau berkah dalam bahasa Indonesia memiliki makna kebaikan dalam kehidupan seseorang yang mendapatkannya dan kebaikan itu terus bertambah dan bertambah. Seorang yang memiliki harta tentu akan sangat bahagia manakala hartanya bertambah. Jadi konsep berkah dalam pendidikan Islam artinya bertambahnya nilai-nilai kebaikan dari ilmu yang di dapatkan nya. Orang yang mendapatkan barokah maka hidupnya akan menjadi baik yaitu diridhoi oleh Allah swt.

Dalam realitas pendidikan Islam seperti Pesantren kita juga mengenal istilah ngalap berkah, mencari berkah, atau tabarruk dengan menggunakan wazan tafaa’ala yang berarti mencari keberkahan. Dengan kata lain melakukan suatu amal tindakan dengan maksud untuk mendapatkan kebaikan, dengan makna mencari berkah (Thalab barokah). Sehingga kita bisa memahami di saat para santri berebut sisa minuman Kyai (guru), berebut mencium tangan guru secara bolak-balik, menata sandal guru dan sebagainya semua tindakan ini dimaksudkan untuk thalab Barokah. Sehingga “mencari berkah”, ngalap berkah maksudnya seseorang berharap kehidupannya akan menjadi baik dengan melakukan perbuatan tertentu. Jadi, mencari barokah, ngalap berkah adalah sebagai wasilah atau pelantara memohon kebaikan kepada Allah swt.

Fenomena berebut sisa minum atau makan dari para guru adalah bagian dari upaya mendapatkan berkah kebaikan dari para guru, sehingga ilmu yang dipelajarinya diharapkan mampu mengantarkan kepada kebaikan hidup atau hidup yang lebih baik. Terkait dengan fenomena ngalap berkah ini atau tabarruk, terdapat beberapa dalil berikut :
Pertama, sahabat Khalid bin Walid mengambil berkah dengan rambut Rasulullah saw.

ﻭﻋﻦ ﺟﻌﻔﺮ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ اﻟﺤﻜﻢ: ﺃﻥ ﺧﺎﻟﺪ ﺑﻦ اﻟﻮﻟﻴﺪ ﻓﻘﺪ ﻗﻠﻨﺴﻮﺓ ﻟﻪ ﻳﻮﻡ اﻟﻴﺮﻣﻮﻙ، ﻓﻘﺎﻝ: اﻃﻠﺒﻮﻫﺎ، ﻓﻠﻢ ﻳﺠﺪﻭﻫﺎ، ﻓﻘﺎﻝ: اﻃﻠﺒﻮﻫﺎ، ﻓﻮﺟﺪﻭﻫﺎ ﻓﺈﺫا ﻫﻲ ﻗﻠﻨﺴﻮﺓ ﺧﻠﻘﺔ، ﻓﻘﺎﻝ ﺧﺎﻟﺪ: اﻋﺘﻤﺮ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ – ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ – ﻓﺤﻠﻖ ﺭﺃﺳﻪ، ﻓﺎﺑﺘﺪﺭ اﻟﻨﺎﺱ ﺟﻮاﻧﺐ ﺷﻌﺮﻩ ﻓﺴﺒﻘﺘﻬﻢ ﺇﻟﻰ ﻧﺎﺻﻴﺘﻪ، ﻓﺠﻌﻠﺘﻬﺎ ﻓﻲ ﻫﺬﻩ اﻝﻗﻠﻨﺴﻮﺓ، ﻓﻠﻢ ﺃﺷﻬﺪ ﻗﺘﺎﻻ ﻭﻫﻲ ﻣﻌﻲ ﺇﻻ ﺭﺯﻗﺖ اﻟﻨﺼﺮﺓ

Dari Jakfar bin Abdullah bin Hakam bahwa Khalid bin Walid kehilangan songkok saat perang Yarmuk. Ia memerintahkan untuk mencarinya, namun tidak ketemu. Akhirnya ditemukan, ternyata songkok yang sudah rusak.
Kholid berkata: “Nabi shalallahu alaihi wasallam pernah umrah lalu mencukur rambutnya. Para Sahabat berebut dari arah samping rambut Nabi. Aku mendahului mereka di ubun-ubun Nabi. Aku letakkan rambut Nabi di songkok ini. Tidak aku saksikan peperangan dengan membawa songkok ini kecuali aku mendapat rezeki pertolongan / kemenangan. (HR. Thabrani)

Demikian pula para sahabat hingga berebut rambut Rasulullah pada saat di cukur. Disebutkan dalam hadits :

“Aku melihat tukang cukur sedang mencukur Rasulullah SAW dan para sahabat mengitarinya. Tidaklah mereka kehendaki satu helai pun dari rambut beliau terjatuh kecuali telah berada di tangan seseorang.” (H.R Muslim, Ahmad dan Baihaqi).

Bahkan para sahabat berebut dengan air sisa wudhu’ Rasulullah dan ini disebutkan dalam hadist berbunyi:

“Aku mendatangi Rasulullah sewaktu beliau ada di kubah hamra’ dari Adam, aku juga melihat Bilal membawa air bekas wudhu’ Rasulullah dan orang-orang berebut mendapatkannya. Orang yang mendapatkannya air bekas wudhu’ itu mengusapkannya ke tubuhnya, sedangkan yang tidak mendapatkannya, mengambil dari tangan temannya yang basah” (H.R. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Bahkan ada pula di kalangan sahabat yang mereka berebut berkah melalui keringat Rasulullah disebutkan dalam sebuah hadis, Berkata Anas bin Malik :
“Rasulullah SAW masuk rumah Umi Sulaim dan tidur di ranjangnya sewaktu Umi Sulaim tidak ada di rumah, lalu di hari yang lain Beliau datang lagi, lalu Umi Sulaim di beri kabar bahwa Rasulullah tidur di rumahnya di ranjangnya. Maka datanglah Umi Sulaim dan mendapati Nabi berkeringat hingga mengumpul di alas ranjang yang terbuat dari kulit, lalu Umi Sulaim membuka kotaknya dan mengelap keringat Nabi lalu memerasnya dan memasukkan keringat beliau ke dalam botol, Nabi pun terbangun: “Apa yang kau perbuat wahai Umi Sulaim”, tanyanya.” “Ya Rasulullah, kami mengharapkan berkahnya untuk anak-anak kami,” jawab Umi Sulaim. Rasulullah berkata: “Engkau benar” (H.R. Muslim dan Ahmad).

Berdasarkan berbagai dalil di atas dapat dipahami bahwa para sahabat berebut keberkahan melalui apa yang tersisa dari Rasulullah dengan satu harapan agar mereka memperoleh hidup yang lebih baik lagi . Patutlah di pahami bahwa Rasulullah bagi para sahabat tidak hanya hanya sebagai seorang nabi namun juga sebagai seorang guru bagi mereka yang darinya para sahabat mendapatkan ilmu. Sehingga mereka berebut keberkahan melalui segala hal sisa-sisa dari bekas Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam.

Keberkahan ilmu diperoleh melalui pengagungan dan penghormatan terhadap guru, yang menempatkan guru sebagai sentral dalam proses pembelajaran. Posisi sentral guru inilah yang mengantarkan kepada penghormatan yang tinggi seorang murid terhadap para gurunya. Sehingga ilmu yang diperolehnya menjadi berkah memberikan banyak kemanfaatan dan kebaikan.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 8.07.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com

🙏 AYO SHARE DAN VIRALKAN KEBAIKAN