Catat Hutangmu, Atasi Asertif-mu

CAHAYA FAJAR | CATAT HUTANG-MU, ATASI ASERTIF-MU
oleh | AMS

Setiap orang pasti memiliki kebutuhan dan keinginan. Terlebih disaat seseorang dituntut dalam memenuhi gaya hidupnya (life style). Bahkan adalah sebuah keniscayaan sejarah dan realitas bahwa gaya hidup (life style) yang awalnya sekunder bahkan tersier namun pada zaman mutakhir ini telah menjadi sesuatu yang lebih utama daripada kebutuhan primer lainnya. Gaya hidup dan penampilan pada masyarakat modern seakan menjadi hal yang lebih penting daripada sekedar terpenuhinya kebutuhan dasar. Seseorang rela tidak makan namun mereka tidak rela jika smartphone nya tidak ada pulsa karena tidak bisa berinteraksi dengan orang lain dengan berbagai medsosnya.

Dalam memenuhi kebutuhan dan keinginannya ada seseorang yang dapat mewujudkannya dengan cara mudah dan mandiri, namun ada pula yang kesulitan untuk mewujudkannya. Disaat ada keterbatasan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan tersebut maka jalan yang ditempuh adalah dengan berhutang. Bahkan ditengarai banyak seseorang yang berusaha mengembangkan usahanya dengan melalui cara berhutang.

Hutang merupakan sesuatu yang sensitif dalam hubungan manusia. Sebab sekalipun berhutang itu diperbolehkan oleh agama namun memiliki dampak yang kurang baik dalam hubungan kemanusiaan. Seseorang yang berhutang akan merasa memiliki tingkat assertive (ketegasan) yang lebih rendah terhadap pihak pemberi hutang (piutang). Sehingga akan menurunkan daya kritis, keberanian untuk mengatakan kebenaran, termasuk dalam mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkannya terhadap orang lain terlebih kepada si pemberi hutang, istilah lainnya sungkan. Jika pada awalnya komunikasi asertif dilandasi oleh kesetaraan yaitu semua pihak berkomunikasi secara equal atau sejajar dengan kesempatan yang sama dalam mengungkapkan pikiran dan perasaannya dengan sama-sama menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain, namun saat seseorang berhutang maka posisi equal dan asertif tersebut menjadi hilang atau terhambat.

Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah riwayat hadist tentang seorang yang menagih hutang dengan merendahkan orang lain (secara asertif). Dari Ibnu Syihab telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Ka’b bin Malik dia mengabarkan dari Ayahnya, bahwa pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dirinya pernah menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad di masjid, suara mereka berdua sangat keras sehingga terdengar oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang berada di rumahnya, lantas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar menemui keduanya hingga tirai kamarnya tersingkap. Beliau kemudian memanggil Ka’ab bin Malik, beliau bersabda: “Wahai Ka’ab.” Dia menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Kemudian beliau mengisyaratkan dengan tangannya (untuk membebaskan separuh dari hutangnya): “Bebaskanlah separuh dari hutangmu.” Ka’ab pun menjawab, “Saya telah melakukannya wahai Rasulullah.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda (kepada Ibnu Abu Hadrada): “Berdiri dan bayarlah.” Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Utsman bin Umar telah mengabarkan kepada kami Yunus dari Az Zuhri dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik bahwa Ka’ab bin Malik telah mengabarkannya, bahwa dia pernah menagih hutang kepada Ibnu Abu Hadrad, seperti hadits Ibnu Wahb.” Muslim berkata; Laits bin Sa’ad juga telah meriwayatkan; telah menceritakan kepadaku Ja’far bin Rabi’ah dari Abdurrahman bin Hurmuz dari Abdullah bin Ka’ab bin Malik dari Ka’ab bin Malik, bahwa dia memiliki harta yang masih berada pada Abdullah bin Abu Hadrad Al Aslami, lantas dia menemuinya hingga terjadilah pembiacaraan di antara keduanya, sampai suaranya meninggi. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewatinya dan bersabda: “Wahai Ka’ab!” Lalu beliau mengisyaratkan dengan tangannya seakan-akan beliau mengatakan: “Bebaskanlah setengahnya.” Kemudian Ka’ab mengambil yang setengahnya dan membebaskan yang setengah.” (HR. Muslim. No. 2912)

Demikian pula dalam sebuah riwayat yang lain, dari Abu Hurairah dia berkata, “Seorang laki-laki pernah menagih hutang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan cara kasar, sehingga menjadikan para sahabat tidak senang. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda: “Sesungguhnya orang yang berpiutang berhak untuk menagih.” Kemudian beliau bersabda: “Belikanlah dia seekor unta muda, kemudian berikan kepadanya.” Kata para sahabat, “Sesungguhnya kami tidak mendapatkan unta yang muda, yang ada adalah unta dewasa dan lebih bagus daripada untanya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Belilah, lalu berikanlah kepadanya. Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi hutang.” (HR. Muslim no. 3003)

Untuk itu sekalipun hutang diperbolehkan dalam islam maka lebih baik dihindari karena dalam praktek berhutang akan memunculkan beberapa fenomena komunikasi berikut:
1. Berpeluang seseorang untuk berbohong. Sebagaimana sabda Nabi:

حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ أَبِي الْأَخْضَرِ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ. أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ فِي صَلَاتِهِ مِنْ الْمَغْرَمِ وَالْمَأْثَمِ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَكْثَرَ مَا تَعَوَّذُ مِنْ الْمَغْرَمِ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ

Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Shalih bin Abi Al Ahdhar dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Syihab dari Urwah dari Aisyah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada Allah dalam shalatnya dari hutang dan gangguan kejahatan. Kemudian ada seseorang bertanya; “Wahai Rasulullah! kenapa engkau memperbanyak berlindung dari hutang.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya seseorang jika ia berhutang maka ia akan bercerita, berbohong, dan apabila ia berjanji maka ia mengingkarinya.” (HR. Abu Dawud).

