Kenangan di Masjid Jami’ Kota Malang

Kenangan di Masjid Jami’ Kota Malang.
Agus Sarjono – Batu
Aktivis Dakwah Pensiunan Freeport

ehabis Multaqo pukul 16.00 WIB hari itu, semua jamaah bersalaman dengan Abi. Sehabis bersalaman dengan beliau, ana ingat kalau Abi harus mengisi taushiyah di Masjid Jami’ Malang.
Akhirnya ana berbisik pada Abi, “Bi, sudah jam empat. Abi harus ngisi taushiyah di Masjid Jami’ Malang.”
Abi menjawab, “Nggak habis ‘Isya’ tah? Coba telpon Karim!”
Kebetulan di situ ada Ust. Shofyan. Ana tanya betul apakah undangan mengisi taushiyah itu sehabis Maghrib? Setelah ana telepon, Ust. Karim juga menjawab acaranya sehabis Maghrib.
Akhirnya ana kembali lagi pada Abi. “Betul, Bi! Insya Allah habis Maghrib.”
Langsung Abi menjawab, “Lek ngono, ayo berangkat karo awakmu wae!” (Kalau begitu, berangkat dengan kamu saja!)
“Inggih, Bi. Kulo tak mundut mobil riyen. Mangke mobil e lewat jalan belakang.” (Ya, Bi. Saya ambil mobil dulu. Nanti mobilnya lewat jalan belakang.) Begitu jawab saya pada Abi.

Baca juga: Paket Lengkap dari Murabbi

Kebetulan mobil ana kuncinya dibawa Ust. Khoirul untuk mengantar tamu dari Jakarta dan belum dikembalikan. Ana telepon berkali-kali tidak juga diangkat. Ana cari mobilnya juga tidak ada. Ana bingung, lari-lari ke sana ke mari sampai tidak sempat pakai sandal. Padahal waktu sudah mepet sekali. Semua orang yang ana temui ana tanya dan minta untuk mencari Ust. Khoirul.

Akhirnya Ust. Khoirul datang memberikan kunci. Ana langsung menuju mobil dan membawanya memutar menuju belakang pondok. Abi bahkan sudah berjalan sampai SMP Fityani.

Pukul 16.15 WIB. Abi juga tidak sempat membawa HP karena langsung berangkat ke Malang ditemani Ust. Najah. Sambil menyetir, ana melihat google-map. Ternyata mulai Songgoriti sampai Malang macet total. Bisa-bisa 4 jam baru sampai tujuan!
Rupanya betul! Ana lewat Klemuk, baru sampai di Hotel Oshin sudah macet total. Jam sudah menunjukkan pukul 16.30 WIB. Ana bilang pada Abi, “Dos pundi, Bi? Sudah setengah lima. Mobil mboten jalan.” (Bagaimana, Bi? Sudah setengah lima. Mobil tidak jalan.)
Abi menjawab, “Tenang. Wis sakiki wiridan Taisir. Aja pedhot!” (Tenang. Sudah sekarang baca wirid Taisir. Jangan putus!)
Alhamdulillah. Pukul 16.45 WIB kami sudah keluar dari Songgoriti. Tetapi, di lampu merah Hotel Kartika, macet lagi. Akhirnya ana putar kembali di Alfamart lewat jalan Mawar. Terus jalan Pesanggrahan, Museum Angkot, embong kembar, jalan padat sekali. Sampai di Batu Plaza sudah pukul 17.00 WIB. Ana bingung. Sudah waktu mepet begitu, ana kebelet ke belakang (pipis) dan tidak bisa ditahan lagi (rasanya ini tidak seperti biasanya).
Takmir Masjid Jami’ sudah menelepon terus berkali-kali, menambah semakin bingung. Daripada ngompol, ana beranikan bilang sama Abi, “Bi, dalem sudah gak bisa nahan, mau pipis dulu.” (Bi, saya sudah tak bisa menahan, mau pipis dulu.) Abi menjawab, “Ya sudah, cari POM bensin atau masjid.”
Jadi mobil ana jalankan lewat pinggir terus. Separuh makadam, separuh aspal. Di Masjid Beji, ana lihat pukul 17.15 WIB. “Bi, ngapunten. Kulo ke toilet dulu.” (Bi, maaf. Saya ke toilet dulu.)

