Mengedepankan ‘Ngalah’

Mengedepankan ‘Ngalah’

“Berhadapan dengan orang itu harus mengedepankan ‘ngalah’.” (Abi Ihya)

Ngalah atau mendahulukan orang lain yang dalam istilah arab dikenal dengan istilah al iitsar adalah sikap yang sangat dicintai Rasulullah. Para sahabat Rasul senang mendahulukan orang lain meski diri mereka dalam keadaan kekurangan.

Pada satu saat ada seorang tamu yang menjumpai Rasul, lantas Rasul ingin menjamunya, ia bertanya pada istri-istrinya ternyata seluruhnya tidak memiliki kecuali hanya air putih. Maka Rasul menawarkan kepada sahabat barangkali ada yang berkenan menjamu tamu itu. Lantas dengan sigap seorang sahabat menyanggupinya. Sahabat itu bertanya pada istrinya, “apa ada makanan?” “Hanya ada makanan jatah untuk anak-anak”, jawab sang istri. “Kalau begitu, alihkan perhatian anak-anak pada hal yang lain, kalau mereka minta makan, ajak mereka tidur, lalu jika tamunya mau masuk tolong lampunya dimatikan dan bergayalah seperti sudah makan.”. Maka paginya ia bertemu Rasulullah dan Rasul takjub dengan apa yang dilakukan sahabat itu malam itu.

Baca juga: Hidup Itu yang Optimis

Mendahulukan orang lain dalam hal selain ibadah adalah hal yang baik, tapi mendahulukan orang lain dalam hal ibadah adalah hal yang justru makruh.

Para sahabat telah biasa menikmati jatah makanan yang biasanya dimakan dua orang dimakan oleh tiga orang. Jatah makanan yang aslinya untuk empat orang dimakan delapan orang. Sebab mereka suka mendahulukan orang lain dari pada diri mereka sendiri.

Maka berhadapan dengan orang, harus mengedepankan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi. Mendahulukan urusan orang lain melebihi urusan pribadi. Sebab mengalah bukan berarti kalah.

Satu saat meski kita pada posisi yang benar, kadang kita mesti mengalah ketimbang harus menuntut hak kita. Karena hal ini tidak bisa dilakukan kecuali oleh orang-orang yang berjiwa besar. Mengedepankan ‘Ngalah’

Wallahu a’lam.