Kamu Sudah Lulus

Mas Ony – Surabaya
Aspri Abi Ihya’ Ulumiddin

Tahun 2011, saya diajak umrah bersama Abi. Ketika itu, kami berangkat umrah dengan rute penerbangan dari Jakarta.
Namun saat di Jakarta, Abuya Sayyid Abbas (adik Abuya Sayyid Muhammad bin Alawy al-Maliki al-Hasani) menghubungi Abi via telepon. Beliau meminta Abi untuk datang ke Bogor, sehingga saya dan Abi harus meluncur ke Bogor saat itu juga.

Di tengah perjalanan, Abi bercerita kepada saya. “Tahaddusan bin ni’mah, sampean aja yang saya beritahu.” Lalu Abi melanjutkan bahwa saat beliau pulang dari Makkah—setelah mondok selama empat tahun itu, Abi diantar pulang oleh Abuya Sayyid Muhammad sampai ke bandara. Bahkan setibanya di bandara pun, Abuya menemani Abi hingga di ruang tunggu VIP.

Di saat menunggu itu, Abi merasa sangat memerlukan bekal berupa uang untuk mengakomodir segala keperluannya selama perjalanan pulang. Karena memang pada saat yang bersamaan, Abi sedang tidak membawa uang satu Real pun. Hanya saja, Abi tidak sanggup untuk mengungkapkan hal tersebut kepada Abuya.

Hingga tibalah panggilan untuk pesawat yang akan Abi tumpangi telah siap. Abi pun bersiap diri, sembari berpamitan kepada Abuya yang telah mendampingi selama di ruang tunggu VIP.

Namun siapa sangka, Abuya yang bukan penumpang pesawat pada saat itu, diperkenankan masuk ke dalam pesawat untuk betul-betul melepas kepulangan Abi ke Indonesia.

Allaahu akbar, sesaat setelah Abi duduk di bangkunya, Abuya—dengan tangannya sendiri—lantas menyematkan seat belt kepada Abi, serta menepuk bahu belakang Abi sambil berucap, “Ihya’, kamu sudah lulus… kamu sudah lulus… kamu sudah lulus..!”
Dan apa yang menjadi kekhawatiran Abi di awal (terkait bekalnya berupa uang), telah sirna. Sebab sesaat setelah Abi diberi “gelar kelulusan” langsung oleh Abuya, Abuya memberikan sejumlah uang yang (ternyata) cukup banyak kepada Abi. MaasyaaAllaah… laa quwwata illaa bilaah.
Perkataan Abuya kepada Abi bahwa “Kamu sudah lulus”, mengisyaratkan betapa (MaasyaaAllaah) Abi tidak sekadar lulus secara keilmuan, tapi juga dari sisi adab dan dzauq yang telah menyatu dalam perbuatan.

Hingga akhirnya, Abi berkata kepada saya, “Mas On, bilang sama teman-teman Surabaya; kalau saya punya ide, kalau saya punya niat, jangan dibantah! Karena kalau saya punya keinginan itu bukan datang dari otak (belaka), tapi lebih pada perintah yang bersuara dari dalam hati.”
Saya pun terdiam gemetar… Saya pegang erat tangan Abi. Saya kecup tangan dan dada Abi…
Namun sesaat saya berpikir, mengapa Abi hanya bilang teman-teman Surabaya? Apa maknanya?

Dan ternyata memang benar. Ketika di lapangan, banyak teman-teman Surabaya yang sangat menggunakan akalnya daripada menggunakan suara hatinya.
Itulah obrolan Abi bersama saya dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bogor, untuk memenuhi panggilan Abuya Sayyid Abbas dan bertemu dengan beliau.

***
Setibanya kami di Bogor, Abi dipeluk, dicium, dan disambut hangat oleh Abuya Sayyid Abbas.
Dan kalau bukan karena Abi adalah sosok santri yang istimewa di mata Abuya Sayyid Muhammad, tidak mungkin Abuya Sayyid Abbas begitu memeluk dan memberikan perhatian yang lebih kepada Abi.
Dan Sayyid Abbas pernah bertanya kepada Abi, siapa orang ini?
“Ini Aunur Rochim yang ke mana-mana ngantar saya.”
Lantas Sayyid Abbas berkata kepada Abi dengan bahasa Arab yang saya sendiri tidak paham. Akhirnya saya tanya sama Abi, “Tadi Sayyid Abbas bilang apa Bi, kok tangannya tadi memotong lehernya?”
Jawab Abi, “Ya, sampean suruh ikut aku sampai lehermu putus alias sampean suruh ikut aku sampai mati.”
Dalam hati saya, “Siiaap, Bi!”

***
Lalu bagaimana sikap kita (sebagai seorang santri) terhadap Abi? Apakah sudah sami’na waatha’na? Apakah sudah sehati? Apakah kita masih pakai logika semata (yang seolah-olah keinginan Abi tidaklah masuk akal)?
Abi juga sempat berucap, “Kapan tutug’e lek nggae akal tok?!” (Kapan sampainya kalau hanya mengandalkan akal saja?!)
Ucapan itu.. Subhaanallaah… membuat saya tidak mampu berkata apa-apa. Saya hanya bisa memegang erat tangan Abi, mencium tangan Abi, dan mencium dada Abi dengan rasa gemetar.

Demikian sedikit cerita dari pengalaman saya bersama Abi dalam perjalanan dari Jakarta menuju Bogor. Bagaimana seorang guru sekaligus murabbi yang betul-betul kekasihnya Abuya, yang betul-betul sudah lulus. Bukan lulus karena nilai dan/atau dapat ijazah, tetapi saya memaknai lulus yang diucapkan Abuya adalah lebih dari itu; (melainkan) ilmunya mumpuni, adabnya Maasyaa Allaah, dzauq-nya luar biasa…

Itulah yang harus menjadi catatan kita bersama.

Oleh karena itu, sebagaimana ketika Umrah 2019 kemarin, pada saat di Makkah, Abi sempat bilang sama saya, “Jangan sampai ada santri yang bilang kepada saya sebagai Murabbi, ‘Lho kok ngono Abi?’ Kalau kepada guru, monggo karena guru banyak. Tapi kalau Murabbi cuman saya.”
Seperti halnya Abi kepada Abuya. Gurunya Abi banyak, tetapi Murabbi hanya satu, yaitu Abuya As-Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki Al-Hasani.