Alhamdulillah, setelah selesai ke toilet seketika lega.

Setelah wudhu, ana bilang ke takmir Masjid Jami’ kalau kami tidak bisa shalat di situ karena buru-buru (mungkin ana diberi kebelet pipis supaya mobil berhenti memberi kesempatan Abi untuk berdoa). Setelah itu, kami langsung berangkat dengan tetap lewat jalan di pinggir.
Tak lama kemudian, di situ ana mendengar di belakang ada suara sirene. Tetapi mobil itu tidak bisa lewat karena macet total. Sampai di Jatim Park 3, terdengar adzan Maghrib berkumandang. Waktu menunjukkan pukul 17.31 WIB.

“Gimana Bi? Apa bisa? Ini sudah Maghrib.”

Akhirnya ana menelepon Ust. Karim. Saya berikan telepon itu ke Abi. Kepada ust. Karim, Abi dawuh, “Rim, kamu telpon Takmir. Tapi jangan bilang kalau macet. Acaranya saja suruh mengundur sedikit.” Padahal mobil saat itu masih terjebak macet di depan warung Mojorejo, Batu Pendem.
Dalam hati ana tambah bingung. Di belakang kami, suara sirene mobil itu masih meraung-raung, namun tidak bisa lewat. Apalagi mobil ana. Ana tambah membayangkan bagaimana kecewanya Takmir (kalau Abi tidak hadir atau terlambat hadir) yang sudah dua atau tiga minggu sebelumnya mengumumkan acara taushiyah ini lewat radio Madinah setiap hari (Ana pun tahu kalau Abi mau mengisi taushiyah juga dari radio itu).
Namun subhaanallah! Pas di Mojorejo Batu Pendem, mobil kami tidak bisa bergerak. Kok pas posisi mobil ana juga di tengah (padahal mulai dari Batu ana ambil posisi pinggir terus). Waktu sudah menunjukkan pukul 17.40 WIB. Lagi-lagi ana bilang pada Abi, “Dos pundi, Bi? Pun pukul 17.40.”
Jawab Abi, “Tenang. Tetap optimis. Pasrahkan kepada Allah.” (Padahal jalan Batu Pendem sampai Malang dalam keadaan macet. Belum tentu 2 jam bisa sampai Masjid Jami’ Malang)

Namun, subhanallah! Di situlah pertolongan Allah datang. Suara sirene makin dekat. Abi bilang, “Wis, ikutlah di belakang Patwal itu!”
Ana ambil ancang-ancang langsung ikut di belakang mobil Patwal. Dan mobil pun bisa berjalan lancar dan cepat, tidak ada halangan sama sekali seperti Isra’. Padahal mobil kanan kiri penuh. Ana baru sadar ketika sampai di jalan Suhat (Sukarno-Hatta) di depan Unibraw. Lihat jam pukul 17.50 WIB. Jadi Mojorejo Batu Pendem ke Suhat Malang cuma 10 menit! Mungkin ini Patwal atau malaikat yang dikirim Allah untuk mengawal perjalanan Abi supaya tidak mengecewakan orang. (Berhubung acara di Masjid Jami Malang adalah acara Isra’ Mi’raj Nabi Besar Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.)

Sampai Suhat, Patwal belok kiri. Ana terus lurus Mbetek, Oro-oro Dowo, Bromo, dan Talun. Di situ ana menyalakan radio Madinah Masjid Jami’ Malang pas shalat Maghrib di masjid baru selesai doa. Juga pas Takmir Masjid menelepon. Ana suruh terima sama Ust. Najah.
Alhamdulillah, sudah di Talun. Takmir bilang langsung saja parkir di depan masjid. Mau belok ke masjid juga macet. Alhamdulillah, ana sangat senang sekali, berhubung Abi tidak sampai telat dan tidak mengecewakan takmir, dan juga jamaah yang sudah penuh sampai trotoar di depan masjid, menunggu taushiyah Abi.

Begitulah Allah subhaanahu wata’aalaa menjaga kekasihnya (kewibawaan Abi Ihya’), padahal tidak mungkin menurut akal, tetapi Allah berkehendak lain. Mudah mudahan Abi dan keluarga beserta murid-muridnya selalu dalam lindungan Allah. Aamiin. Kenangan di Masjid Jami’ Kota Malang