Ekspresikan Syukurmu!

Oleh | Shabieq El Himam
(Alumni santri Ma’had Nurul Haromain Pujon Malang, saat ini melanjutkan studi ke Al-Azhar Mesir)

Seperti yang sudah dimengerti bersama, bahwa sebagai muslim kita memang musti memiliki dua sayap yang dengannya kita bisa terbang menuju kesuksesan hidup didunia dan akhirat. Dua sayap tadi, tiada lain adalah sabar dan syukur.

Di coretan ini, ayo sedikit kita bahas hal terkait dengan syukur, apa sih yang dinamakan syukur? Nah, syukur itu tidak seperti yang kebanyakan orang pahami, yaitu terkait erat dengan besar pemberian, tapi syukur itu lebih melihat kepada siapa zat yang memberikan nikmat, bukan melihat nikmat itu sendiri. Jadi ibarat orang cuma dikasih sapu tangan saja, tapi ia akan simpan sapu tangan itu sebab si pemberi adalah kekasihnya. Maka apapun yang diberi Allah, kita akan senantiasa memakai dan merawatnya semaksimal mungkin sebab kita lebih melihat Allah Sang kekasih, zat yang memberikan nikmat tadi pada kita.

Lalu bagaimana cara kita buat bersyukur?, yakni adalah dengan mengerti bahwa yang memberikan nikmat itu adalah Allah, kemudian kita merasa bahagia dengannya dan menunjukkan bekas nikmat itu pada orang-orang dengan mengekpresikannya dengan melakukan sesuatu. Salah satu dari ekspresi syukur itu adalah dengan mengucapkan hamdalah di setiap hembusan nikmat yang kita rasakan, alhamdulillahirobbil alamin.. meski barangkali nikmat itu hanya sedikit, seseorang yang biasanya mendapat uang 1juta perhari tapi disuatu saat ia hanya mendapat 100ribu lantas ia mengekspresikanya dengan ucapan alhamdulillah masyaAlloh la quwwata illa billah, berarti ia telah bersyukur. Sebab dengan inilah manusia bisa mengawal lisannya, memproteksinya dari ucapan ‘lho’ atau apapun yang mencerminkan ketidaksyukuran.

Ekspresi syukur nikmat itu bisa tercermin dengan ragam hal menurut nikmat apa yang seseorang peroleh.

Seseorang yang banyak harta mengekspresikan syukurnya dengan kasih sayang dan berinfaq, baik itu kepada diri sendiri, keluarga, atau orang lain. Seorang yang kaya, tidak sepantasnya sampai bakhil baik kepada diri sendiri ataupun orang lain, tidak masalah membeli rumah dan mobil atau apapun yang bagus, yang penting tunjukkan bahwa semua itu dari Allah, kurnia Allah, hadza min fadli Robbi, seperti kata Nabi Sulaiman, jangan pernah beranggapan bahwa semua itu diperoleh dari usahanya sendiri, seperti ungkapan Qarun ‘aku diberi ini semua berkat ilmu yang aku punya’, yang penting lagi adalah kita cinta dunia bukan untuk dunia tapi semata untuk kepentingan akhirat. Seperti apa yang telah difirmankan Allah dalam alquran surat al Qashas ayat 77:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Berbuat baik disini berarti kita tidak diperbolehkan untuk berlaku bakhil, kikir kepada manusia. Nikmati nikmat yang ada untuk kepentingan akhirat dengan kita berbuat baik. Terkait dengan kehidupan Rasulullah, kita mengerti, tidak ada orang yang lebih kaya ketimbang Rasulullah, tapi Rasulullah lebih memilih kehidupan orang miskin secara ikhtiary. Rasulullah tidak pernah menyimpan makanan
untuk esok hari, pernah suatu saat Rasulullah mendapatkan sekarung emas yang saking banyaknya sampai tidak kuat diangkat oleh pamannya, dihari itu juga emas yang banyak itu habis dibagi-bagikan kepada orang-orang. Beliau juga sering berdoa, Ya Allah hidupkan aku dengan
kondisi miskin, wafatkan aku dengan kondisi
miskin dan kumpulkan aku bersama orang-orang miskin. Kalau terkait hal itu, itu sudah sampai tingkat ‘maqam’, tidak seperti kita yang masih ditingkat ‘hal’.

Ekspresi syukur orang yang diberi ilmu adalah dengan mau menyampaikan ilmunya kepada orang lain, menyebarkannya kepada siapapun yang membutuhkan, dimanapun dan kapanpun. Jika dulu dikatakan oleh Imam Malik, ilmu itu dihampiri bukan menghampiri, maka sepertinya jika itu diterapkan di zaman sekarang yang
banyak orang tidak lagi tertarik dengan ilmu maka tidak akan relevan, sehingga akan lebih indah jika orang yang berilmu menyediakan diri untuk jemput bola, dari pada hanya menunggu.

Ekspresi syukur seorang pejabat, adalah dengan sikapnya yang lemah lembut, adil, melakukan hal yang tidak merugikan rakyat serta tidak melakukan kezhaliman.

Akhir coretan, yuk, ekspresikan kesyukuran kita pada Allah sebab Rasulullah telah bersabda, “sesungguhnya Allah taala senang nikmatnya terlihat berbekas pada hambanya”, semoga kita bisa dimudahkan untuk memproses diri menjadi orang yang bersyukur. amiin

Wallahu yatawallal jami’a biriayatih.