3 POKOK DASAR PENDIDIKAN ISLAM

CAHAYA FAJAR | TILAWAH, TAZKIYAH DAN TAKLIM : 3 POKOK DASAR PENDIDIKAN ISLAM

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Kemuliaan manusia adalah sebab ilmu. Hal inilah yang dikaruniakan oleh Allah swt kepada manusia semenjak awal penciptaannya sebagai jawaban atas protes dan penolakan malaikat terhadap rencana Allah swt saat akan mencipta manusia. Sehingga Allah swt tunjukkan kehebatanNya bahwa mahkluk baru yang akan dicipta ini memiliki kelebihan daripada makhluk lainnya yaitu ilmu, berupa pengenalan atas nama-nama.

Ilmu adalah modal dasar seorang manusia menjadi mulia. Namun ilmu tidak serta merta menjadikan seseorang berada dalam derajat kemuliaan manakala tidak dibarengi dengan pendidikan. Pendidikan ibarat alat untuk memandu agar ilmu dapat termanfaatkan dengan baik, oleh orang yang baik dengan cara yang baik. Ibarat pisau, awal dasarnya adalah baik yaitu berfungsi untuk memotong. Namun manakala salah dalam mengarahkannya serta diberikan pada orang yang salah tentu akan disalah fungsikan. Maka pisau di tangan seorang juru masak akan dapat dipergunakan untuk memotong buah atau kue sehingga dapat memberikan banyak kemanfaatan pada orang lain, namun jika pisau tersebut akan menjadi alat untuk membunuh orang jika berada di tangan perampok atau pembunuh. Plato mengatakan : “ilmu yang disertai dengan pendidikan yang buruk, lebih berbahaya dibanding dengan kebodohan yang tidak disertai dengan pendidikan yang buruk”.

Suatu kebaikan akan berubah menjadi keburukan manakala pendidikan yang dilalui adalah buruk. Seorang anak yang pada awalnya adalah fitrah, suci, baik dan potensial akan berubah menjadi buruk, jahat dan tercela manakala melalui proses pendidikan yang buruk. Sehingga pendidikan adalah cara menjadikan ilmu mampu menjadi jalan kebaikan dan kemuliaan. Pendidikan adalah berasal dari kata mendidik atau dalam bahasa Arab, pendidikan adalah tarbiyah, yang berasal dari kata -robbaba-robba-yurobbii- yang artinya memperbaiki sesuatu dan meluruskannya atau sesuatu yang dilakukan secara bertahap dan sedikit demi sedikit oleh seorang pendidik.

Kata robbaba ini pada derivasinya juga menjadi kata rabbun, yang berarti pengasuhan, penguasa, pemelihara dan sebagainya. Selain daripada itu, ia mencakup banyak arti, yaitu Kekuasaan, Perlengkapan, Pertanggungjawaban, Perbaikan, Penyempurnaan dan sebagainya. Sebab itu, maka kata tersebut merupakan suatu prediket bagi suatu kebesaran, keagungan, kekuasaan dan kepemimpinan. Kata Rabbun bisa bermakna Tuhan, rabbul aalamiin, artinya Tuhan Penguasa Alam. Sehingga kata tarbiyah (pendidikan) sejatinya adalah merupakan suatu tindakan yang dilakukan untuk membimbing dan mendidik manusia pada jalan kebaikan sehingga mampu menemukan jalan ketuhanan serta mampu mempraktekkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupannya. Praktek nilai ketuhanan dalam realitas interaksi kemanusiaan itulah yang disebut dengan adab atau akhlaq karimah (perilaku mulia).

Hal ini memberikan sebuah pengertian bahwa pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh manusia untuk mengarahkan manusia lainnya pada nilai-nilai ketuhanan. Sehingga pendidikan tentu akan berbeda dengan semata pengajaran. Sebab mengajar adalah tindakan atau aktifitas untuk mentransfer pengetahuan kepada orang lain. Sementara mendidik adalah mengarahkan dengan penuh tanggungjawab disertai kesungguhan dengan jiwa kepemimpinan untuk menjadikan manusia memiliki nilai-nilai ketuhanan sehingga menghasilkan akhlaqul karimah.

Artinya proses pendidikan haruslah mampu mengarahkan para peserta didik menjadi manusia dengan perilaku yang mulia, beradab dan berakhlaqul karimah serta mampu mempraktekkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan kemanusiaan. Hal inilah yang dilakukan oleh Rasulullah saw dalam mendidik para sahabatnya menjadi pribadi yang benar-benar baru. Betapa banyak para sahabat sebelum masuk islam adalah pribadi yang jauh dari cahaya kebaikan, temperamental, pemabuk, pembunuh dan sebagainya. Lihatlah sahabar Umar bin khattab, ammar bin yasir, abu sufyan dan sebagainya. Namun disaat telah berinteraksi dengan Islam semua perilaku itu berubah. Bahkan Rasulullah sendiri turun tangan untuk mendidik para sahabatnya sehingga mampu menjadi pribadi yang hebat, keyakinan kuat, loyalitas tinggi, dengan perilaku akhlaq yang mulia. Lalu apa yang dilakukan oleh Nabi hingga mampu membuat para sahabat dapat berubah menjadi pribadi yang benar-benar baru.

