(HILANGNYA) EMPATI KEPEMIMPINAN SAAT BENCANA

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Jika kita ingin mengetahui kualitas suatu kepemimpinan maka Lihatlah Bagaimana sikap dan perilaku kepemimpinannya saat terjadi bencana di situlah kita akan mengetahui mana seorang pemimpin yang benar-benar pemimpin tahu pemimpin yang berhati kerdil.

Dalam sejarah Islam banyak terdapat jejak kepemimpinan yang sangat hebat dan luar biasa dengan tanggung jawab apa yang tinggi. Catatlah dalam sejarah Amirul Mukminin Sayyidina Umar Bin Khattab ketika pada musim kemarau saat rakyatnya sedang dilanda kelaparan. Umar bin Khattab selaku khalifah hanya menikmati roti dan minyak saja untuk dikonsumsi. Bahkan beliau pernah bersumpah untuk tidak makan daging dengan maksud berempati pada rakyatnya yang sedang dilanda musibah kelaparan. Dikisahkan dalam kitab, Qabasat min Hayati ar Rasul, yang ditulis oleh Syaikh Ahmad Muhammad ‘Assaf, bahwa pada masa kekhalifahan Umar bin Khathab ra, semenanjung Arab dan kaum Muslimin sepenuhnya pernah mendapatkan dua bencana sekaligus yang meluluhlantakkan kebun dan ladang, bahkan banyak menelan korban dari kalangan kaum muslimin. Yakni ketika hujan tidak turun selama sembilan bulan, yang dibarengi dengan letusan gunung berapi yang mengeluarkan lahar, hingga bumi yang dilaluinya terbakar. Begitu parahnya bencana, hingga tahun itu dikenal dengan “tahun bencana”.

Amirul Mukminin Umar Bin Khattab lalu mengutus para pegawainya di Irak dan Syam, untuk mendatangkan penduduk terbaiknya dalam rangka menberi bantuan di wilayah semenanjung. Ia menulis surat kepada Amr bin Ash di Palestina : “Assalamu’alaika. Adakah engkau melihatku dan orang-orang yang bersamaku hančur, sedangkan engkau bersama orang-orang yang bersamamu hidup tenang. Karenanya tolonglah, tolonglah !! “.

Tidak lama berselang, bantuan gandum dan minyak berdatangan dari berbagai penjuru. Amirul Mukminin Umar r.a. ikut terjun memberi bantuan makanan kepada orang-orang di Madinah, sementara para utusan terpencar di berbagai pelosok di semenanjung itu, untuk meringankan penderitaan mereka. Ketika menangani persoalan ini, Umar bin Khathab sempat bersumpah untuk tidak menyantap daging dan mentega sehingga orang-orang selamat dari musibah. Ia dalam keadaan demikian hingga datanglah hujan dan musibah pun berlalu. Ia ketika itu berkata, “Bagaimana mungkin saya dapat menangani urusan rakyat jika saya tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan.”

Sementara pada kisah yang lain ketika wabah pes/tha’un menjangkiti kaum Muslimin di Syam, Amirul Mukminin Umar bin Khathab mengutus seseorang membawa surat kepada panglima perangnya di sana, Abu Ubaidah bin Jarah. Isinya adalah :
“Saya memang telah menyebutkan kebutuhan saya, namun rasanya tidak dapat kutunaikan. Karenanya, jika suratku ini datang, saya menginginkan sesuatu darimu. Jika datang pada waktu malam maka janganlah menunggu pagi engkau datang kepadaku, dan jika datang pada waktu siang maka janganlah engkau datang kepadaku”.

Ketika surat sampai di tangan Abu Ubaidah bin Jarah, ia tersenyum dan berniat untuk tidak memenuhi permintaan Khalifah. Ia berkata kepada utusan, “Saya telah mengerti apa yang diinginkannya. Semoga Allah merahmati Umar. Ia ingin mempertahankan sesuatu yang tidak mungkin bisa bertahan”.

Lalu ia menulis surat, isinya, : “Wahai Amirul Mukminin, saya telah mengerti apa yang inginkan, namun batalkan keinginan itu. Saya akan tetap berada di tengah pasukanku. Saya tidak mementingkan diriku sendiri”. Akhirnya, Abu Ubaidah gugur terserang wabah itu. Ia menolak meninggalkan pasukan hanya untuk menyelamatkan diri sendiri.

Sikap empati yang begitu mendalam adalah wujud dari rasa tanggung jawab kepemimpinan yang tinggi terhadap nasib rakyatnya. Pemimpin yang demikian lebih mementingkan nasib rakyatnya daripada kepentingan dirinya sendiri. Rakyat mungkin akan dapat bertahan dalam menghadapi bencana dan suasana sesulit apapun seperti saat terjadi wabah pandemi ataupun kelaparan dan kekurangan sumber-sumber ekonomi, manakala mereka melihat secara langsung bahwa pemimpin mereka ikut turut merasakan terhadap kondisi yang mereka alami.

Sikap pemimpin yang demikian akan mampu menumbuhkan daya tahan sosial dan imunitas kolektif (Herd Immunity) serta kesiapan dan ketangguhan mereka dalam menghadapi bencana atau wabah secara bersama-sama. Artinya herd immunity akan terwujud dalam diri masyarakat, manakala para pemimpinnya memberikan contoh keteladanan dan ikut merasakan apa yang dirasakan dan dialami oleh masyarakat secara nyata.

Pertanyaannya, apakah para pemimpin sekarang masihkah ada yang memiliki jiwa empati yang mendalam dan tanggung jawab yang tinggi terhadap nasib rakyatnya dengan lebih mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan dirinya sendiri. Serta lebih mendahulukan keselamatan jiwa penduduk daripada hanya semata menguatkan kepentingan ekonomi ?.

Seorang pemimpin yang bertanggung jawab, akan berusaha berempati terhadap apa yang dialami oleh rakyatnya dan ikut merasakannya secara langsung dan nyata dalam laku keseharian, serta tidak membuat kebijakan yang kontraproduktif yang dapat menyakiti hati rakyat dengan bertindak pilih kasih, serta berlaku tidak adil atau bahkan berlawanan dengan kondisi objektif yang dialami oleh rakyatnya yang sangat memprihatinkan. Misal, disaat masyarakat sedang belajar berdisiplin membatasi ruang gerak, namun malah pemimpinnya menampakkan tindakan yang tidak pantas dengan mengadakan pesta dan konser. Na’udzubillahi min dzalika.

Pemimpin yang plin-plan dalam mengambil keputusan, serta bertindak/berperilaku yang selalu menyelisihi perasaan rakyatnya, adalah tanda seorang pemimpin yang tidak memiliki hati dan telah kehilangan rasa empati. Maka jika demikian bagaimana mungkin ia akan mendapatkan simpati dari rakyatnya, sementara ia telah menyakiti dan menghianati perasaan publik ?.

Penulis KH. Akhmad Muwafik Saleh pengasuh Pesma Tanwirul Afkar, Dosen FISIP UB dan sekretaris KDK MUI provinsi Jawa Timur