Jadilah Manusia Yang Gampangan

Ringkasan Taklim
Abina KH.M. Ihya’ Ulumiddin@Ma’had Nurul Haromain Pujon.

Dalam berdakwah ada sebuah hal yang mesti kita usahakan. Seperti yang pernah di pesankan oleh Rasulillah shallallahu alaihi wasallam: “Gembirakan jangan membuat lari, mudahkan jangan mempersulit.”

Bagaimana kita berusaha mengambil simpati kepada obyek dakwah. Tak perlu kemudian berdebat sebuah hal yang sebenarnya tak perlu diperdebatkan.

Lebih baik lagi jika berdakwah dengan mempertimbangkan hikmatuttasyrinya tidak sekedar hukum secara fiqhnya. Maka jika seseorang menjadi Kyai jangan menjadi Kyai yang hobi berfatwa dengan “pokoke”, pokoke haram!.

Berdakwah juga semestinya memakai bahasa-bahasa yang indah, jika menyampaikan tentang shalat misalnya, maka semestinya kita tidak memakai bahasa-bahasa yang menyakitkan. Seperti, Sapi tidak shalat, jadi orang yang tidak shalat maka sama dengan sapi. Itu tidak bijaksana.

Berdakwah mengikuti metode yang di terapkan walisongo adalah sebuah kebijaksanaan yang luar biasa. Bagaimana beliau berusaha memasukkan ajaran Islam dalam budaya jawa. Jangan seperti Salafi yang kaku. Pernah suatu waktu Delegasi Salafi di terjunkan ke Asia ,mereka memulai dakwahnya dengan menempelkan poster bergambar orang berjenggot benar, tidak berjenggot salah, pakai celana cingkrang benar, tidak pakai salah. Masih dua hari mereka langsung di usir.

Berdakwah tidak perlu suka berkomentar sebuah hal yang tak perlu dikomentari. Tak perlu gampang menyanggah sebuah hal yang tak butuh di sanggah. Tak perlu mengajak berdebat hal yang tak perlu diperdebatkan. Apalagi jika berupa debat kusir.

Inilah akhlaq yang diajarkan oleh Rasulillah dalam berhubungan dengan orang lain. Menjadi manusia yang gampangan. Tidak membuat sebuah hal yang kecil dan sederhana menjadi terasa ribet. Tidak perlu melihat status sosial yang kita sandang. Sebab barangkali di tempat kita, kita menjadi seorang Kyai tapi sampai terminal kita ini siapa?. Jika di kantor kita menjadi bos, maka siapa kita kala di pasar?

Dalam berpakaian, kita juga semestinya lebih menekankan tujuan dari berpakaian itu sendiri. Jangan hanya mengklaim berimamah sebagai sebuah kesunnahan lalu sampai terjebak pada melihat diri, sampai muncul sifat sombong. Sebab jika kita lihat, tujuan dari memakai pakaian diatas mata kaki itu sendiri adalah juga untuk mengikis kesombongan, namun jika menerapkan itu justru malah memunculkan kesombongan ini yang tidak tepat.

Jadilah pribadi yang gampangan, gampangan dikala berjualan, gampangan dikala membeli, gampangan dikala membayar hutang, gampangan dikala menagih hutang, dll. Sebab Allah akan mengasihi mereka.

Dalam berbicara kita semestinya berhati-hati sebab semua akan ditutut pertanggung jawaban. Amal lisan adalah berbicara. Ada malaikat yang siaga mengawasi yang tak pernah absen. Jika tak hati-hati bisa jadi seseorang jatuh ke jurang neraka penyebabnya tiada lain adalah lisan. Nabi dikala berbicara seringkali terlihat mengangkat pandangannya ke atas, kenapa? Sebab ia menunggu wahyu yang diturunkan Allah. Beliau tak berbicara melainkan adalah wahyu yang di wahyukan.

Berbicara juga sepatutnya diusahakan yang jelas dan pelan. Jangan ‘nggremeng’. Jangan ngotot. Tapi tentang satu ini memang sudah produk dari sana (ashlul khilqoh). Ya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Akan tetapi semestinya diusahakan agar yang mendengarkan paham dengan apa yang kita maksud. Nabi sendiri begitu jelasnya menyampaikan, sampai banyak wanita yang hafal banyak ayat al-Qur’an hanya dengan mendengarkan Rasul dari rumah sedang khutbah jum’at.

Wallahu ta’ala a’lam

Taklim Pagi