Ternyata Allah swt membocorkan rahasia sukses pendidikan ala nabi (prophetic education) terhadap para sahabatnya, yaitu sebagaimana terangkum dalam teks sumber wahyu firman Allah swt :

لَقَدۡ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ بَعَثَ فِيهِمۡ رَسُولٗا مِّنۡ أَنفُسِهِمۡ يَتۡلُواْ عَلَيۡهِمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمۡ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَإِن كَانُواْ مِن قَبۡلُ لَفِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٍ

Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang Rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (QS. Ali ‘Imran, Ayat 164)

Berdasar teks ayat diatas, terdapat tiga hal pokok yang menjadi dasar utama dalam komunikasi pendidikan nabi (prophetic) dalam mendidik para sahabatnya, yaitu, pertama, yatluu alaihim ayaatihi, membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, atau dikenal dengan konsep tilawah. Kedua, wa yuzakkiihim, menyucikan jiwa mereka atau dikenal dengan konsep Tazkiyah. Ketiga, wa yu’allimuhumul kitaaba wal hikmah, mengajarkan kepada mereka kitab dan al hikmah, atau dikenal dengan konsep Taklim.

Ketiga konsep ini memiliki cara pendekatan dan metode yang berbeda-beda. Pada konsep propetik yang pertama, adalah Tilawah. Yaitu menanamkan keyakinan melalui pembacaan ayat-ayat kauniyah (fakta empirik) dan ayat-ayat qauliyah (argumentasi wahyu). Hal ini dilakukan untuk membangun cara berpikir yang jelas, benar dan logika yang kokoh dan kuat.

Model komunikasi pendidikan dalam konsep ini adalah seorang guru menggunakan kemampuan membaca para murid atau audiensnya para pembelajar untuk membaca berbagai referensi, meresume, menganalisis serta mendiskusikannya sehingga mampu menemukan berbagai rahasia ilmu di balik proses mereka membaca itu. Membaca bisa pula bermakna melakukan riset, penelitian, pengamatan dan penelaahan atas berbagai realitas empirik. Keterlibatan peserta didik dalam realitas baik melalui observasi dan partisipasi lapangan akan membuat para peserta didik semakin memahami lebih detail serta dekat dengan realitas. Cara ini dapat pula dikenal dengan istilah experiential learning, learning by doing, problem based learning dan sebagainya.

Intinya adalah adanya keterlibatan peserta didik dalam realitas empirik dan tujuan akhir dari aktivitas ini adalah tertanamnya suatu keyakinan dan pola pikir (aqidah) berdasar fakta-fakta empirik (kauniyah) dan fakta argumentatif wahyu (qauliyah) sehingga melahirkan keyakinan yang kokoh dan tidak mudah tergoyahka. Sehingga lahirlah para kader sahabat seperti Ammar bin Yasir yang tidak goyah imannya sekalipun orang tuanya dibunuh di depan matanya, serta Bilal bin rabah yang tetap teguh keyakinannya sekalipun disiksa di terik panas matahari padang pasir.

Konsep propetik yang kedua adalah tazkiyah. Yaitu mengajak para peserta didik untuk melakukan perenungan dan pembacaan mendalam atas dirinya. Hal ini bersifat kontemplatif dan introspektif. Jika pada tilawah, potensi yang paling banyak digunakan adalah potensi rasionalitasnya, fisik inderawi. Maka potensi dasar yang dilakukan dalam pendekatan ini adalah potensi hati dan perasaan. Kemampuan untuk melakukan tazkiyah atau pensucian diri adalah dengan melakukan perenungan untuk evaluasi diri atas apa yang telah dilakukannya selama ini kemudian hal ini dijadikan landasan untuk menyusun sikap masa depan dengan menjadikan sumber wahyu (alquran) sebagai sarana untuk pengingat diri.

Tujuan dari metode tazkiyah ini diarahkan untuk membentuk pribadi muslim yang tangguh, beradab, berakhlaq mulia serta memiliki hati yang bersih jauh dari berbagai penyakit, sehingga mampu melihat berbagai persoalan realitas secara jernih, tenang dan bijaksana melalui komunikasi vertikal (transenden ketuhanan) yang baik serta hubungan kemanusiaan (komunikasi sosial) yang harmonis. Untuk mencapai konsep ini maka metode yang digunakan oleh para pendidik adalah dengan mengajak para peserta didik untuk banyak merenung, instropeksi dengan menggunakan potensi hati dan perasaannya dalam memahami realitas. Maka agar hati dapat mudah dalam memahami realitas maka hati perlu dihidupkan dengan dzikir, doa dan banyak ibadah serta instropektif (muhasabah)

Konsep profetik ketiga dalam pendidikan adalah Taklim. Yaitu memberikan wawasan keilmuwan melalui pengajaran dan pemahaman atas isi kandungan alquran serta disiplin ilmu hikmah (sunnah nabi) melalui pembacaan realitas keagamaan maupun ilmu pengetahuan dan alam semesta (iptek). Artinya pada metode ini lebih banyak pada pemberian wawasan keilmu kepada para pembelajar, baik dengan penguatan ilmu alat seperti bahasa, tafsir, hadits, ushul fiqh, ekonomi, sosial, politik dan ilmu alat serta ilmu alam lainnya agar pembelajar memiliki kemampuan yang kompleks. Inilah yang disebut dengan tsaqofah atau penguatan wawasan.

Ketiga hal pokok itulah yang menjadi dasar dalam komunikasi pendidikan profetik untuk membangun konstruksi berpikir dan wawasan serta memberikan landasan pemahaman dalam konsep pendidikan yang baik untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 8.01.2020
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com

🙏 AYO SHARE DAN VIRALKAN KEBAIKAN