3. Jika ada niat keinginan untuk tidak melunasi akan dihukumi selayaknya pencuri. Nabi bersabda:

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدِينُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لَا يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا

Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (H. R. Ibnu Majah).

Demikian pula bahwa sesungguhnya berhutang adalah menjadi beban bagi pelakunya. Namun dalam realitas terkini seakan berhutang telah menjadi bagian dari gaya hidup yang tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat modern. Misal melalui kepemilikan kartu kredit, pembelian berbagai fasilitas hidup (rumah, kendaraan dan lainnya) melalui cara kredit dan sebagainya. Padahal hutang itu menjadi beban dan penghalang bagi keberkahan kehidupan baik di dunia maupun kelak di akhirat. Sebagaimana beberapa hadist sabda Nabi berikut :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad SAW bersabda : “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (H.R. Ibnu Majah)

وَيَغْفِرُ لِشَهِيدِ الْبَرِّ الذُّنُوبَ كُلَّهَا إِلَّا الدَّيْنَ

Semua dosa orang yang mati syahid (di daratan) Akan diampuni (oleh Allah), kecuali hutangnya.” (HR. Muslim).

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ وَأَبَانُ قَالَا حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ سَالِمٍ عَنْ مَعْدَانَ عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلَاثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ الْكِبْرِ وَالدَّيْنِ وَالْغُلُولِ

Telah menceritakan kepada kami ‘Affan telah bercerita kepada kami Hammam dan Aban keduanya berkata; Telah bercerita kepada kami Qotadah dari Salim dari Ma’dan dari Tsauban dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Barangsiapa yang nyawanya meninggalkan raganya dan ia terbebas dari tiga (hal) maka ia masuk surga; kesombongan, hutang dan pengkhianatan.” (HR. Ahmad).

Sekalipun Islam membolehkan berhutang namun menganjurkan untuk menghindari. Untuk itu agar tetap terjaga pola hubungan antar individu serta tetap terjalin komunikasi yang baik maka Islam menetapkan beberapa etika dalam berhutang. Yaitu bahwa setiap orang yang berhutang wajib dibayar dan bagi si pemberi hutang wajib pula untuk mengingatkannya atau menagihnya dengan cara yang baik, bijak dan santun.

Karena itulah maka apabila seseorang tidak bisa menghindari berhutang maka islam mengajarkan beberapa etika dalam memenuhi kebutuhan selain berhutang agar komunikasi dan pola interaksi selanjutnya tetap berlangsung dengan baik diantara mereka yaitu, pertama, islam memberikan suatu alternatif solusi agar pola hubungan tetap equal yaitu dengan cara gadai. Sebagaimana dikisahkan dalam sebuah riwayat:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ
تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلَاثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ أَخَذَهُ طَعَامًا لِأَهْلِهِ

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggal dunia, sementara baju besinya tergadai di tangan seorang yahudi, dengan harga tiga puluh sha’ gandum, beliau (gadaikan) untuk memberi makan keluarga beliau. ( HR. Ahmad no. 3234)

Kedua, adalah dalam berhutang hendaklah ditulis atau dicatat agar setiap orang merasa dapat bertanggungjawab. Si pemberi hutang percaya dan mudah dalam mengingat atas hutang yang diberikan, demikian pula bagi si pelaku hutang. Berdasarkan Firman Allah swt.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُمْ بِدَيْنٍ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar” (QS. Al Baqarah: 282).

Anjuran mencatatkan hutang adalah cara yang efektif dalam mengelola komunikasi antar individu dengan membangun landasan saling percaya dan profesional. Sehingga setiap orang dapat bertanggungjawab atas janjinya dan mengurangi rasa prasangka negatif antar pihak yang nantinya akan menyebabkan proses interaksi dan hubungan komunikasi antar mereka menjadi rusak dan disharmoni.

Inilah indahnya Islam dalam mengatur hubungan antar manusia agar kehidupannya berada dalam kebahagiaan dan ketentraman. Inilah islam rahmatan lil alamiin.

————————————————–
by : Akhmad Muwafik Saleh. 13.11.2019
————————————————–
🍀🌼🌹☘🌷🍃🍂❤🌼☘

#pesantrenmahasiswa
#tanwiralafkar
#sentradakwah
#pesantrenleadership
#motivatornasional
#penulis_buku_hatinurani

Klik web kami :
www.insandinami.com

🙏 AYO SHARE DAN VIRALKAN KEBAIKAN