Istikharah

“Jangan kita tertipu, maka istikhoroho, opo maneh masalah bojo, ojo kok malah pecine thok seng sholeh” (Abi Ihya).

Suatu hal yang kita sukai, tidak mesti baik dimata Allah. Sebaliknya suatu hal yang tidak kita sukai, belum tentu jelek dimata Allah. Maka menyukai apa yang menurut Allah baik meski awalnya kita tak suka adalah proses yang mesti kita lakukan. Dan tidak menyukai apa yang menurut Allah jelek meski pada mulanya kita sukai, juga hal yang mesti kita usahakan.

Kadang kita bingung menentukan satu opsi kehidupan, apakah satu hal itu perlu kita eksekusi lebih lanjut, atau justru ada hal lain yang mesti kita eksekusi. Maka mengusahakan hal terbaik disertai dengan kondisi hati yang ‘sumeleh’ plus istikharah kepada Allah sepertinya perlu kita lakukan.

Jika pada satu saat kita dihadapkan pada sebuah opsi hidup yang kita sukai, seperti terkait dengan pekerjaan, studi, atau jodoh, maka selayaknya kita tidak serta merta memandang hal itu hanya menurut kacamata kita, namun semestinya kita libatkan Allah disana, dengan cara melakukan shalat istikharah, yakni shalat dua rakaat supaya Allah memilihkan untuk kita satu hal yang terbaik. Nabi pernah berujar: “Termasuk dari kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya kepada Allah dan kerelaan hati dengan ketentuan-Nya. Dan termasuk dari kesengsaraan anak Adam ialah meninggalkan istikharah dan murka dengan ketentuan-Nya.”

Istikharah sebenarnya tidak dilakukan hanya pada urusan jodoh semata, tapi alangkah baiknya disetiap urusan yang kita jalani kita libatkan Allah disana dengan jalan istikharah. Sang Kinasih mengajarkan untuk melakukannya disetiap urusan, melakukannya pun tidak berkait waktu, dan bisa juga niatnya digabung dengan semisal shalat sunnah rawatib.

Melakukan shalat Istikharah bukan berarti menafikan usaha, analisa, dan observasi lahir terhadap urusan yang akan kita eksekusi, kita tetap harus melakukan itu semua ditambah shalat istikharah yang akan menguatkan opsi yang akan kita jatuhkan.

Selepas beristikharah, yang perlu kemudian kita ikhtiarkan adalah kepasrahan dan kerelaan dengan apa yang nantinya menjadi ketentuan Allah. Jangan lantas malah keluar ungkapan ketidakrelaan dari mulut kita terhadap ketentuan-Nya. Yakini bahwa apa yang menjadi ketentuan-Nya adalah proses yang mesti kita jalani dalam kehidupan yang pasti menyimpan satu hikmah yang tidak sederhana. Entah hal itu baik dan menyenangkan atau tidak menurut kita.

Wallahu a’lam.