DAI MILENIAL : SEBUAH PELUANG DAKWAH SECARA KREATIF

CAHAYA FAJAR | DAI MILENIAL : SEBUAH PELUANG DAKWAH SECARA KREATIF

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Indonesia pada tahun 2025 hingga 2030 diperkirakan akan mengalami bonus semografi, yaitu jumlah usia produktif sangat banyak di seluruh dunia. Jelaskan berdasarkan data statistik, jumlah kalangan usia produktif ini atau yang dikenal dengan generasi milenial, mencapai hingga lebih dari 40% dari total jumlah penduduk Indonesia.

Generasi milenial adalah mereka yang lahir dan tumbuh di era revolusi digital. Mereka adalah kelompok generasi yang dibesarkan oleh media. Seluruh hidupnya dihabiskan untuk berinteraksi secara virtual melalui media sosial. Mereka memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya juga melalui tehnologi. Intinya mereka adalah “anak teknologi”. Bagi mereka media adalah segalanya, no gadget no life. Mereka tidak bisa berpisah dengan gadget, karena seluruh kesenangan dan kebutuhan hidupnya ada pada gadget. Generasi milenial ini adalah generasi yang suka hal-hal instant, cepat, tidak mau berpikir ruwet, sederhana dan simpel. Apapun yang mereka butuhkan, semua tersedia dengan cepat melalui bantuan media yang sangat cepat pula. Ciri lainnya adalah suka posting hal apapun termasuk untuk urusan yang sepele.

Mengenali mereka dengan segala karakteristiknya adalah memudahkan bagi para dai untuk melakukan pendekatan dakwah di kalangan mereka. Generasi milenial adalah sebuah potensi dakwah yang sangat besar karena memiliki karakteristik yang unik, serta peluang mengembangkan dakwah secara lebih kreatif memiliki ruang yang sangat lebar. Untuk itu pendekatan pada generasi seperti ini membutuhkan strategi tersendiri yang dapat diterima oleh mereka dengan baik. Karena itulah bagi para dai perlu kiranya melakukan reorientasi dalam pendekatan dakwah di kalangan milenial ini. Yaitu dengan meninggalkan pendekatan konvensional yang lama dan beralih pada cara-cara cerdas kreatif yang dapat diterima dengan mudah oleh mereka kalangan milenial.

Beberapa hal berikut dapat dijadikan panduan dalam mendekati kalangan milenial, antara lain :
1. Gunakan medsos untuk mendekati mereka, karena hidup mereka tidak akan lepas dari medsos. Sehingga pesan-pesan dakwah haruslah dikemas sedemikian rupa kemudian di sebarkan melalui medsos. Baik melalui berbagai platform media sosial yang ada Instagram, Line, Facebook, youtube atau lain sebagainya. Seorang Dai milenial haruslah mampu menguasai berbagai platform medsot yang ada untuk memudahkan masuk dan melakukan pendekatan kepada mereka.

2. Menyampaikan pesan dakwah kepada kalangan milenial haruslah berbeda dibandingkan dengan dakwah di kalangan “generasi Old”. Pesan yang sangat disukai oleh kalangan milenial adalah pesan-pesan yang bersifat praktis, simpel dan sederhana berupa tips-tips tindakan yang dapat memberikan panduan kepada mereka tentang berbagai hal dalam aktivitas keseharian. Proses pengemasan pesan dapat berupa poin-poin pesan praktis dan didesain secara persuasif dalam bentuk pesan infografis yang menarik.

3. Konten pesan yang paling disukai oleh kalangan milenial adalah terkait dengan seputar akhlak praktis, keseharian gerakan pemberdayaan sosial masyarakat, pesan kewirausahaan entrepreneur, dan usaha usaha kreatif mandiri lainnya. Dengan realitas yang demikian maka perlu reorientasi Bagi kalangan dari untuk dapat mendekatkan berbagai realitas tersebut dengan kajian Islam.

4. Perlu adanya jembatan untuk mendekatkan antara generasi tua dengan kalangan milenial melalui dai milenial yang memiliki kedekatan emosional dan usia, sehingga memudahkan untuk dapat diterima oleh kalangan muda milenial tersebut. Bahkan tidak jarang efektivitas penerimaan pesan dakwah juga disebabkan faktor penampilan berupa pakaian dan segala aksesorisnya untuk lebih memudahkan mereka dalam mengidentifikasi kedekatan hubungan itu. Untuk itulah diperlukan reorientasi bagi kalangan dai milenial agar mudah diterima oleh kalangan generasi muda milenial tersebut.

Berdakwah di kalangan muda ini sebenarnya telah dicontohkan oleh rasulullah di saat beliau menyampaikan pesan dakwah melalui Abdullah bin Abbas di saat masih kecil sehingga dipanggilnya dengan “yaa ghulaam”. Perhatikan pesan Rasulullah ini terhadap generasi “milenial” pada saat itu.

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ.

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak  memohon  pertolongan,  mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi).

Dalam hadis tersebut Rasulullah menekankan satu pesan tentang penjagaan atas agama, artinya pesan yang harusnya di bangun bagi kalangan milenial adalah mewasiatkan kepada mereka tentang pentingnya penjagaan terhadap agama, dengan menekankan pada penguatan akidah, namun tetap mempergunakan bahasa yang mudah dipahami oleh mereka, melalui sebuah perumpamaan dan kesederhanaan pemahaman.

Berdakwah di kalangan milenial adalah satu tantangan tersendiri sekaligus peluang besar karena pada diri mereka ada masa depan Islam yang lebih panjang. Di sinilah reorientasi dakwah menjadi satu hal mendesak yang harus dilakukan untuk para dai yang akan terjun di kalangan generasi milenial. Selamat mengukir masa depan melalui dakwah kreatif bagi anak muda harapan Islam.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 27.06.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

*Pengasuh Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar, Dosen FISIP UB, Motivator Nasional, Penulis Buku Produktif, Sekretaris KDK MUI Provinsi Jawa Timur

Klik web kami :
www.insandinami.com

🙏 AYO SHARE DAN VIRALKAN KEBAIKAN