Jejak Robbaniyun dan Ribbiyun

Tausyiah | Abi Ihya’ Ulumiddin

بسم الله الرحمن الر حيم

Alloh swt berfirman:

“Hendaknya kalian menjadi Robbaniyun, disebabkan kalian selalu mengajarkan Al Kitab dan di sebabkan kalian mempelajarinya”. (Q.S. Ali Imran: 79).

 

“Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka Ribbiyun yang banyak jumlahnya. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Alloh, dan tidak lesu, dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Alloh menyukai orang orang yang sabar”. (Q.S. Ali Imran:146)

Kebenaran dari Alloh swt pada dasarnya adalah satu bagian yang utuh. Ia tidak dapat di bagi-bagi secara parsial (juz’iyah). Aktivis dakwah yang bertindak sebagai promotor kebenaran haruslah membekali diri dengan keadaan jiwa yang stabil. Seorang aktivis dakwah tidak boleh berjiwa yang keadaannya berubah-ubah (labil) sehingga dia tampak taraddud (inkonsisten). Karena itu aktivis dakwah harus menjalani proses tarbiyah dan tasqif, bukan proses tabanni (doktrin). Keadaan yang labil akan berakibat lahirnya kesenjangan yang tajam antara aktivis dakwah dengan konsep dakwahnya.akan tumbuh darinya pula kesenjangan antara pemimpin dakwah dengan para anggotanya. Dan pada akhirnya akan memicu kesenjangan antara aktivis dakwah dengan mad’u (sasaran dakwah)nya.

Untuk mendapati gambaran jiwa yang stabil di dalam kancah mempromosikan kebenaran, Al Qur’an telah memberikan tarbiyah dan tasqif kepada kita melalui jejak generasi yang disebut Robbaniyun dan generasi Ribbiyun yang disebut-sebut selalu menyertai Rosululloh saw dalam setiap suka dan duka perjuangan beliau.

Robbaniyun konon berasal dari bahasa suryani. Menurut pendapat yang lain, Robbaniyun (Robbani) berasal dari lafadz   ربان (على وزن فعلان)artinya pendidik kebenaran dan orang yang mengenalkan manusia kepada agamanya. Pendapat yang lain menyatakan Robbaniyun berasal dari lafadz  الرب baik sebagai masdar yaitu orang yang mentarbiyah dirinya dengan ilmu maupun نرب yaitu Alloh swt. Sedang istilah Ribbiyun seperti halnya Robbaniyun keluarnya sama dari lafadz  الرب  , hanya saja ia berasal dari masdar ribayah. ( Al Husain bin Muhammad Al Ashfihani,Al MUfrodat Fi Ghorib Al Quran,184)

Menurut Ibnu Abbas, Robbaniyun adalah kelompok yang memenuhi kriteria Ulama’, Hukama’ dan Hulama’.(Al Hafidz Ibnu Katsir,Tafsir Al Quran AL Adzim 1/463) Atas dasar ini maka karakter generasi Robbaniyun setidak-tidaknya ada tiga. Pertama, dia haruslah alim dengan ilmu yang mengantarkan dirinya takut kepada Alloh swt. Kedua, dia haruslah seorang yang hakim, yang lahir dari jiwanya yang bersih hikmah-hikmah yang menakjubkan. Dan ketiga, dia haruslah orang yang halim (santun) karena wawasan ilmunya yang begitu luas dibarengi adab yang tinggi.

Dengan kriteria tersebut, kelompok manakah yang dikategorikan sebagai Robbaniyun? Al Qur’an diantaranya menyebut dua golongan yang berhak dikategorikan sebagai Robbaniyun, yaitu Ulama’ sebab aktivitas mengajar dan mendidik serta tholabah (thullab) sebab aktivitas belajarnya. Atas dasar kualifikasi ini tampaknya jejak Robbaniyun patut diteladani oleh segenap pimpinan. Dan walaupun sudah memimpin hendaknya pimpinan tetap tidak mandeg aktivitas belajarnya.

Sementara itu Ribbiyyun adalah tipe generasi yang penyabar. Kesabarannya ditampilkan di dalam membela, taat dan patuh kepada pemimpin yang memperjuangkan kebenaran. Mereka senantiasa bersikap: 1). Tidak lemah (loyo) oleh berbagai bencana di kancah perjuangan (adamul wahan). 2). Tidak lesu di dalam melaksanakan komando perjuangan (adamud dlu’uf). Dan 3). Tidak begitu mudah menyerah di hadapan para penentangnya (adamul istikanah).

Menurut Ibnu Zaid, Ribbiyun identik dengan rakyat (ra’iyyah) dan para pengikut (atbaa’).(Al Hafidz Ibnu Katsir,Tafsirul Quran Al Adzim 1/504) Atas dasar ini maka tampaknya yang tepat di dalam mentauladani karakter Ribbiyun adalah para anggota dan para bawahan.

Sebuah gerakan pemeloporan kebenaran dengan komposisi para pimpinan yang berpola Robbaniyun dan para anggota bawahan yang berpola Ribbiyun niscaya gerakan itu akan tumbuh secara stabil, ideal dan harmonis. Tatanan yang indah ini akan menghapus kesenjangan yang terjadi antara pihak pimpinan dengan pihak bawahan serta antara pihak pimpinan-bawahan dengan konsep-konsep dakwah yang tengah diperjuangan.

Dengan posisi kita masing-masing, marilah kita menapaktilasi jejak-jejak generasi Robbaniyun dan Ribbiyun sehingga keberadaan kita yang insya’Alloh sebagai pelaku promosi kebenaran ini akan menjadi pemain baik penahan maupun penyerang yang stabil. Kenapa dalam mempromosikan kebenaran kita kalah dengan para promotor kebatilan yang begitu berani dan getol walaupun perjuangannya akan membawa ke neraka.

Wallohu A’lam