Pandai Menyenangkan Hati

Dikisah oleh | Zidnia Nuron Imanan – Papua, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah Jurusan PAI Universitas Hasyim Asy’ariy Jombang

Hari itu, saya dan adik saya ingin sowan ke Abi. Berangkat dari Jombang dengan membawa makanan kesukaan beliau: ayam bakar madu. Ketika sampai di sana, saya singgah di pondok putri untuk istirahat dan merebahkan badan setelah dari perjalanan. Beberapa saat kemudian, mbak-mbak pondok putri yang membantu di ndalem menghampiri sambil berkata, “Dik, ditunggu Abi di ndalem…”

Kami langsung menuju ndalem sambil membawa ayam bakar madu itu. Bertemu dan berbincang panjang bersama beliau, kemudian beliau berkata, “Tadi bawa ayam bakar, ya? Ayo dimakan bareng-bareng sama Abi.. di sana.. di ruang makan. Mumpung Abi belum makan siang.”
Demikian dawuh Abi sambil menunjukkan senyumnya. Sungguh sebuah kehormatan bisa makan bersama Sang Guru Besar.
Di meja makan hanya ada Abina, saya, adik-adik. Sebelum makan, kami mengambilkan nasi untuk beliau. Setelah disuguhkan, beliau berkata, “Kurang banyak nasinya Nduk.. kan Abi besar orangnya? Jadi nggak cukup kalau hanya segitu.. hehehe,” gurau beliau. Ketika itu memang kami menciduk nasi hanya satu centhong porsi adik saya. Ternyata kurang jika itu porsi beliau hehe…

Setelah semua nasi terhidang di meja makan, kami menunggu Abi untuk memulai makan dan mengambil lauk. Sempat ada jeda lama karena saling tunggu menunggu.

“Lho kok diam saja? Ayo ini diambil ayamnya, kita habiskan bareng-bareng ya?” kata beliau sambil memotongkan bagian-bagian ayam bakar ingkung. Beliau membelahnya menjadi beberapa bagian. Setelah itu satu bagian dada diberikan kepadaku, satu bagian paha bawah diberikan kepada adikku yang tengah, dan bagian paha bawah lainnya diberikan kepada adikku yang terakhir. Sedang beliau memegang bagian dada dan kepala. “Nah.. ini bagiannya Abi.. kepala ya dapat kepala.. hehe..,” kata beliau sambil tertawa hingga terlihat gerahamnya. Maksudnya di sana Abi sebagai bapak kami dan karena bapak adalah kepala keluarga, makannya dapat kepala pula. Sedang kami mendapat bagian yang lain, karena kami bukan bapak.
Hmm.. kira-kira seperti itu pemahaman guyonan beliau.. hehe..

Begitulah beliau. Sangat pandai menyenangkan hati kami. Selalu bisa membuat kami tertawa. Di saat seperti ini, terkadang kami merasa paling disayang oleh beliau. Dan luar biasanya, setiap kami ke sana, beliau selalu memperlakukan kami istimewa. Padahal kami bukan siapa-siapa dan bukan orang yang istimewa. Hanya anak dari santri beliau.

Dan saya yakin selain kami, semua orang jika bertemu dengan beliau akan merasa bahwa dia yang paling disayang dan dicintai beliau. Tidak ada orang yang merasa dikecewakan oleh beliau. Karena sifatnya yang selalu ingin menyenangkan hati orang lain dan pandai menghormati tamu.

Jazakumullah Abina.. kami sayang Abina karena Allah…

[]