MANAJEMEN PENAMPILAN PROFETIK

CAHAYA FAJAR | LIBAASUT TAQWA : MANAJEMEN PENAMPILAN PROFETIK

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Penampilan (physical appearance) adalah sesuatu yang sangat penting dalam berkomunikasi antar manusia. Bahkan terkadang seseorang dalam berkomunikasi dan memberikan penilaian dasar sering kali berdasarkan dari penampilannya. Walaupun penilaian dan kesimpulan kita mengenai orang lain dalam memutuskan interaksi, pertemanan, penerimaan dan sebagainya apabila hanya berdasarkan pada penampilannya semata tentu sangat berkemungkinan menjadi tidak akurat. (Julia T. Wood. 2012).

Perspektif profetik sangat memperhatikan sekali terhadap penampilan seseorang khususnya dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena penampilan adalah sesuatu dhahir yang tampak dan orang pertama kali dalam berinteraksi dengan orang lain adalah dengan memperhatikan penampilannya. Hal ini terungkap pada teks sumber wahyu;

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ قَدۡ أَنزَلۡنَا عَلَيۡكُمۡ لِبَاسٗا يُوَٰرِي سَوۡءَٰتِكُمۡ وَرِيشٗاۖ وَلِبَاسُ ٱلتَّقۡوَىٰ ذَٰلِكَ خَيۡرٞۚ ذَٰلِكَ مِنۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ لَعَلَّهُمۡ يَذَّكَّرُونَ

Wahai anak cucu Adam! Sesungguhnya Kami telah menyediakan pakaian untuk menutupi auratmu dan untuk perhiasan bagimu. Tetapi pakaian takwa, itulah yang lebih baik. Demikianlah sebagian tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka ingat. (QS. al-A’raf : 26)

Seruan ayat ini adalah teruntuk bagi Bani Adam artinya kepada seluruh ummat manusia, bahwa hendaklah manusia memperhatikan penampilannya, pakaiannya yang berfungsi untuk menutupi tubuhnya dan tidak hanya sekedar untuk melindungi dari panas dan dingin, menghindari sengatan matahari ataupun binatang lainnya. Lebih daripada itu, pakaian dimaksudkan agar dapat menutup auratnya (batasan pada tubuh yang memang harus ditutupi) sekaligus sebagai mode, perhiasan yang memjadi bagian dari gaya hidup. Namun ada hal unik yang disampaikan dalam teks sumber wahyu tersebut, yaitu ingin mengenalkan konsep baru.

Suatu konsep yang dikenalkan dalam perspektif profetik ini adalah “Libasut Taqwa”. Yaitu pakaian atau penampilan yang dibingkai dalam balutan ketaqwaan. Balutan taqwa pada penampilan adalah nilai transendental yang disematkan pada penampilan. Bahwa batas minimal seseorang dalam berpakaian adalah menutupi aurat tubuhnya kemudian level selanjutnya adalah penampilan (perhiasan) sebagai penunjang gaya hidup. Namun persepktif profetik memberikan arahan yang sangat indah agar penampilan menjadi lebih baik, lebih bernilai dan bermakna yaitu memberikan sentuhan nilai transendental dalam berpenampilan yang disebut dengan Libasut Taqwa, yaitu penampilan yang tunduk pada aturan ilahi serta melampaui dari semata penampilan fisik. Dengan kata lain penampilan fisik haruslah dibarengi dengan penampilan psikis berupa moralitas nilai adab.

Bahkan dalam di ayat selanjutnya secara spesifik Allah swt menegaskan bahwa seseorang haruslah berpenampilan yang terindah dan terlebih pula disaat akan berinteraksi dengan Tuhannya yaitu beribadah yakni dikala akan mendatangi masjid untuk berkomunikasi dan bersujud kepada Allah swt.

يَٰبَنِيٓ ءَادَمَ خُذُواْ زِينَتَكُمۡ عِندَ كُلِّ مَسۡجِدٖ وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ

Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf, Ayat 31)

Perspektif profetik menekankan keindahan dalam berpenampilan sebab Allah adalah maha Indah dan suka dengan keindahan.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

Dari Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan.” Seorang laki-laki bertanya, “Sesungguhnya laki-laki menyukai baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 131).

