TABAYYUN SOLUSI ATAS BENCANA KOMUNIKASI

CAHAYA FAJAR | JAUHI FITNAH (HOAX) : TABAYYUN SOLUSI ATAS BENCANA KOMUNIKASI

oleh | Akhmad Muwafik Saleh

Islam menghendaki realitas interaksi dalam kehidupan manusia berada dalam kebaikan dan kedamaian, intinya kehidupan yang harmonis. Diantara manusia saling menjalankan ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Tuhan, saling kenal mengenal dan saling tolong menolong dalam menjalankan setiap aktifitas kebaikan dan pemenuhan kebutuhan hidupnya sehingga mencapai realitas kehidupan yang berkualitas (taqwa). Demikianlah yang diungkapkan oleh Allah dalam alquran surat al Hujurat ayat 13.

Namun idealitas kehidupan sebagaimana yang diharapkan tentu tidak mudah terwujud karena kehidupan di dunia ini selalu dihadapkan pada dua realitas, baik dan buruk, tunduk taat dan ingkar. Hal ini dikarenakan dalam diri manusia selalu ada tarik menarik dua kekuatan yang diwakili oleh pikiran atau hati yang cenderung menyuarakan fitrah kebaikan dan hawa nafsu yang selalu mengajak pada keburukan. Kedua potensi inilah yang membuat manusia berpeluang berada dalam dua realitas hasil, sukses atau gagal, fujur (kehancuran) atau taqwa (kemuliaan).

Fenomena fitnah adalah bentuk dari komunikasi yang tidak bertanggungjawab atas produksi dan penyebaran suatu pesan atau informasi yang dibuat oleh seseorang yang memiliki kebencian atas diri orang lain dan bermaksud untuk menciptakan kesan negatif untuk orang lain. Inilah bencana komunikasi yang sangat mematikan, karena mampu membunuh manusia secara pelan-pelan dan merusak struktur sosial masyarakat. Fitnah adalah mengatakan hal yang tidak benar atas diri seseorang (hoax) dan disebarkannya pada orang lain dengan harapan ada sebagian orang yang termakan atas informasi tersebut kemudian menyebarkannya pula secara massiv hingga informasi tersebut tak dapat dikontrol dengan maksud menyebarkan kebencian, mencemarkan nama baik, menurunkan harga diri dan menciptakan kesan buruk atau negatif atas seseorang yang dituju.

Karakteristik penyebaran informasi yang bernada fitnah adalah ia akan terus diproduksi oleh orang yang membenci seseorang dan disebarkan dari mulut ke mulut hingga menyebar ke setiap orang yang memiliki kelemahan dalam menyaring informasi. Hal ini akan berdampak buruk para para korban karena orang akan mudah mempercayai berita yang terus diproduksi atau disampaikan kepada khalayak tanpa ada pembelaan dari diri korban sehingga berita bohong itu pada akhirnya akan dianggap sebagai sebuah kebenaran. Pertanyaannya, bagaimana kiranya dampak produksi dan penyebaran berita bohong, hoax atau fitnah jika pesan informasi itu disebarkan melalui melalui media sosial, tentulah akan lebih cepat lagi penyebarannya dan lebih besar pula dampaknya. Untuk itu, Islam sangat melarang keras tindakan keji fitnah ini dengan menyebutkan bahwa keburukan perilaku fitnah lebih berat dari keburukan tindakan membunuh, hal ini menandakan atas beratnya sanksi dan tegasnya larangan perbuatan fitnah, sebagaimana diFirmankan oleh Allah swt :

وَٱقۡتُلُوهُمۡ حَيۡثُ ثَقِفۡتُمُوهُمۡ وَأَخۡرِجُوهُم مِّنۡ حَيۡثُ أَخۡرَجُوكُمۡۚ وَٱلۡفِتۡنَةُ أَشَدُّ مِنَ ٱلۡقَتۡلِۚ وَلَا تُقَٰتِلُوهُمۡ عِندَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَٰتِلُوكُمۡ فِيهِۖ فَإِن قَٰتَلُوكُمۡ فَٱقۡتُلُوهُمۡۗ كَذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلۡكَٰفِرِينَ

Dan bunuhlah mereka di mana kamu temui mereka, dan usirlah mereka dari mana mereka telah mengusir kamu. Dan fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Dan janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. Jika mereka memerangi kamu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang kafir. (QS. Al-Baqarah : 191)

Penyebutan fitnah lebih berat daripada pembunuhan menandakan atas beratnya dosa pelaku fitnah sebab dampak yang diakibatkannya amat besar, sebab tindakan ini selain mengandung unsur kebohongan sekaligus dilakukan secara tidak bertanggungjawab.

