Membersamai Yang Dicinta

#BersamaSangMurobbi-Seri

Nadia Fillah – Yogyakarta Mahasiswa Manajemen Perbankan Syariah
Alumni Santri Putri Nurul Haromain
Reporter & Announcer MQ FM, Ketua Rescom, Ketua FRMK

Jauh di Raga, Dekat di Hati

Terdengar agak lebay saat saya menangis ketika akan boyong dari pondok, dan meneruskan kuliah di Jogja. Rasa hati berpamitan dengan Abina sangat berat. Bagaimanapun agak sulit move on dari lingkungan yang kondusif untuk beribadah, dan bersiap menghadapi lingkungan yang belum saya tahu.

Bagi saya, Abi seperti ayah kandung. Bahkan mungkin lebih. Rasa berat saya agak terangkat ketika Abi menyampaikan, “Kita jauh di raga, yang penting dekat di hati.”

Mungkin terdengar seperti kalimat dalam film nuansa-nuansa cinta long distance relation. Tapi bagi saya, yang terpenting sebelum pergi adalah keyakinan bahwa sosok yang saya tinggalkan adalah sosok Guru yang tidak pernah berhenti peduli karena jarak. Sosok Guru yang juga ingin nyambung dengan muridnya.

“Ojo sungkan SMS aku,” pesan beliau. Jangan sungkan SMS saya. Waktu itu belum booming zaman whatsapp. “Kalau mau telepon, bilang. Nanti Abi yang telepon.” Entah mungkin Abi tahu memang mahasiswa biasanya limited kuota dan pulsa.

Hal kecil. Tetapi, kalimat-kalimat tersebut mampu meyakinkan, jika suatu hari ingin mengirim pesan atau hanya sekedar menanyakan kabar Abina, tidak perlu sungkan hal itu mengganggu (asal kita tahu waktu). Sebab seorang Guru, selalu bahagia ketika muridnya memiliki niat untuk selalu sambung dan wafa’.

Berdekat dekat dengan ulama, ada nikmat iman yang tidak terkata, dan selalu terdapat pelajaran-pelajaran yang tak cukup diwakili oleh kata-kata. Terkadang, memang Allah menyembunyikan kekasih-kekasih-Nya di antara riuh amal manusia. Terkadang pula sebagian mereka Allah tampilkan agar hamba-hamba yang lainnya dapat mengambil doanya, mengambil cintanya, serta meneladani amalan shalihnya.

Saya bersyukur Abina Allah tampilkan di depan pendosa seperti saya. Seseorang yang di hari-hari berikutnya menyadarkan, betapa cinta seorang Guru terasa seperti halnya embun pagi. Jernih dan menyejukkan bagi ruh dan jiwa yang kering kerontang. Doanya senantiasa mengalir untuk murid-muridnya, menjadi investasi yang tidak pernah meminta bagi hasilnya di dunia. Tetapi, betapa kita, tidak dapat membalas hal-hal mulia yang telah beliau ajarkan.

Hafizhakallaahu yaa habiiba quluubina, Abina wa murabbi ruuhina K.H. M. Ihya’ Ulumiddin.

(Dinukil dari buku Bersama Sang Murobbi I, terbitan Persyadha Surabaya. Dapatkan kisah-kisah yang lain, yang lebih seru di buku Bersama Sang Murobbi. Ingin buku tersebut kontak Akhina Muji Sampurno 0816-1506-8024, Ukhti Jannah 0877-5419-2725.