Karena berpenampilan yang indah menurut perspektif profetik bukanlah semata hanyalah sekedar berpenampilan untuk mendapatkan pujian orang hingga menimbulkan kesombongan dalam diri. Berpenampilan indah dimaksudkan sebagai upaya untuk bersyukur pada Allah swt atas segala karunia nikmat yang diberikanNya, sebab Allah senang manakala nikmat yang diberikanNya mampu membekas dalam diri seseorang. “Jejak nikmat” bisa dalam bentuk penampilan yang baik, rapih, bersih, enak dipandang, tidak lusuh dan kotor, sehingga enak dan nyaman disaat berinteraksi dengan orang lain. Sebagaimana dikatakan dalam sabda Nabi :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدٍ الزَّعْفَرَانِيُّ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ .قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ

Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Muhammad Az Za’farani telah menceritakan kepada kami ‘Affan bin Muslim telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari ‘Amru bin Syu’aib dari Ayahnya dari Kakeknya ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah senang bila melihat bekas nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-NYa.” (HR. Tirmidzi no. 2744)

Jadi batasan nilai dalam berpakaian bagi seseorang dalam manajemen penampilan profetik sejatinya berbasis pada sebuah nilai pemahaman mengenai kaitan hubungan antara penampilan dengan nilai spiritualitas yang dikenal dengan konsep Libasut Taqwa, Balutan Taqwa pada Penampilan, dengan beberapa ketentuan kriteria syarat, yaitu antara lain :
1. Menutup aurat. Ini adalah batas minimal penampilan yang ditegaskan dalam teks sumber wahyu. Yaitu penampilan seseorang tidaklah boleh keluar dari batas aurat. Artinya pakaian yang dipakai haruslah menutupi aurat. Aurat laki-laki menurut jumhur mayoritas ulama adalah dari pusar hingga lutut. Sementara aurat perempuan adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan kedua telapak tangan. Jadi manakala penampilan seseorang melampaui dari aturan tersebut atau keluar dari batas minimal itu maka hal demikian diibaratkan dengan berpakaian tapi telanjang. Sebagaimana diseburkan dalam hadits Nabi ;

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: 1.Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan 2. para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

2. Indah dipandang mata (good looking) serta membuat orang merasa nyaman berinteraksi dengannya. Komunikasi profetik menekankan bahwa salah satu dari keberhasilan komunikasi dalam mempengaruhi orang lain adalah penampilan harus indah dan menyenangkan saat dilihat dan nyaman saat berinteraksi. Hal ini telah sempurna di contohkan oleh Rasulullah. Rasulullah adalah seseorang yang dari paras muka sangat indah secara sempurna tanpa cacat. Wajah yang selalu dipenuhi senyum merekah bagaikan matahari yang bersinar terang namun tidak menyilaukan mata. Keindahan penampilan fisik nabi sangat sempurna dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tertulislah dalam sejarah tentang fisik indah Rasulullah saw :

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَبْعَةً لَيْسَ بِالطَّوِيلِ وَلَا بِالْقَصِيرِ حَسَنَ الْجِسْمِ أَسْمَرَ اللَّوْنِ وَكَانَ شَعْرُهُ لَيْسَ بِجَعْدٍ وَلَا سَبْطٍ إِذَا مَشَى يَتَوَكَّأُ

Telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mas’adah berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab Ats Tsaqafi dari Humaid dari Anas ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang laki-laki yang sedang, tidak tinggi dan tidak pendek, postur tubuhnya bagus dan berkulit cokelat. Rambut beliau tidak keriting dan tidak lurus, jika berjalan tegap.” (HR. Tirmidzi no. 1676).

Rasulullah adalah pemilik penampilan yang terindah dan berwibawa. Beliau sangat peduli atas penampilan baik untuk dirinya yang mulia ataupun pula terhadap para sahabatnya agar mereka para sahabat memperhatikan penampilan dirinya dengan bagus. Bahkan Rasulullah sendiri adalah seorang yang sangat peduli dengan penampilan dirinya walaupun tidak berlebih-lebihan namun tetap tampil indah dan berwibawa. Sebagaimana terungkap dalam sebuah hadits sabda beliau :

عن أنس بن مالك قال: «كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يكثر دهن رأسه وتسريح لحيته، ويكثر القناع حتى كأن ثوبه ثوب زيات».

“Rasulullah shollallohu alaihi wasallam. sering meminyaki rambutnya, menyisir janggutnya dan sering waktu menyisir rambutnya beliau menutupi (bahunya) dengan kain kerudung. Kain kerudung itu demikian berminyak seakan-akan kain tukang minyak.” (Diriwayatkan oleh Yusuf bin’Isa, dari Rabi’ bin Shabih, dari Yazid bin aban ar Raqasyi, yang bersumber dari Anas bin Malik r.a.).