Tersebutlah dalam suatu riwayat sebagaimana dijelaskan dengan rinci dalam tafsir ibnu katsir akan peristiwa fitnah dan berita bohong yang menimpa istri Rasulullah saw, ummul mukminin sayyidah Aisyah atas fitnah yang disebar oleh tokoh munafiq saat itu, Abdullah bin ubay bin Salul. Dialah orang yang membuat berita bohong dan menyebarkan isu dusta penuh fitnah tentang diri ummul mukminin yang mulia, sayyidah Aisyah dengan tuduhan keji perselingkuhan. Berita ini disebarkan dengan tidak bertanggungjawab sehingga ada sebagian dari kalangan kaum muslimin yang termakan dan terhasut dengan isu murahan tersebut yang akhirnya menjadi bahan pergunjingan masyarakat Madinah saat itu yang berlanjut hingga hampir 1 bulan lamanya.

Peristiwa itu bermula ketika Rasulullah mengundi para istrinya setiap kali akan bepergian untuk suatu peperangan dan keluarlah nama Sayyidah Aisyah untuk menemani Rasulullah. Berangkatlah beliau bersama Rasulullah dengan menaiki suatu tandu tertutup. Saat ditengah perjalanan kala rombongan sedang berhenti, sayyidah Aisyah keluar tandu untuk memenuhi hajat. Ketika balik ke tandu, ternyata kalung manik-maniknya terjatuh, sehingga beliau mencarinya ketempat hajat tadi hingga terlambat saat kembali ke tandu, sementara rombongan telah meninggalkannya.

Sehingga beliau menunggu ditempat pemberhentian tadi dengan maksud ada yang menjemputnya. Namun ternyata kantuk menyerang dirinya hingga tertidur di tempat tersebut. Tersebutlah Shafwan bin Mu’attal az zakwani terkaget menjumpainya dengan memgucapkan istirja’ (innalillahi wainna ilaihi rojiun)., lalu dia menundukkan kaki depan untanya agar sayyidah Aisyah bisa menaikinya. Seraya menuntun unta kendaraannya hingga sampai di tempat pasukan berada di waktu siang. Peristiwa ini kemudian diputarbalikkan dan disebarkan oleh Abdullah bin ubay bin salul hingga menjadi bahan gunjingan di Madinah. Dengan peristiwa ini mengakibatkan sayyidah Aisyah menderita sakit selama satu bulan lamanya. Dalam sakitnya itu sayyidah Aisyah merasakan sikap Rasulullah yang berbeda seperti biasanya. Dengan peristiwa itu sayyidah Aisyah terus dirundung sedih dan menangis. Peristiwa berita bohong ini telah menjadi suatu fitnah yang berat bagi keluarga Rasulullah saw. Hingga setelah lebih sebulan lamanya diterpa badai fitnah, barulah Allah swt menurunkan berita gembira dengan wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah, yaitu surat an Nur ayat 11 hingga ayat 21 yang membersihkan nama baik sayyidah Aisyah dari berbagai tuduhan berita bohong penuh fitnah itu.

Demikianlah jahatnya fitnah, berita bohong yang diproduksi untuk menjatuhkan nama baik dan martabat kewibawaan seseorang. Sehingga pantaslah Allah swt menyatakan bahwa fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Inilah pembunuhan karakter yang mematikan.

Untuk menangkal penyebaran fitnah atau berita bohong (hoax) tersebut, Islam memberikan sebuah cara mekanisme dalam menerima suatu berita yang tidak jelas kebenarannya agar tidak menjadi bencana komunikasi bagi suatu kaum yaitu dengan konsep Tabayyun. Yaitu melakukan cross check ulang atas kebenaran berita. Hal demikian disebutkan dalam Firman Allah swt :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu. (QS. Al-Hujurat : 6)

Konsep tabayyun memberikan sebuah arahan agar seseorang tidak mudah percaya atas apapun informasi yang menyebar dan sampai kepadanya tanpa menelusuri dengan sungguh-sungguh siapa dan dari mana serta bagaimana tingkat kebenaran informasi yang sedang berkembang dengan mempertimbangkan penilaian beberapa hal : memastikan siapa penyebar berita, apa berita yang disebar, dan kemudian dilakukan silang pengecekan kepada sumber informasi.

Penelitian atas kebenaran berita adalah instrumen penting dalam memastikan kualitas berita atau informasi. Islam menekankan pentingnya riset komunikasi yang kredibel dan berkualitas serta valid, itulah yang disebut proses tabayyun sebagai mekanisme untuk menyelesaikan bencana komunikasi yang diakibatkan oleh kekurangtelitian dan kecerobohan atau rendahnya selektifitas atas suatu berita atau informasi yang berkembang. Dengan menggunakan metode riset atau tabayyun ini diharapkan dapat mencegah terjadinya bencana komunikasi yang lebih luas lagi. Inilah mekanisme ilahi dalam menyelesaikan persoalan komunikasi dalam masyarakat manusia yang dinamis. Wallahu a’lam

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 2.12.2019
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com