3. Tidak atas dasar kesombongan dan berlebihan. Batasan dalam penampilan adalah tidak boleh ada unsur untuk menyombongkan diri dan ingin mendapatkan pujian dari orang lain serta berlebih-lebihan, maka hal itu dilarang di dalam pendekatan ini. Sebagaimana terungkap dalam sabda Nabi :

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا غَيْرَ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ وَقَالَ يَزِيدُ مَرَّةً فِي غَيْرِ إِسْرَافٍ وَلَا مَخِيلَةٍ

Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Hammam dari Qotadah dari ‘Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, dia berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan.” Kesempatan lain Yazid berkata: “dengan tidak isrof (berlebihan), dan tidak sombong.” (HR. Ahmad no. 6408).

Termasuk dalam tindakan sombong dan berlebihan dalam berpenampilan seperti menampilkan pakaian atau perhiasan yang kaya desain dan model dengan harga yang sangat mahal melampaui batas kewajaran, kesemua itu dengan maksud untuk berfoya-foya dalam mengikuti gaya hidup (life style) sehingga memunculkan perasaan sombong.

4. Mengedepankan aspek kesederhanaan artinya sesuatu yang tidak berlebihan baik dari aspek corak, desain, model hingga harga yang tidak mahal. Kesederhanaan penampilan mencerminkan diri seseorang itu sederhana dan tidak terlalu neko-neko, berlebihan, mewah hingga membuat dirinya sombong. Nabi lebih menyukai kesederhanaan dalam penampilan, sebagaimana sabda beliau:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ أَحَبُّ الثِّيَابِ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَلْبَسَهَا الْحِبَرَةَ

dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata; “Pakaian yang paling disukai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah memakai hibarah (kain dari katun yang direnda atau bergaris).” (HR. Bukhari no. 5366)

Bahkan Rasulullah juga melarang seorang laki-laki untuk memakai baju yang terbuat dari sutera dan memakai cincin emas, selain untuk menampilkan kesederhanaan sekaligus ternyata juga menyehatkan.

5. Semata untuk dan saat ibadah. Penampilan yang bagus haruslah lebih diutamakan disaat sedang akan beribadah menghadap Allah karena Allah maha indah dan suka dengan keindahan. Namun dalam realitasnya banyak orang yang berbanding terbalik. Mereka berpakaian apa adanya disaat akan beribadah menghadap Allah swt namun berpenampilan sangat rapi parlente disaat akan bertemu dengan orang lain. Artinya seyogyanya penampilan terbaik itu haruslah ditujukan atau diniatkan untuk memuliakan pemilik keindahan (Allah) baik dalam ibadah maupun dalam menuntut ilmu dan bukan sebaliknya.

7. Penampilan memiliki dua dimensi yaitu Balutan Taqwa Dhahir dan Balutan Taqwa Bathin pada penampilan. Balutan dhahiriyah adalah penampilan dari aspek fisik yaitu penampilan bersih, rapih, suci sehingga enak dipandang oleh orang lain sehingga membuat orang lain nyaman saat berinteraksi dengan dirinya. Bukan pribadi yang membuat orang merasa risih saat berdekatan dengannya sebab bau atau aroma tubuh yang tidak sedap, baju yang lusuh dan asal-asalan sehingga membuat orang ingin segera menjauh darinya. Sementara Balutan bathiniyah adalah perasaan nyaman yang dirasakan oleh orang lain yang berinteraksi karena bersihnya hati dan indahnya akhlaq perilaku dari si pemakainya. Sebab setiap manusia itu sejatinya menampilkan aura atas dirinya. Disaat seseorang memiliki kepribadian yang tenang, hati yang bersih dan damai maka orang lain akan juga turut merasa nyaman dan damai serta menyenangkan saat berinteraksi dengan dirinya sebab aura yang dipancarkan penuh dengan aura kasih.

Demikianlah perspektif profetik dalam mengarahkan tentang manajemen penampilan manusia, karena penampilan yang baik dan dipadu dengan aura batin yang damai serta akhlaq yang indah akan menjadikan diri seseorang sebagai pusat perhatian yang mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan kebaikan sebagaimana maksud komunikator. Penampilan adalah negosiasi makna. Wallahu a’lam.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 15.01.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com